Beranda » Review » Review Yamaha Lexi 125: Segini Konsumsi BBM’nya

Review Yamaha Lexi 125: Segini Konsumsi BBM’nya

Motorisblog.com – Om Bro! Pada akhir Juni 2018 lalu Mang Kobay (kobayogas.com) telah membuat artikel review Yamaha Lexi 125. Ada beberapa bagian yang ia bahas, tapi fokus utama yang Mtb angkat adalah bahasan mengenai lampu utama dan konsumsi BBM saja, selain sedikit gambaran bagian lainnya.

Yamaha Lexi 125 Review

Lampu Utama (Headlight)

Bahasan pertama masuk pada bagian sorot sinar lampu depan (lampu utama).

Seperti yang Om Bro ketahui, Yamaha Lexi mengusung lampu jenis LED dengan ukuran yang lumayan besar. Tentu untuk mengimbangi desain body’nya yang bergenre maxi skutik, meski kapasitas mesinnya tidak maxi.

Betul Om. Kapasitas mesin Lexi tidaklah besar, tapi Yamaha punya alasan kenapa Lexi Yamaha 125 masuk ke dalam kategori maxi.

Unit yang Mang Kobay gunakan untuk test adalah tipe Lexi S yang punya fitur smart key alias keyless.

Pengujiannya Mang Kobay lakukan pada malam hari, mulai dari pekarangan rumah dan berlanjut ke jalan umum.

Hasilnya?

Lampu LED dari motor bermesin 125cc berbadan bongsor plus teknologi VVA ini menunjukkan sorot lampu yang cukup lebar. Sesuai dengan reflektornya yang berukuran besar.

Lampu LED Lexi memberikan sorot warna putih yang kuat meski levelnya sedikit lebih rendah dari sorot lampu kakaknya, Yamaha Nmax.

Yang menarik pada bagian ini adalah bahwa pada sorot lampu jauh, biasanya lampu warna putih akan kalah kuat oleh lampu jenis merkuri berwarna kuning semisal lampu lalu lintas penerangan jalan. Tapi tidak demikian dengan lampu Lexi S. Sorotnya masih sedikit lebih kuat dari lampu jalan.

Top Speed

Pada review kali ini, Mang Kobay tidak mendapatkan performa puncak secara maksimal karena tidak mendapati trek yang memadai.

Sempat menyentuh angka 101 km/jam, tapi itu belum habis. Putaran gas masih ada. Jadi pasti yang seharusnya masih lebih dari itu.

Konsumsi Bahan Bakar

Review berikutnya dari Mang Kobay adalah uji konsumsi bahan bakar.

Koridor pengujian adalah rute harian Mang Kobay dari rumah ke kantor (Durensawit – Pancoran via Casablanca) dan beberapa tempat lainnya dengan jarak tempuh total 54 km selama 3 hari.

Arus lalu-lintas lebih sering macet daripada lancarnya.

Riding style apa adanya:

  • Saat lancar ya gasss
  • Kalau pas mau santai ya selow
  • Saat macet ya sesuai kecepatan pergerakan arus

Intinya riding style natural. Tidak dramatis agar mendapatkan hasil angka konsumsi tertentu.

  • Volume tangki bensin Lexi adalah 4.2 liter
  • Metode pengujian dengan perhitungan AVG yang tertera pada speedometer si Lexi

Tidak menggunakan metode manual full to full karena keterbatasan waktu dari Yamaha untuk Mang Kobay.

  • Kondisi unit test ada dalam keadaan sehat, baik mesin, kaki-kaki dan tekanan angin ban
  • Angka odometer menunjukkan 1.128 km
  • Hasilnya setelah 4 hari

AVG pada panel meter Lexi S 125 menunjukkan angka 38.4 km/liter

Namun pada 1 hari sebelum terkena macet parah, angka konsumsinya sempat menyentuh 45 km/liter.

Kelebihan dan Kekurangan Yamaha Lexi 125

Beberapa kelebihan dan kekurangan dari Yamaha Lexi S menurut penilaian Mang Kobay adalah berikut ini:

Kelebihan
  • Punya fitur smart key (keyless)
  • Speedometer sudah full digital
  • Ada power outlet (port charger ponsel)
  • Punya lampu hazard
  • Sorot lampu utama terang dan luas
  • Tenaga tengah dan atas merata berkat teknologi VVA
  • Suara putaran mesin lebih halus dari mesin Nmax
  • Jok empuk dan nyaman, khas jok Yamaha
  • Dimensi jok panjang dan lega
  • Dek depan (ruang pijak kaki) luas
  • Handling cukup lincah meski bodi gambot
  • Shock sub tank, tingkat peredaman sedang

Kekurangan
  • Konsumsi bahan bakar terbilang boros menurut hasil test Mang Kobay

Tapi itu dalam situasi lalu-lintas macet.

  • Tempat duduk (jok) terlalu tinggi untuk rata rata orang Indonesia, terutama jika segmentasinya kaum hawa
  • Jarak antara mika speedometer dengan display terlalu jauh
  • Panelmeter tidak tampak jelas jika tersorot terik matahari
  • Fitur panelmeter kalah lengkap dari produk kompetitor pada kelas yang sama
  • Bagasi terlalu kecil berbanding ukuran bodinya yang gambot
  • Jok terlalu panjang, handling bisa kurang stabil jika penumpang duduk terlalu jauh ke belakang
  • Suspensi belakang mentok saat berboncengan
  • Ada vibrasi pada akselerasi awal
  • Ada kasus smart key error
  • Lampu belakang (lampu rem) belum LED
  • Perlu waktu untuk menilai kesesuaian antara kapasitas mesin dengan desain bodi
  • Selisih harga tipe S dan tipe standar mencapai Rp2.8 jutaan sehingga perlu penjelasan detail oleh sales kepada calon konsumen

(Mtb).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *