Sejarah Motor Suzuki Bandit: Bukti Kesalahan GSX150

Advertisement

Motorisblog.com – Om Bro! Gegara Suzuki merilis Bandit 150, nama tersebut jadi ramai menjadi perbincangan dunianya bu maya. Pasalnya, sosok GSX150 Bandit yang baru itu menurut banyak mata sama sekali tidak mencerminkan sosok yang angker dan bengis seperti gambaran sejarah motor Suzuki Bandit pada masa lalu.

Advertisement

Om Bro. Sosok Suzuki Bandit sejak awal kemunculannya memang tidak secepat GSX-R series, tidak se-advanced GSX-S, tidak se-retro GS-series, juga tidak se’ekonomis motor skutik entry level.

Dan memang Bandit tercipta bukan untuk memiliki semua kelebihan itu.

Tapi meskipun begitu, sepanjang perjalanannya, Bandit merupakan salah satu motor sport paling berkarakter dari Suzuki.

Sebelumnya (bahkan hingga saat ini), Bandit terkenal sebagai moge bermesin 4 silinder yang sangat tersohor dalam ruang lingkup dunia persilatan roda dua. Bahkan meski sudah berusia uzur, jumlah populasi Bandit 400 masih cukup masif, khususnya dalam kalangan bikers hobi.

Sosok Suzuki Bandit series selama ini identik dengan desain modern retro. Desainnya sederhana, model lampunya bulat, velg’nya palang tiga dengan mesin 4 silinder sejajar. Makanya saat PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) merilis GSX150 Bandit yang karakternya jauh dari generasi lawas, banyak kalangan yang mencibir, meskipun sebagian ada juga yang memberi apresiasi lantaran unsur friendly’nya.

Sejarah Motor Suzuki Bandit

Bandit 400 & 250

Suzuki Bandit 400
Suzuki Bandit 400

Kisah Suzuki Bandit berawal dari versi 400cc dan 250cc yang pertama kali meluncur pada tahun 1989. Perannya saat itu ialah sebagai alternatif dari GSX-R series yang bagi sebagian orang memiliki spesifikasi terlalu tinggi sehingga harganya pun relatif mahal.

Suzuki Bandit 250
Suzuki Bandit 250

Iya. GSX-R memang identik dengan karakter kencang, exciting dan eksotik. Maka model ini mendapat tempat sebagai motor dengan kasta tertinggi dari brand “S”. Karena itulah Suzuki Motor Co., Jepang mengembangkan Bandit sebagai motor yang tetap buas tapi dengan spesifikasi yang lebih rendah dan lebih bersahabat, namun juga tak kalah exciting dari GSX-R series lantaran mesinnya identik.

Suzuki Bandit GSF600, GSF750 & GSF1200

Suzuki Bandit 750
Suzuki Bandit 750

Pada generasi selanjutnya, Suzuki menaikkan Bandit series pada kelas yang lebih tinggi menjadi 600cc, 750cc dan 1200cc, dengan konsep yang tetap sama tapi punya detail berbeda.

Dari sinilah mulainya popularitas Suzuki Bandit sebagai motor berkaspasitas mesin besar.

"<yoastmark

Suzuki merilis Bandit 600 dan Bandit 1200 pada tahun 1995, sementara Bandit 750 rilis pada tahun berikutnya, yaitu 1996.

"<yoastmark

Pada era ini, target pasar Suzuki untuk trah Bandit semakin luas.

Jika pada generasi 400 & 250 wilayah pasarnya hanya untuk lokal Jepang, maka mulai dari kelas 600, 750 dan 1200, marketnya meluas hingga ke pasar ekspor.

Pada era ini, basis mesin Bandit berpaling dari seri GSX ke mesin GSX-F sport tourer.

Secara performa, mesin GSX-F memang lebih inferior dari GSX-R, tapi secara karakter ia justru lebih user friendly.

Secara basis desain, Bandit 600, 750 dan 1200 tetap sama, baik itu pada sektor frame ataupun bagian kaki-kaki. Konsepnya tetap dengam karakter asal Bandit, yakni tetap simple sehingga secara harga tetap lebih rendah dari GSX-R.

Tetap berbeda dan tetap unik dengan khas trah Bandit.

Sejarah Suzuki Bandit dalam Era Millenium

Suzuki Bandit 650
Suzuki Bandit 650

Memasuki millenium kedua (dekade 2000’an), Suzuki memutuskan untuk menghentikan produksi Bandit original pada pabrik Jepang, yakni GSF250 dan GSF400. So, hanya tersisa versi moge’nya saja dalam lini produksi Suzuki.

Dari sini Bandit menjadi lebih populer untuk pasar Eropa karena memang basis marketnya lebih fokus ke pasar ekspor.

Suzuki Bandit 1250
Suzuki Bandit 1250

Pada era ini, Bandit terbagi menjadi 2 versi:

  1. Bandit N (styling Naked)
  2. Bandit S (half fairing tourer)

Pada era ini Suzuki merombak Bandit secara signifikan. Body’nya tak lagi sesederhana Thunder, tapi menjadi lebih modern dengan area buritan lebih tajam demi menghadapi persaingan melawan Honda Hornet dan Yamaha XJ.

Sistem pendinginan oli pun tersingkirkan dari Bandit dan berganti menjadi liquid cooled dengan mesin tetap berkonfigurasi 4 silinder. Bahkan kapasitas mesin pun naik masing-masing 50cc menjadi 650 dan 1250.

Juga secara desain, Bandit seri S mendapatkan penyegaran dengan model half fairing baru.

Update terus berlanjut. Hingga pada tahun 2010, jajaran Suzuki Bandit 1250N dan 1250S kembali mendapatkan update minimalis menjadi lebih sporty dan lebih modern.

Pada tahun ini pula Suzuki memperkenalkan Bandit seri F dengan style full fairing sport tourer untuk beberapa negara.

Mulai dari sini Bandit telah meninggalkan model lampu bulat dan berganti menjadi model lancip. Dan sepertinya kisah ini pula yang menjadi alasan bagi PT Suzuki Indomobil Sales 2W untuk menggunakan headlamp lancip punya Satria F150 pada GSX150 Bandit, meskipun sebetulnya mungkin punya target lebih spesifik dalam rangka menghemat cost produksi.

Akhir Sejarah Motor Suzuki Bandit versi Moge

Seiring waktu, persaingan dunia persilatan roda dua semakin ketat. Keunikan dari karakter Bandit series sepertinya menjadi boomerang bagi Suzuki, yangmana part-part tidak bisa subtitusi dengan seri lain, sehingga cost produksi semakin membengkak.

Mau tak mau akhirnya Suzuki harus menghentikan produksi Bandit 650 dan 1250 menjadi line up terakhir pada tahun 2016 lalu.

Gaya produksi industri sepeda motor modern memaksa semua pabrikan untuk dapat menggunakan satu part bagi banyak tipe motor berbeda, demi kelangsungan minat konsumen atas motor yang mudah dan ekonomis secara perawatan.

Advertisement

Konsep Suzuki Bandit selama ini memang berbeda dari keluarga GSX yang lain.

Persamaan Kisah Bandit dengan Perkembangan Suzuki 2W di Indonesia

Kisah ini bagi Mtb hampir menyerupai perjalanan Suzuki Indonesia, yangmana pada era Shogun series, Suzuki masih menjadi runner up dalam jumlah penjualan, namun kemudian harus bertekuk lutut kepada Yamaha sejak munculnya generasi bebek Vega.

Yup. Motor inovatif Suzuki kalah dari strategi Yamaha sehingga mereka harus bertukar posisi dalam jumlah penjualan produknya dalam area pasar tanah air. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ‘inovasi’ tidak selalu baik jika berjalan dengan cara yang tidak tepat sasaran.

Betul Om. Ada hal yang lebih vital ketimbang perkara inovasi, yakni strategi marketing.

Strategi Marketing Suzuki vs Yamaha

Om Bro generasi 80’an hingga 90’an pastinya tahu bagaimana perjuangan Yamaha dalam menanamkan image bahwa ‘Produk pabrikan garpu tala adalah motor kencang’. Hingga akhirnya pada tahun 2010, Yamaha mampu mencatat angka penjualan tertinggi sepanjang sejarahnya di Indonesia, yakni 4.3 juta unit. Hanya selisih sedikit dari Honda yang saat itu membukukan penjualan sebanyak 4.4 juta unit.

Sayang sekali, sengitnya perang Honda vs Yamaha tidak berlangsung lama lantaran lambat laun konsumen meninggalkan Yamaha dan kembali pada Honda.

Kenapa bisa begitu?

Karena motor-motor Yamaha tidak nyaman. Yamaha keukeuh menggunakan suspensi keras dengan vibrasi mesin yang hot hingga saat ini.

Yamaha hanya melulu mengandalkan rem pakem, akselerasi kencang dan jok empuk. Padahal bukan itu yang menjadi keinginan konsumen tanah air.

Iya Om. Konsumen butuh motor yang nyaman dengan suspensi lembut dan minim getaran.

Tapi ya itulah Yamaha.

Demikian juga dengan Suzuki. Mereka tidak memahami keinginan pasar.

Dulu Suzuki selalu berinovasi pada sektor mesin, padahal pasar minta desain bagus dan fitur lengkap. Bukan menginginkan inovasi mesin.

Motor Inovatif Suzuki

Om Bro yang sudah rada tua pasti tahu bahwa Suzuki Satria RU 120 adalah yang paling powerfull pada kategori bebek semi sport saat itu. Om Bro juga tahu bahwa Shogun adalah pelopor bebek 110cc dan 125cc di Indonesia. Juga dengan Suzuki Spin dan Skywave 125 yang adalah paling dulu menggunakan mesin 125cc pada skutik (untuk brand Jepang di Indonesia).

Singkatnya, Suzuki hampir selalu menggunakan teknologi mesin baru pada setiap produk barunya. Dan ia terlambat menyadari bahwa strategi tersebut gagal untuk pasar bumi pertiwi ini.

Satu persatu jaringan aftersales Suzuki mulai gulung tikar dan jumlah penjualannya semakin menciut.

Suzuki GSX150 Bandit
Suzuki GSX150 Bandit

Suzuki terlambat menerapkan strategi common part demi menunjang kemudahan perawatan simotor.

Salah Nama?

Suzuki salah menamai motor 150cc besutannya dengan kata ‘Bandit’.

Apa salahnya?

Hanya sedikit. Hanya masalah penamaan.

Terlalu berat nama Bandit untuk motor yang tidak benar-benar seperti Bandit.

Suzuki GSX150 Bandit
Suzuki GSX150 Bandit

Lantas, apakah salah ketika Suzuki merubah konsep lampu Bandit dari bulat menjadi lancip?

Tentu saja tidak. Pada dasarnya lampu Bandit yang mengadopsi model bulat (awalnya) karena memang ia terlahir pada akhir dekade 80’an. Era yangmana saat itu desain lampu motor sport pada umumnya memang bulat.

Maka tidak salah ketika Bandit 1250N menggunakan model lampu dan desain yang serba tajam, karena memang zaman telah berubah.

Namun hal itu menjadi suatu nilai minus ketika Suzuki menerapkannya pada GSX150 saat ini. Masa ketika lampu model bulat kembali populer. Apalagi setelah jelas bahwa lampu tajam tersebut adalah limpahan dari rendahnya permintaan pasar Satria F150.

Intinya, sangat boleh common part, tapi jangan pada bagian-bagian yang tampak jelas secara kasat mata.

Silahkan berhemat biaya produksi, tapi jangan pelit terhadap kemauan konsumen.

Wkwkwkwk… Memang serba salah ya? Mengedepankan inovasi, ngga laku. Katanya part susah dan mahal. Sedangkan ketika mau common part, katanya pelit.

Terus musti gimana?

Solusi Marketing Suzuki

Kalau menurut cara pandang Mtb, bukan hanya lini produknya saja yang harus beragam, tapi strategi marketingnya juga harus mendapat genjotan.

Suzuki saat ini punya skutik Address yang konon secara kenyamanan setingkat lebih tinggi dari Honda Beat. Juga punya GSX-R150 dan GSX-S150 yang secara value for money paling recomended di kelasnya.

Tapi kenapa (bahkan seri S) nggak laku?

Nah, itu yang harus mendapat pemikiran secara mendalam. Kenapa bisa produk yang paling recomended ko’ justru menjadi yang paling tidak laku?

Karena brand image’kah?

Pasti. Brand image sangat besar pengaruhnya dalam pandangan masyarakat.

Tapi semua hal itu mestinya bisa bergeser jika Suzuki benar-benar meningkatkan kualitas marketingnya.

Bagaimana dengan jaringan aftersales?

Itu bakalan nyusul. Bengkel-bengkel dan ketersediaan spare part akan naik dengan sendirinya jika jumlah penjualan naik signifikan. (Mtb – Sejarah motor Suzuki Bandit).

Advertisement

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *