Safety riding center dam cimahi

Safety Riding Artinya Tidak Melakukan 15 Hal Berikut Ini:

Advertisement

Motorisblog.com – Om Bro! Dalam pengertian yang sederhana, safety riding artinya sebuah perilaku berkendara yang aman. Mtb nggak ngerti deh arti dalam tata bahasa yang intelek. Yang penting kita sama-sama faham maksudnya, gitu aja ya Om?

Advertisement

Om Bro. Meski Mtb ini seorang biker, tapi Mtb adalah slow biker.

Jujur saja Mtb juga pernah muda. Pernah mengalami masa emosi labil.

Semasa merantau ke Jakarta – Tangerang – Serang, dulu, Mtb juga kadang suka cekcok mulut dengan pengendara lain saat dalam perjalanan. Namun seiring bertambahnya usia, Mtb selalu dan terus belajar agar lebih bisa menjaga sopan santun saat berkendara.

Lebih dari itu, meskipun Mtb pernah punya kebiasaan seruntulan dan arogan dalam perjalanan, sejauh ini Mtb selalu berusaha untuk mengutamakan safety riding. Maka itu Mtb (dan kebanyakan manusia yang berakal sehat) sering jengkel apabila mendapati pemotor yang sembrono.

Berikut ini beberapa contoh kelakuan buruk pemotor dalam perjalanan.

Safety Riding Artinya Menghindari Hal-hal Berikut ini:

1. Berkendara Melawan Arus

Maksudnya sih ingin lebih cepat. Tapi mereka ngga mikir kalau kelakuannya itu bikin jengkel orang lain.

Beneran loh Om. Cara melawan arus ini selain berbahaya, juga membuat arus padat menjadi semakin macet.

Mungkin mereka menganggap bodi motor yang kecil tak menjadi masalah. Padahal jika kemudian ia kena tilang polisi atau bertabrakan dengan kendaraan dari lawan arah yang benar, biasanya mereka tidak akan mengakui kesalahannya begitu saja.

2. Melintas pada Jalur yang Salah dengan Sengaja

Mtb juga pernah sih masuk jalur cepat Jl. Sudirman, Jakarta Selatan. Mtb juga pernah naik ke flyover Pesing, Jakarta Barat. Tapi keduanya itu terjadi semata-mata karena Mtb tidak sengaja dan tidak tahu bahwa pada jalur-jalur tersebut ada larangan melintas bagi sepeda motor.

Contoh lain yang menjadi fenomena kota metropolitan, Jakarta, adalah sering sekali terjadi pemotor melintasi jalur busway karena tidak sabar dengan kemacetan.

Mtb juga biker. Mtb faham kalau kemacetan Jakarta itu menjengkelkan. Tapi mestinya Om Bro ingat bahwa jika Om Bro mengalami kecelakaan pada jalur yang salah, maka Om Bro akan mengalami kerugian rangkap. Kerugian tersebut adalah resiko luka-luka dan kerusakan motor, juga harus mengganti kerugian korban yang berada pada jalur yang benar.

Belum lagi kalau ketahuan polisi, maka Om Bro bisa kena tilang juga.

Jadi ruginya bukan lagi double, melainkan triple alias rangkap tiga.

3. Melintasi Trotoar

Ini sih sudah jelas membuat jengkel para pejalan kaki.

Tapi ada lagi loh Om. Selain pemotor, para pedagang kaki lima juga banyak yang menyalahgunakan fungsi trotoar.

Jadi selain biker yang bandel, kaki lima juga harus mendapat penertiban tuh.

4. Bermain Ponsel Saat Berkendara

Ini orang otaknya benar-benar ketinggalan dirumah. Apa maksudnya coba? Mereka fikir gagah apa gimana sih kalau riding sambil menelfon atau bahkan sambil chating? Apa mereka nggak ngerti kalau main hape itu bikin konsentrasi jadi terbagi?

Ini serius loh Om. Sering Mtb mendapati orang seperti itu dan cara berkendaranya jadi tidak stabil. Kadang tiba-tiba oleng ke kanan atau ke kiri, atau mendadak melakukan pengereman saat melalui lajur tengah.

Itu jelas membahayakan orang lain.

Itulah masalahnya. Kalau cuma bahaya buat diri mereka sendiri sih bodo amat. Lah ini kan membahayakan orang lain juga.

Atau mungkin dia butuh navigasi dari aplikasi maps sehingga berkendara sambil main hp?

Jika pun iya, seharusnya tetap mereka tetap berpegang pada cara aman menggunakan GPS. Jadi tidak sembarangan asal main hp saja.

5. Muatan Melebihi Batas Normal

Mtb pernah melihat salah satu pedangang pasar yang melakukan hal ini.

Bukan hanya membawa muatan berlebih, ia bahkan membonceng orang lain pada bagian atas barang muatan motornya.

Batas normal muatan barang pada motor adalah:

  • Tidak melebihi lebar stang
  • Tidak melebihi tinggi kepala pengendara.

Begitu saja sih sederhananya.

Soal jumlah berat beban motor, umumnya kapasitas beban motor matic dan bebek adalah maksimal 125 kg (termasuk berat badan pengendara).

Keterangan selengkapnya, biasanya ada dalam buku panduan manual motor Om Bro masing-masing.

Untuk lebih mudahnya dalam memperkirakan kapasitas beban motor, bisa pakai cara sederhana berikut:

  • Desain sepeda motor ialah untuk berkendara maksimal dua orang
  • Dengan asumsi berat badan pengemudi dan pembonceng adalah 65 kg ×2,maka daya angkut normal motor adalah maksimum 130kg
  • Jika misalnya berat badan Om Bro adalah 70 kg, maka Om Bro masih aman untuk mengangkut barang seberat 60 kg.

Begitu teori sederhananya.

6. Tidak Mengenakan Helm

Seringnya orang-orang beralasan karena jarak dekat.

Kadang ada juga yang beralasan karena tidak ada Polisi.

Heoow! Sadar nggak sih, meski jarak dekat, meski tidak ada polisi, tapi kalau jatuh, kepala mentok, tetap saja sakit Om.

Namun sayangnya banyak orang yang tidak menyadari resiko tersebut.

Apalagi anak-anak ABG. Motor pinjeman, boncengan bertiga, cekikikan sambil motoran. Pas kena tilang terus mewek-mewek.

Semoga anak-anak Mtb dan putra-putri Om Bro sekalian tidak seperti itu kelak nanti. Amiin.

7. Menggunakan Knalpot Bising

Mungkin mereka fikir jalan raya itu sama dengan sirkuit kali ya? Rasanya gagah kalau ngebut pakai knalpot racing? Padahal kalau mereka mau tahu, coba tempelkan telinga ke lubang knalpot, trus putar grip gas. Seperti itulah rasanya orang lain yang mendengar knalpot miliknya sepanjang jalan.

Advertisement

Yang lebih parah lagi, tidak jarang biker seperti itu, arah knalpotnya menengadah sehingga hembusan gas buangnya menerpa wajah pengendara lain di belakangnya.

Ini orang bermotor sepanjang jalan tapi otaknya ketinggalan di rumah kali ya?

Masih mending kalau motornya sekelas Harley Davidson, Ducati Monster, atau minimal motor 250cc dua silinder, masih enak suara knalpotnya. Lah ini seringnya motor bebek atau matic low end.

Iya maaf lah ya. Mtb juga ngga punya moge. Mtb hanya punya motor entry level. Makanya Mtb ngga pake knalpot bising.

8. Belok Mendadak, Tidak Menyalakan Sein

Kejadian seperti ini bisa terjadi di mana saja, tapi yang paling sering terjadi adalah di pedesaan atau kota-kota kecil seperti kampung Mtb.

Mungkin mereka belum terbiasa berbelok secara rapi dengan memberikan isyarat lampu sein.

Pelakunya bervariasi, mulai dari bapak-bapak setengah baya, ibu-ibu dan anak-anak ABG.

Kadang Mtb suka kasihan kalau pas lihat ada ibu-ibu biker yang jatuh karena tersenggol oleh pengendara lain. Tapi kadang memang ia sendiri yang salah. Mau belok kanan ko yang nyala sein kiri. Wkwkwkwk.

Bahkan saking seringnya kejadian seperti itu, dunia maya sampai memunculkan istilah “Ibu-ibu sein kanan belok kiri“.

9. Menerobos Lampu Merah

Nah, orang seperti ini paling sering adanya di kota-kota besar. Padahal kalau kena tilang polisi, mereka mewek-mewek sambil cari-cari alasan.

Kalau jalanan kota kecil seperti kampung Mtb, rata-rata pengendaranya takut-takut melanggar lampu merah, meskipun sesekali tetap ada juga.

10. Berteduh Saat Lampu Merah Menyala

Om Bro pernah nggak ngalamin kaya gitu? Mtb dulu sering saat mencapai lampu merah Harmoni, dari arah Monas menuju Gajah Mada. Pada lokasi tersebut sering ada pemotor yang saat lampu merah, ia berteduh pada pepohonan pinggir jalan. Padahal ke depannya masih kosong dan jauh dari lampu merah.

Bagi Mtb ini bikin kesal.

Lah kalau tidak mau kepanasan ya naik Busway atau beli mobil sendiri. Betul? Jangan pengen teduh sendiri sementara pemotor lain kepanasan dan jalannya terhalang.

11. Kaca Spion Segede Upil

Pertanyaannya, upil siapa yang segede kaca spion? Wkwkwkwk.

Katanya kalau spion bawaan pabrikan itu jelek, kayak tangan orang lagi berdoa, Amiin. Amiin. Gitu katanya. Wkwkwkwk.

Mereka nggak sadar pentingnya fungsi spion. Giliran mau belok, kesenggol orang lain, terus mereka marah-marah dan minta ganti rugi. Padahal salah sendiri tidak memperhatikan pengendara lain di belakangnya gegara spionnya cuma cukup buat ngintip jerawat.

12. Arogan dalam Berkendara

Ini seringnya menjadi kelakuan bikers yang berkendara secara berkelompok. Kalau ada pengendara lain (terutama mobil) yang meraka anggap menghambat jalan mereka, maka mereka akan marah-marah. Bahkan kadang tidak segan menendang si mobil tersebut.

Padahal kalau ada yang berani menantang duel satu lawan satu, belum tentu ia berani. Beraninya cuma karena banyak teman.

Tapi tidak semua seperti itu sih, hanya beberapa orang oknum biker saja yang bertindak kampungan seperti itu.

13. Berkendara Tidak Sesuai Lajur

Kadang ada saja biker yang seperti ini. Jalan pelan pada lajur tengah, atau ngebut melalui lajur kiri.

Tapi yang paling menjengkelkan itu orang yang melaju perlahan pada lajur tengah alias melalui lajur kanan. Itu mereka tidak sadar bahwa keberadaannya menghalangi laju pengendara lain yang lebih cepat.

14. Keluar dari Gang Tanpa Menoleh ke kiri-kanan

Ini sering terjadi di kampung Mtb. Tidak terfikir bahayanya jika pas ia nongol, pas ada kendaraan lain yang melaju kencang.

15. Mau Belok Kanan Tapi Malah Menepi ke Kiri Dahulu

Ini agak lucu, tapi sering terjadi di kota-kota kecil.

Seharusnya kalau mau belok kanan ya tunggu situasi aman dengan posisi berada pada lajur kanan. Tapi entah karena takut atau baru belajar atau apa, seringkali ada orang yang justru malah menepi dulu ke sisi kiri. Akibatnya ia jadi menimbulkan keraguan bagi pengendara lain yang hendak menyalipnya.

Orang seperti ini kalau berkendara di Jakarta, bisa sehari semalam nggak belok kanan. Lah jalanannya nggak pernah sepi. Betul? Wkwkwkwk.

Kesimpulan

Dari semua yang kita obrolkan barusan, kita bisa buat kesimpulan sederhana.

Safety riding artinya:

  • Berkendara secara aman
  • Safety riding artinya tidak melakukan hal-hal bodoh yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain
  • Safety riding artinya tidak membuat orang lain kesal dalam perjalanan

(Mtb).

Advertisement

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *