Review Yamaha Mio S, Nyaris Sempurna di Kelasnya

Motorisblog.com – Review Yamaha Mio S – Om Bro…!! Telat banget ya…?? Mtb memang belum bisa seperti para blogger & blogger kawakan yang selalu punya kesempatan untuk menjajal motor-motor baru ketika si motor baru launching… Kendalanya cukup kompleks… Mulai dari profesi yang rangkap, keterbatasan peralatan, juka lokasi domisili Mtb yang hanya kota kecil… Jauh dari metropolitan yang selalu jadi tempat peluncuran setiap produk-produk motor baru.

Tapi ngga apa-apa… Meski terlambat, cukup puas rasanya Mtb bisa review Yamaha Mio S setelah menjajalnya sendiri secara langsung.

Mtb tertarik melakukan test singkat motor ini ketika melihat motor Kang Heri, rekan sesama Driver Ojol yang memarkir motornya di depan Warung Mang Abas di sekitaran Cimenyan, Banjar Patroman. Pasalnya, ini motor punya judul tersendiri dimana segmentasinya ialah kaum hawa… Yaa… kurang lebih seperti berusaha menandingi Honda BeAT POP yang juga menyasar para wanita.

Nah, karena bahasannya cukup panjang, kita langsung saja lah… Ngga usah kepanjangan mukaddimah…

Review Yamaha Mio S

Om Bro… Sejak pertama kali launcing pada 15 Oktober 2017 lalu, baru kali ini Mtb berkesempatan menjajal Yamaha Mio S secara langsung. Iyaaa…. setelah hampir setahun motor tersebut mengaspal di jalanan Indonesia.

Dan…

…ketika Mtb tunggangi motor ini, asli Mtb benar-benar kaget. Mungkin karena sudah lama tidak menjajal langsung motor-motor Yamaha keluaran terbaru, maka Mtb baru tahu… bahwa ternyata karakter skutik Yamaha sekarang sudah banyak berubah. Jauuuuhhh…. dibanding Mio J yang pernah Mtb jajal pada beberapa tahun lalu. Apalagi jika dibanding Mio generasi karburator… Halaaaahhhh… Jauh pisan bedanya…

Yang jelas, Mio S jauh lebih enak dan lebih nyaman dibanding generasi Mio sebelumnya. Sok geura, nih… Mtb bahas sedetail mungkin di bawah ini,

Fitur-fitur dan review Yamaha Mio S dari Sudut Pandang Mtb

Forged piston & diasil silinder

Yang ini sudah biasa ya… Sudah menjadi standarisasi Yamaha dimana silinder dan pistonnya di klaim 3 kali lebih kuat, 3 kali lebih ringan dan 3 kali lebih awet dibanding silinder dan piston biasa. Meskipun pada beberapa kasus, silinder berbahan alumunium silikon ini punya kelemahan, dimana dia tidak bisa di korter ketika kita harus oversize piston.

Oversize piston motor bukan melulu karena niat modifikasi… Karena pada dasarnya, ketika usia motor sudah mulai uzur, maka akan terjadi penurunan kompresi akibat keausan piston dan silindernya itu sendiri. Dan ketika waktu tersebut telah tiba, maka kita harus mengganti piston dengan diameter yang lebih besar demi mengembalikan tekanan kompresi untuk mengembalikan performa motor seperti semula.

Body lebih ramping & ringan

Untuk ukuran motor-motor skutik jaman now, desain Mio S terbilang ramping… Patut lah ya… secara targetnya ialah kaum perempuan. Jadi, jika ada Om Bro yang menunggang Mio S, itu perlu dipertanyakan emansipasinya… kejantannya… Wkakakaak….!!

Ngga lah ya… Meski judulnya buat kaum Hawa, tapi ini motor tetap enak juga buat kaum Adam.

Tangki bensin 4,2 liter

Ini juga standar lah ya… Cuma lebih 0,2 liter dari Honda Beat, jadi ngga hebat-hebat amat. Tapi jika dibanding motor-motor generasi sebelumnya yang tangki bahan bakarnya hanya berkisar 3,5 liter – 3,7 liter ya jelas ini merupakan sebuah kemajuan. Semakin besar kapasitas tangki, maka semakin panjang pula jarak yang dapat ditempuh dengan sekali isi BBM.

Sambungan arm
review yamaha mio s

review yamaha mio s

Naaaahhhh…. Ini yang Mtb rasa luar biasa. Entah apa nama yang sebenarnya, Mtb sebut saja sambungan arm.

Sambungan arm pada Mio S sudah seperti Xeon RC, yakni double. Terdapat dua sambungan yang tentunya membuat getaran dari mesin dan dari jalanan dapat direduksi hingga semaksimal mungkin. Hasilnya, jelas… Feel motor jadi lebih lembut, lebih smooth… Getaran jadi tidak sebesar Mio J dan Mio karbu…

Dan (entah hanya perasaan atau memang benar), redaman vibrasi dari Mio S jauh lebih baik dibanding Xeon RC yang pernah Mtb jajal. Ini tentu sebuah kemajuan besar, dimana selama ini, perkara vibrasi dan kerasnya suspensi Yamaha yang selalu menjadi bagian dari masalah motor-motor Yamaha.

Memang… sambungan model dobel ini sudah jauh-jauh hari digunakan oleh Honda Vario sejak tahun 2006. Artinya, Honda yang duluan. Tapi bagi Mtb, tidak ada salahnya Yamaha “meniru” selama hal itu menguntungkan konsumen. Justru selama ini Mtb “benci” pada Yamaha karena karakter keras kepalanya yang seolah-olah gengsi untuk meniru pabrikan lain… padahal, seharusnya, demi memenuhi kebutuhan konsumen, mestinya Yamaha tidak usah pakai gengsi.

Mtb jadi berfikir,… andai cara ini (termasuk kelengkapan fitur-fitur lain) sudah di aplikasikan oleh Yamaha sejak 10 tahun uang lalu, mungkin angka penjualan Yamaha bisa bertahan seperti pada tahun 2010… Yaitu, hanya selisih sedikit dari Honda…

Tidak seperti sekarang, dimana setiap bulan dan tahun, Honda selalu konsisten menguasai lebih dari 70% market share dunia persilatan motor Indonesia. Bahkan di bulan Agustus 2018 kemarin, Honda mendapatkan 78% kue penjualan, sementara Yamaha hanya kebagian 19% doang.

Tapi ya sudahlah… Masa lalu itu memang pedih… Setidaknya, sekarang Mtb sangat mengapresiasi kemauan Yamaha untuk berubah menjadi lebih baik.

Blue Core
review yamaha mio s

Teknologi ini, Mtb pikir bukanlah hal yang luar biasa. Kompetitor juga punya teknologi eSP yang secara prinsip dasar sama, yakni mengurangi konsumsi bahan bakar dan meningkatkan performa motor.

Teknis dasar dari kerja Blue Core adalah dengan menyempurnakan proses pembakaran dan mengurangki friksi antar komponen di dalam mesin.

Smart Brake Lock System
review yamaha mio s

Lagi… Meskipun sudah di dahului oleh produk tetangga, namun sesuai dengan namanya, sistem pengunci tuas tem belakang Yamaha Mio S lebih smart karena dapat dengan mudah dioperasikan dengan menggunakan satu tangan.

Cukut tarik tuas rem dan acungkan jari telunjuk untuk menekan knop pengunci.

Lampu LED
review yamaha mio s

Meskipun bukan barang baru di dunia persilatan motor, tapi di jajaran Mio Series, Mio S adalah yang pertama dijejali lampu LED. Ini jelas artinya bahwa Mio S lebih di istimewakan oleh Yamaha.

Rem
review yamaha mio s

Bagian ini juga cukup mengejutkan bagi Mtb…

Awalnya Mtb rada ragu untuk melakukan test hard breaking. Maka Mtb coba pelan-pelan dulu… Soale, biasanya untuk produk entry-level, rem Yamaha suka over… terlalu pakem. Hal ini juga yang di sinyalir menjadi penyebab utama sering koplaknya komstir motor-motor Yamaha.

Bahkan untuk motor-motor entry-level besutan Yamaha yang sudah rada uzur usianya, sering timbul ketimpangan dimana rem depan menjadi pakem pisan, sementara rem belakang seolah-olah blong… Dan model rem seperti itu sangat berbahaya bagi orang-orang yang belum cukup mahir dalam mengendarai motor. Istilahnya, orang-orang (anak-anak) yang baru belajar mengendarai motor.

Hal ini pula yang Mtb duga menjadi penyebab kecelakaan ibu mertua dan keponakan Mtb beberapa waktu yang lalu… Mereka mengalami kecelakaan saat keponakan Mtb yang berboncengan dengan ibu mertua terpelanting keras hingga ibu mertua mengalami patah tulang gegara keponakan melakukan rem mendadak.

Setelah kejadian, Mtb cek Yamaha Mio Sporty karbu lansiran 2010 punya mertua tersebut, ternyata memang iya seperti itu. Rem depan terlalu pakem sehingga sangat berpotensi mengunci putaran roda ketika hard breaking, sementara rem belakang lolos…

Tapi… ternyata…

…karakter rem seperti itu tidak ada pada Mio S yang Mtb jajal kemarin. Entah karena masih baru atau karena memang karakter remnya yang berbeda, tapi yang jelas, karakter rem Mio S smooth pisan. Di pakai hard breaking pun lembut, tidak ada efek mengunci putaran roda.

Menurut Mtb sih mirip-mirip karakter rem motor-motor skutik entry-level punya pabrikan Honda. Intinya aman lah ya… remnya lembut. Mantap lah… sudah jauh lebih baik dibanding produk-produk terdahulu.

Kolong padat
review yamaha mio s

Ketika Mtb intip kolong bagian belakang, mungkin karena suspensi Yamaha Mio S yang lebih pendek dibanding produk sebelah, maka kolongnya tampak lebih padat. Tidak ada kesan kopong berongga. Pokona mah mantap secara visual.

Speedometer & Eco indicator
review yamaha mio s

Speedomoter masih menganut model analog. Wajar lah ya… secara, ini kan motor entry-level… juga punya fitur lumayan komplit, jadi ya, musti ada bagian-bagian yang dikorbankan.

Logikanya, jika Mio S menggunakan speedometer digital, maka harganya pun pastinya jadi lebih mahal… Jadi tidak sesuai dengan kelasnya yang berada di segmen low-mid.

Mio S juga sudah dilengkapi dengan Eco Indicator. So… Om Bro/Sista jadi punya panduan untuk selalu berkendars pada level pemakaian bahan bakar yang paling efisien.

Saat Mtb jajal, lampu Eco berwarna hijau ini menyala pada kecepatan 20-60 km/jam.

Hazard Lamp
review yamaha mio s

Ini juga sangat menarik, dimana skutik entry level dilengkapi lampu hazard selayaknya motor-motor premium.

Fitur ini sangat penting untuk meningkatkan visibilitas ketika Om Bro/Sista mengalami situasi darurat, misalnya motor mogok, ban bocor, atau situasi-situasi darurat lainnya.

Saklar Hazard Lamp Mio S terdapat pada stang bagian kanan, di atas tombol starter elektrik. Ditandai dengan logo segitiga disitu.

Pemosisian saklar stang kiri
review yamaha mio s

Susunan saklar stang kiri masih sama seperti motor-motor Yamaha yang lain. Ada saklar DIM (lampu jauh-dekat) di atas, kemudian saklar lampu sein di bawahnya, dan tombol klakson di bagian paling bawah.

Menurut subyektifitas Mtb, pemosisian saklar-saklar tersebut masih lebih prefer punya brand Honda, dimana tombol klakson berada di tengah dan saklar sein di posisi paling bawah. Asli, bukan karena fanatik merk, tapi benar-benar posisional saklar motor-motor Honda lebih efektif, sesuai dengan posisi jempol tangan kiri.

Dengan posisi model Yamaha, Mtb harus menggeser genggaman tangan ke arah atas-depan ketika hendak mengoperasikan saklar lampu sein… Sementara pada posisi saklar motor Honda, tidak perlu ada pergeseran genggaman. Semuanya sudah pas dengan posisi jempol tangan kiri.

Semoga ke depannya Yamaha mau mempertimbangkan hal sepele ini…

Dek luas

Model desain sayap Mio S dibuat lebih vertikal dan lebih ramping sehingga ruang kaki menjadi lebih luas, dan dengkul tidak mudah mentok ke sayap.

Sesuai dengan segmentasinya, desain ini ditujukan untuk memudahkan para wanita pada saat naik dan turun dari motor. Soale, umumnya wanita pasti naik/turun motor dengan cara mengayunkan kaki melalui dek. Tidak seperti kaum pria yang kadang dapat dengan mudah salah satu kakinya melompati jok.

Ini penting di pertimbangkan… Lah gimana kalo perempuan pake rok mini trus kudu ngangkang melompati jok… Apa ngga bikin ngiler…!??? Wkwkwkwk…!! Hussss…!! Jangan ngeressss…

Selain hanya ruang kaki bagian atas, dek pijakan kaki juga lebih luas. Tentu sangat berguna secara fungsionalitas… Baik secara keleluasaan pijakan kaki atau pun ketika kita membawa barang bawaan.

Mur sayap lebih kompak & kokoh
review yamaha mio s

Ini juga Mtb suka pisan… Melihat jajaran titik-titik mur di sayap bagian dalam di atas dek, tampak kesan pengencangannya lebih kompak dibanding brand sebelah. Mur (sekrup) yang digunakan pun tampak lebih besar di bagian payungnya sehingga terkesan lebih kokoh.

Kualitas bahan plastik & finishing cat

Sayangnya… Mtb rasa bahan plastiknya ko tipis ya? Ngga tipis-tipis amir juga sih… hanya jadi mirip bahan plastik produk sebelah aja sih… Seperti keluar dari pakem Yamaha yang biasanya secara bahan plastik selalu tebal. Yaa… Mtb asumsikan sih hal itu untuk menekan cost produksi, soale, Mio S ini sudah dijejali lumayan banyak fitur, jadi pasti ada bagian-bagian tertentu yang harus dikorbankan demi menjaga harga jual tetap masuk akal.

Suspensi & jok
review yamaha mio s

Disini Mtb kaget lagi, secara, Mtb sudah lama ngga numpak matic Yamaha… Terakhir beberapa waktu lalu yang Mtb jajal malah New Vixion… Itu pun ngga dibikin review, soale cuma jarak dekat pisan, jadi kurang bisa dibuat bahan review.

Perkara suspensi, sebenarnya Mio S pun tetap menganut model stiff… Feelnya keras, tapi Mtb jajal, enak pisan buat nikung rada kenceng.

Rada doang sih… ngga kenceng-kenceng amirr… Wkwkwkwkk…!! Treknya di jalanan lingkungan, jadi mustahil buat test maksimal.

Tapi…

…ada tapinya lagi…

Feel suspensi Yamaha yang biasanya keras glodakan, sama sekali tidak Mtb rasakan pada Mio S. Memang, Mtb tidak melakukan test di jalanan rusak… Tapi asumsinya ya memang pada penggunaan sehari-hari kita pun jarang menemukan jalanan rusak, khususnya di perkotaan.

Sumpah… Untuk Mio S, Yamaha sudah banyak berubah. Sudah jauh lebih baik. Bahkan getaran mesin dan goncangan dari jalanan yang dulu-dulu tembus ke stang pada motor-motor Yamaha, pun berhasil di reduksi dengan sangat baik pada Mio S.

Mtb duga salah satu penyebab utamanya ialah perkara sambungan arm yang sudah Mtb ceritakan di atas tadi.

Ini juga menunjukkan bahwa suspensi depan Mio S sudah lebih baik dibanding Mio-mio yang lain dimasa lalu… Mtb kira, suspensi depan Mio S jadi lebih lembut…

Coba, kalo kebetulan Om Bro/Sista yang baca artikel ini ada yang pengguna atau pernah pake Mio S, kalo misale ada feel berbeda, mohon ditambahkam pada komentar dibawah nanti. Soale Mtb juga masih kurang yakin, apa iya Yamaha sudah berubah sebegitu jauhnya??

Jika memang iya, asli berarti Mtb ketinggalan jauh pisan akan perubahan motor-motor Yamaha… Ya meskipun kelebutan Mio S tetap tidak bisa selembut brand Honda, lantaran tipe suspensi dan karakter mesinnya juga beda.

Karakter over-stroke pada mesin-mesin Yamaha tetap menimbulkan vibrasi yang lebih besar dibanding produk-produk sebelah. Tapi benar-benar sudah sangat baik untuk Mio S.

Nah, terus perkara pantat, getaran Mio S juga semakin tereduksi dengan busa jok yang tebal dan empuk… khas Yamaha…

Lubang pengisian oli gear

Hal sepele ini akan Om Bro rasakan efeknya jika Om Bro suka mengganti oli gear sendiri.

Posisi lubang pengisian oli gear punya Yamaha dari dulu selalu menghadap ke atas. Jadi gampang ketika menuangkan oli baru ke dalam gear box.

Bandingkan dengan lubang pengisian oli gear pada skutik Honda…

Mtb nih… kadang suka menggerutu kalo lagi ganti oli gardan Si Spacy kesayangan Mtb… Kenapa sih musti disamping lubang olinya? Jadi susah masukinnya…

Iya, kan, Om Bro?? Kalo nyamping, susah masukinnya? Wkwkwkwk…!! Husss…!!

Bagasi
review yamaha mio s

Mtb rasa ini sih bukan keunggulan lah ya… Soale produk-produk kompetitor juga bagasinya besar-besar. Tapi kalo dibanding Mio generasi terdahulu, tentu ini menjadi nilai lebih.

Akselerasi

Nah… Disini karakter khas mesin Mio Series tetap kental… Dimana pada saat putar gas, itu ada ayunan dulu sebelum gear masuk dan motor melaju. Jadi, kalo putaran gas dibuka sekaligus, itu akan timbul deru mesin mengayun, kemudian motor serasa nyendal ketika gear masuk.

Kayanya sih enak buat penyuka freestyle…

Karakter ini bertolak belakang dengan brand Honda yang model gearnya masuk lebih awal, baru kemudian deru mesin mengayun untuk menarik beban roda.

So… Mending mana?

Sama aja… Buat yang ngga paham-paham pisan & ngga memperhatikan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya sih, soal karakter begini ngga penting lah ya… Yang penting motor aman dan nyaman…

Nah, kelebihan lainnya, Mio S dijejali mesin 125cc. Lebih gede lah dari tetangga sebelah. Trus gitu, bobot motornya cuma 94 kg. Ini tentu sangat menguntungkan dalam perbandingan power to weight alias tenaga berbanding bobot.

Intinya, akselerasi Mio S jadi ringan dan kencang pisan lantaran mesin besar dipasang pada bobot bodi yang ringan.

Ergonomi, handling & ban

Ketinggian joknya hanya 75 cm. Buat Mtb yang 165 cm 64 kg, jelas kaki bisa menapak sempurna.

Wajar lah ya… mengingat Mio S ini memang ditujukan bagi kaum wanita.

Ketinggian stang relatif lebih pendek dibanding motor merk sebelah… Enak sih handlingnya. Ditambah bobot motor yang ringan, desain ramping, kapasitas mesin lebih besar dari tetangga, ban tubeless tapak lebar… Yo wisss… mantap pisan buat selap-selip, zig-zag, stop&go dan lain-lain.

Mio S menggunakan ban berukuran 80/80-14 (depan) dan 100/70-14 (belakang). Lebih bisar dari Mio M3 yang hanya 70/90-14 dan 80/90-14.

Udah gitu, bentuk bannya membulat… Jadi enak pisan saat menikung rada kencang.

Push & Pull Throttle

Modelnya sudah ala motor sport, yaitu holder gas yang menggunakan dua kabel untuk menarik dan mengulur throttle body. Efeknya, grip gas putarannya jadi lebih ringan. Juga lebih aman dari macet.

Mtb pernah lho, ngalamin putaran gas macet, ngga balik sendiri. Jadi, mesin terus menderu meski putaran grip gas sudah Mtb lepaskan… Hal ini hampir tidak mungkin terjadi pada model Push & Pull Throttle. Soale, jika pun putaran throttle body macet, dia akan di tarik oleh kabel ulur sehingga kembali ke posisi semula.

Model ini juga sudah digunakan pada Mio M3 125

Gantungan Barang Yang Bisa Dilipat

Sebenarnya fitur ini ngga penting-penting amirr.. Tapi bagus juga secara fungsionalitas dan secara pemanis. Gantungan barangnya model capit sehingga lebih aman ketimbang model ganting biasa. Barang yang tergantung jadi terkunci sehingga tidak akan terpental (misalnya) saat menghajar lubang jalanan.

Answer Back System

Nah… Kalo ini, untuk Mtb yang tinggal dikota kecil sih ngga penting-penting amirrr… Tapi Mtb ingat saat masih gawe di Sarinah, dulu… Kadang Mtb suka lupa posisi parkir motor, jadi musti muter-muter nyari-nyari dulu.

Nah, kalo pake Mio S, cukup hanya menekan tombol bulat di gantungan kunci, maka lampu sein Mio S 125 Blue Core akan berkedip dan akan ada suara, “Bip-bip”. So… cari posisi parkir motor jadi lebih mudah.

Harga Mio S 2018

Setelah menjajal motor Mang Heri tersebut, Mtb penasaran dan langsung meluncur ke situs resminya Yamaha Indonesia. Disana terpampang banderol Rp16,100,000 (OTR DKI Jakarta).

Mtb rasa, harga itu whorted lah ya… Value for money dapet banget. Mesin 125cc, dek lega, ban lebar, dan yang terpenting, karakternya sudah tidak keras dan glodakan seperti skutik entry-level Yamaha jaman dulu… Mio S sudah smooth… lembut… nyaman…

Gambar Mio S & Pilihan Warna Mio S

Saat ini, saat artikel ini dibuat, Mio S ditawarkan dalam 4 pilihan warna, yaitu,
. Special Green alias ijo

review yamaha mio s. Spirit Red alias merah

review yamaha mio s. Strong Black alias item

review yamaha mio s. Smart White alias putih

review yamaha mio s

Spesifikasi Mio S

TIPE MESIN
. Air cooled
. 4-stroke
. SOHC

SUSUNAN SILINDER
. Single cylinder
. Mendatar

DIAMETER X LANGKAH
. 52,4 x 57,9 mm

PERBANDINGAN KOMPRESI
. 9,5:1

VOLUME SILINDER
. 125cc

DAYA MAKSIMUM
. 7.0kW/8000rpm

TORSI MAKSIMUM
. 9.6N.m/5500rpm

SISTEM STARTER
. Electric Starter
. Kick Starter

SISTEM PELUMASAN
. Wet sump

KAPASITAS OLI MESIN
. Total: 0.84 Liter
. Berkala: 0.8 Liter

SISTEM BAHAN BAKAR
. Fuel Injection

TIPE KOPLING
. Dry
. Centrifugal Automatic

TIPE TRANSMISI
. V-belt
. Automatic

Dimensi
. Panjang: 187 cm
. Lebar: 68,5 cm
. Tinggi: 106 cm

JARAK SUMBU RODA
. 126 cm

JARAK TERENDAH KE TANAH
. 13,5 cm

TINGGI TEMPAT DUDUK
. 75 cm

BERAT ISI
. 94 Kg

KAPASITAS TANGKI BENSIN
. 4,2 Liter

TIPE RANGKA
. Underbone

SUSPENSI
. DEPAN: Teleskopic
. BELAKANG: Unit swing

Ukuran BAN DEPAN
. 80/80-14M/C 43P Tubeless

Ukuran ban BELAKANG
. 100/70-14M/C 51P Tubeless

REM DEPAN
. Hydraulic
. Single Disc brake

REM BELAKANG
. Drum brake

SISTEM PENGAPIAN
. TCI

TIPE BATTERY
. YTZ4V

TIPE BUSI
. CR6HSA
(Mtb – Review Yamaha Mio S).

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: