Strategi Yamaha dan Honda: Licik Tapi Cerdas

Advertisement

Motorisblog.com – Strategi Yamaha dan Honda – Om Bro!! Bicara soal persaingan Honda vs Yamaha memang tak ada habisnya, baik dalam hal penjualan motor komersil atau pun persaingan di arena balap MotoGP.

Advertisement

Bahkan di dunia periklanan pun dua merk ini dulunya kerap saling sindir untuk membuat iklannya lebih mengena di hati calon konsumen.

Tapi itu iklan-iklan dulu, pada masa sebelum tahun 2010 dan beberapa waktu setelahnya.

Ada satu hal kecil yang cukup menarik buat Mtb. Hal yang mungkin tidak diketahui atau tidak di perhatikan oleh kebanyakan pengguna motor di tanah air ini.

Begini Om… Jika Om Bro perhatikan baik-baik, setiap produk dari 2 pabrikan Yamaha dan Honda ini selalu saja ada kesenjangan dalam kapasitas silinder. Maksudnya adalah kesenjangan pada produk yang selevel.

Contohnya begini:

Yamaha Byson dan Honda New Mega pro 150 adalah produk motor jenis naked sport yang sama-sama di klaim memiliki volume silinder sebesar 150cc. Tapi jika Om Bro perhatikan baik-baik data teknisnya, sebenarnya volume silinder keduanya beda lumayan banyak.

Byson (karbu) berkubikasi 153cc, sementara itu New Megapro (karbu) hanya memiliki volume silinder sebesar 149,5cc.

Lalu apanya yang menarik??

Yang menarik adalah mobil derek. Wkwkwkwk…

Yang menarik adalah klaim masing-masing pabrikan yang begini:

  • Honda selalu mengklaim produknya irit
  • Yamaha selalu mengkalim produknya kencang

Ya jelas, lah wong kapasitas silindernya aja gedean Yamaha. Jadi walaupun urusan irit dan kencang itu berkaitan dengan banyak hal, tapi setidaknya kapasitas silinder itu saja sudah menjadi pondasi dasar dari klaim kedua brand besar tersebut.

Kenapa kubikasi mesin mereka selalu dibuat beda??

Sederhananya: karena jika kapasitas silindernya sama persis, pasti para insinyur di dua perusahaan itu harus bekerja ekstra untuk mendapatkan ramuan yang pas dengan target klaimnya masing-masing.

Masuk akal kan Om??

Sekarang kita bahas detailnya satu perdua.

Wkwkwkwk… Maksudnya satu persatu.

Strategi Yamaha dan Honda

Klaim Irit pada Motor Honda

Sejak awal kiprahnya di dunia persilatan roda dua tanah air, Honda selalu memamerkan keiritannya dalam hal konsumsi bahan bakar.

Dan gaya itu masih tetap di pertahankan sampai sekarang.

Memang pada saat Yamaha masih konsisten dengan produk 2-tak, langkah Honda seakan tanpa sandungan sedikitpun. Honda menang mutlak karena motor 2-tak di masa itu pasti lebih boros dibanding motor 4-tak.

Tapi itu dulu.

Sekarang hal itu sudah tidak menjadi bahasan penting lagi. Irit dan boros dari dua produk yang sebanding hanya akan menghasilkan perbedaan konsumsi bensin sebanyak 1 sendok teh per sekian km. Tidak akan signifikan.

Lalu untuk apa sampai sekarang Honda masih mengklaim produknya lebih irit??

Entahlah. Hanya Alloh dan para petinggi Honda yang tahu. Yang pasti sih Honda tetap pada caranya sendiri, yaitu membuat kapasitas silinder di bawah angka yang diklaimkan. Misale saja jajaran Beat Series yang sebenarnya hanya 108,2cc; mereka klaim sebagai 110cc.

Advertisement

Iya meskipun Yamaha juga pada beberapa produknya pun berlaku demikian, tapi tetap saja kubikasi mesin Yamaha cenderung dibuat lebih besar.

Contoh kecilnya saja sekarang, jajaran skutik entry level Yamaha sudah berada di kubikasi 125cc, sementara Honda masih bertahan di 110cc.

Klaim Kencang pada Motor Yamaha

Sejak awal karirnya di dunia bebek 4-tak, Yamaha telah mencetak Crypton dengan kapasitas silinder sebesar 101,8cc, bahkan kemudian dinaikkan lagi menjadi 102cc. Maka wajar saja jika secara power Yamaha jadi lebih unggul, mengingat Honda Astrea Supra saat itu hanya memiliki kapasitas silinder sebesar 97,1cc.

Honda Supra X 100 tahun 2003

Ditambah lagi Yamaha melengkapi Crypton dengan rem cakram double piston yang saat itu masih sama sekali baru didunia persilatan bebek tanah air.

Pengaplikasian rem cakram dengan piston ganda itu, secara tidak langsung menegaskan bahwa Crypton adalah motor yang kencang sehingga dia membutuhkan rem yang pakem.

Tapi sayangnya, Crypton belum bisa mendongkrak penjualan Yamaha disaat itu. Yamaha baru bisa merangsek naik setelah memproduksi Vega dan Mio dengan di dukung iklan yang sangat meggelitik di jaman itu.

Nah, sberapa besar sih perbedaaan kapasitas silinder Honda dan Yamaha untuk lini produk yang sekelas??

Supaya lebih jelas, Mtb coba sajikan datanya secara sederhana, berikut ini:

Kelas Bebek 100cc

  • Honda pada generasi Astrea Prima, Grand, Impressa, Legenda hingga Revo 100, itu kapasitas mesinnya hanya 97,1cc.
  • Yamaha pada Crypton, Jupiter Burung Jantu dan Vega 100, kapasitas mesinnya 102cc

Kelas Bebek 110cc

  • Honda Absolute Revo kapasitas silindernya 109,1cc
  • Yamaha New Vega R kapasitas silindernya 110,3 cc

Kelas Skutic 110cc

  • Honda Vario dan Beat 108,2cc (gen-karbu)
  • Yamaha Mio 113,7cc… bahkan sekarang 125cc

Kelas Skutik 125cc

  • Honda Vario 124,8cc
  • Yamaha Xeon RC 124,86cc

Kelas Skutik 150cc

Honda Vario 149,3 cc
Honda PCX CBU 152,9cc
Yamaga Aerox 155cc
Yamaha NMax 155cc

Kunci Remote Vario 150 Hilang? Begini Cara Menanganinya…

… dan masih banyak lagi contoh-contoh lain dari lini produk mereka…

Nah Om… Jadi jelas ya… dari mana dasar klaim Honda irit dan Yamaha kencang…

Tapi itu hanya dasarnya… karakter dan setting mesin mereka pun berbeda… sesuai dengan target klaim masing-masing.

Kemudian kalau bagi Mtb sendiri sih soal kencang dan iritnya motor-motor Yamaha dan Honda itu tidak signifikan perbedaannya untuk motor-motor yang sekelas… selama penggunaannya hanya sebatas untuk alat transportasi harian. (Mtb).

Advertisement

15 komentar untuk “Strategi Yamaha dan Honda: Licik Tapi Cerdas”

    1. Iya… padahal itu faham 4-tak vs 2-tak… tapi masih kebawa sampe sekarang udah jaman 4-tak vs 4-tak.

      Selain itu tergantung kelas motornya juga sih mungkin. Nyatanya motor sy Honda Spacy kalo jarak jauh mesinnya udah panas terus kena macet, lama-lama mesinnya malah mati. Bukan malah kenceng. Hi hi hi hi…

    2. WarungBiker.Com

      namanya juga bahasa marketing,. jadi sebisa mungkin membuat image produk yang pas dan mudah diingat konsumen,

    1. Nah itu Om… Kita lihat value per-model-nya aja… jangan liat merk-nya.

      Apalagi sampe jadi fansboy… Waduh…

  1. Wah ini sudah ranah marketing sebenarnya. Masing-masing memang berusaha membangun image sendiri-sendiri. Ketika Honda sudah mengklaim sebagai motor irit, mau gak mau Yamaha harus klaim image yang lain. Kadang-kadang fakta dan faktor teknis tidak begitu penting.

    1. Iya Om… Sampe sekarang di sekitaran sy masih ada anggapan kayak gitu. Padahal sy bilang sih beda iritnya paling satu sendok teh, terus beda kencengnya juga paling beberapa meter aja.

      Ngga akan signifikan untuk motor yang sekelas dan untuk penggunaan harian.

      Untuk urusan motor harian, faktor manusia & cara berkendara-nya yang lebih punya pengaruh pada irit atau kencengnya motor.

      Meski motornya kenceng tapi kalo bangun tidur kesiangan ya telat masuk kerja.

      Meski motornya irit tapi kalo bawa-nya seruntulan ya jadi boros.

      Pokoke ya pilih motor sesuai budget dan kebutuhan dan value yang ditawarkan. Ngga peduli merk-nya ‘H’ atau pun ‘Y’.

  2. Saudara sesama jepun yg mencoba mengelabui rakyat Indonesia lewat seakan2 mereka bersaing, padahal mereka berbagi kue market share.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *