Sejarah Motor Honda di Indonesia, Diakui atau Tidak, Desainnya Semakin Bagus!!

Motorisblog.com – Sejarah motor Honda di Indonesia – Om Bro…!! Membaca judulnya, mungkin sebagian dari Om Bro ada yang menganggap Mtb sebagai Fansboy Honda. Tapi tidak!! Mtb bisa jadi Fansboy Honda, bisa jadi Fansboy Yamaha, bisa jadi Fansboy Suzuki, juga bisa jadi Fansboy Kawasaki. Tergantung apa yang dibicarakan.

Jika kita bicara skutik & bebek entry level, Mtb jadi Fansboy Honda. Karena, meskipun dihujat oleh haters, nyatanya skutik & bebek low-end punya Honda memang paling nyaman…

Jika kita bicara skutik 150cc – 155cc, Mtb bisa jadi Fansboy Yamaha berkat adanya Aerox yang “maxi banget” dengan desain super duper sporty dan performa di atas kompetitor.

Juga ketika bicara Bebek Super 150cc, Mtb juga bisa jadi Fansboy Yamaha lantaran MX King yang secara teknis golongan mesinnya paling rendah (SOHC), tapi magnetnya menjadi yang terkuat dalam menarik minat konsumen. Padahal MX King ngga pake iklan-iklan/promo-promo yang muluk-muluk.

Kemudian, jika kita bicara perkara motor sport 150cc, Mtb bisa jadi Fansboy Suzuki lantaran GSX Series miliknya secara performa menjadi yang paling tinggi dikelasnya.

Meskipun secara desain ada banyak cibiran (khususnya Bandit 150), namun bukti mengatakan bahwa Suzuki berani memberikan limiter paling tinggi dikelas ini. So… meski kubikasi mesinnya paling kecil dibanding kompetitor, namun secara nafas, GSX 150 Series menjadi yang terpanjang.

Dan logikanya, Suzuki pasti tidak akan berani menanamkan performa sedemikian tinggi jika tidak disokong dengan kualitas material mesin yang benar-benar mumpuni!! Karena jika maksa (tidak sesuai kualitas material), sudah barang tentu produk-produk Suzuki tersebut akan mengalami kerontokan dini alias ambrol sebelum waktunya. Rusak & remuk sebelum tua.

Dan jika hal itu terjadi, dapat dipastikan penjualan Suzuki akan semakin terpuruk di Indonesia.

So… Mtb fikir, Suzuki tidak akan berani mengambil resiko sebesar itu. Jadi jelas, performa tinggi dari GSX 150 Series telah dibangun diatas bahan material yang sangat kuat (khususnya komponen mesin).

Terakhir, jika kita bicara motor sport 250cc, maka disini Mtb akan menjadi Fansboy Kawasaki. Karena, meskipun secara teknologi Ninja 250 kalah dari CBR250RR, tapi secara nama besar dan kepuasan bathin dimata konsumen, Ninja masih tak terkalahkan. Minat konsumen masih lebih banyak pada Ninja ketimbang CBR.

Ngga Ninja ngga Cinta…!! Betul?? So… tidak selamanya keunggulan teknologi mampu menimbulkan cinta.

Lantas, bagaimana dengan brand-brand lain?

Brand lain ngga usah dibahas. Nantinya jadi kepanjangan… Wkwkekek…!!

Intinya, Mtb bisa jadi Fansboy merk apa saja, tergantung produk apa yang dibicarakan. Mtb tidak cinta buta. Mtb bukan penyembah berhala roda dua, jadi yaa… biasa-biasa saja… Nggak ada merk yang lebih unggul dari merk lainnya. Semua tergantung produk-perproduknya satu-satu.

Itu jika kita bicara perkara brand… Tapi kali ini, bukan bagian itu yang akan Mtb bahas. Mtb akan menceritakan sebuah “dongeng” dimana produk-produk Honda di Indonesia semakin hari semakin membaik dan semakin diterima oleh masyarakat.

Jika ada Om Bro yang tidak bisa menerima kenyataan ini, berarti Om Bro adalah Fansboy Merk Sebelah…!! Betul…??!!

Kemajuan desain motor-motor Honda

Om Bro…!! Diakui atau tidak, desain produk-produk AHM semakin berkembang secara signifikan dibanding masa lalu. Model-modelnya semakin keren di semua lini, baik skutik, bebek dan sport.

honda beat street
Honda BeAT Street
harga tensioner lifter cb150r
Honda CB150R milik Mang Eko, teman Mtb saat kerja kuli bangunan, dulu…
konsumsi bbm vario 150
New Honda Vario 150 2018
penjualan motor ayago april 2018
Honda Sonic 150R Modif Orange
spesifikasi pcx hybrid vs konvensional
Honda All New PCX lokal
Honda Beat eSP FI
nama-nama motor bebek dibeberapa negara
Honda Blade Repsol
scoopy second 2017
All New Honda Scoopy

Bandingkan dengan desain motor-motor Honda di era 90-an dan sebelumnya yang lurus-lurus saja dan hanya ganti sticker doang pada setiap faceliftnya.

honda tiger generasi 2
Honda Tiger 2000 Generasi Kedua
Honda S90
harga honda astrea grand
Honda Astrea Grand
honda astrea star spesififikasi
Honda Astrea Star, shock depan sudah bukan ori

Dan anehnya, di jaman now, meskipun banyak di bully oleh para hater, motor-motor Honda justru semakin memuncaki data penjualan. Sebut saja market share bulan Juli 2018 lalu yang lebih dari 75%-nya dikuasai oleh Honda.

Kenapa?

Jelas karena desain motor-motor Honda semakin diterima oleh masyarakat Indonesia.

Kenapa desain?

Karena desain inilah faktor yang paling utama dalam menarik minat konsumen awam. Konsumen yang tidak begitu peduli dengan performa, kualitas bahan dan lain-lainnya…

Dan kenyataanya memang jumlah konsumen awam justru jauh lebih banyak dibanding konsumen yang “banyak pertimbangan”. Honda sangat memahami hal itu, maka mereka buatlah desain-desain motor yang Indonesian Taste. Desain agresif/sporty yang enak dilihat.

Bagaimana cara Honda dalam meracik desain yang sesuai selera Indonesia?

Disinilah menariknya. Disinilah perbedaan Honda dengan pabrikan Jepang yang lain, yakni Yamaha Suzuki dan Kawasaki.

Pada tiga merk yang lain (yaitu Yamaha, Suzuki dan Kawasaki), pada setiap pengembangan produk-produknya, keputusan ada di tangan perusahaan induknya masing-masing di Jepang. Jadi, mereka cenderung meciptakan suatu desain dengan target pasar secara global lantaran tahapan surveinya pun dilakukan di beberapa negara.

Dari hasil survei tersebut, kemudian di ambil jalan tengahnya. Jadi tidak bisa secara bulat-bulat menelan hasil survei dari satu negara saja.

Ketika ada masukan dari hasil survei untuk pasar Indonesia (misalnya), perusahaan induk akan menampungnya, tapi jelas tidak 100% bisa diaplikasikan semua. Karena, pasti selera negara lain akan berbeda dengan selera Indonesia. Dan pada akhirnya, hasil desain, model, spesifikasi teknis hingga detailnya pun tidak akan dapat 100% sesuai dengan selera Indonesia.

Hasilnya?

Jelas jadi tidak maksimal untuk pasar Indonesia lantaran mereka mengambil jalan tengah. Bukan mengambil jalan lurus sesuai keinginan konsumen Indonesia.

Disinilah yang berbeda dari Honda Indonesia.

Komposisi saham AHM yang 50:50 antara Honda Jepang dan Astra International membuat suara Astra “terpaksa” harus didengar oleh Honda Jepang. Sementara suara Astra itu sendiri merupakan hasil riset yang disesuaikan dengan minat masyarakat Indonesia. Maka itulah desain motor-motor Honda lebih dapat diterima oleh konsumen Indonesia.

Om Bro yang tidak suka dengan produk-produk Honda bisa saja membantah dengan berbagai argumentasi. Tapi data AISI mengatakan bahwa lebih banyak orang yang “berlawanan” ketimbang yang sepemikiran dengan Om Bro…!!

Om Bro…!! Meskipun beberapa sumber menyebutkan bahwa sebagian saham Astra itu sendiri dimikiki oleh Singapura dan/atau Hongkong, tapi Mtb rasa itu tidak penting dalam bahasan ini. Karena, siapa pun pemilik Astra International, dalam hal survei motor-motor Honda, fokus mereka ialah untuk pasar Indonesia. Bukan untuk pasar global. So… hasilnya pun di arahkan pada minat konsumen Indonesia.

Hal itulah yang tidak dimiliki oleh pabrikan lain di Indonesia hingga saat ini. Pabrikan lain harus “nurut” pada kemauan pusat. Jadi, meskipun hasil survei di Indonesia mengatakan “A”, tapi jika kantor pusat di Jepang berkats “B” ya mau apa lagi?

Demikian penuturan Lek Iwb dalam salah satu postingannya yang didapat dari hasil sharing dengan orang yang mengerti akan “share holder”.

Sekilas sejarah PT Astra Honda Motor

Awal berdirinya PT Federal Motor

PT Astra Honda Motor adalah Agen Tunggal Pemegang Merk Honda di Indonesia. PT AHM bergerak dalam bidang manufaktur, perakitan dan distribusi motor Honda di Indonesia.

PT AHM yang berdiri pada 11 Juni 1971 dengan nama PT Federal Motor adalah pelopor industri sepeda motor di Indonesia.

Awalnya, Federal Motor hanya merakit motor dari komponen-komponen yang diimpor dari Jepang secara CKD (Completely Knock Down). Motor pertama rakitan Federal Motor adalah Honda S90Z yang bermesin 4 tak 90cc.

honda s90
Honda S90

Pada tahun pertama produksinya Federal Motor hanya mampu merakit sebanyak 1500 unit motor. Kemudian meningkat signifikan di tahun berikutnya menjadi sebanyak 30 ribu unit motor.

Perubahan kepemilikan saham

Sebelumnya, saham PT Federal Motor secara mayoritas dikuasai oleh Honda Jepang. Barulah pada tahun 2001, PT Federal Motor dan beberapa anak perusahaannya di merger menjadi satu dengan nama PT Astra Honda Motor.

Berkat merger tersebut, PT Astra International Tbk dapat menguasai 50% saham yang ada. Sementara sisanya (50%) lagi tetap dimiliki oleh Honda Motor Co. Japan.

Invasi dan pengembangan pabrik baru

Pada tahun 2014, PT AHM telah memiliki 4 pabrik perakitan motor.

Pabrik pertama yang sekaligus berfungsi sebagai kantor pusat, berada di Sunter, Jakarta Utara. Sedangkan pabrik yang kedua berlokasi di Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Pabrik ketiga AHM berada di kawasan MM 2100 Cikarang Barat, Bekasi, dan pabrik keempat di Karawang.

Selain sebagai tahun invasi, 2014 juga merupakan tahun pertama bagi pabrik AHM Karawang dalam memulai operasinya.

Kapasitas produksi PT AHM

Menurut informasi dari situs resminya, AHM menyatakan bahwa sejak tahun 2015, kapasitas produksi AHM telah mencapai 5.8 juta unit motor pertahunnya.

Tahun 2015 juga menjadi catatan sejarah produksi ke 50 juta unit motor Honda di Indonesia. Angka tersebut tercatat sebagai capaian terbesar yang pertama bagi industri sepeda motor di Indonesia hingga tingkat ASEAN. (Mtb – Sejarah Motor Honda di Indonesia).

Tinggalkan Komentar