Review Ini Adalah Jawaban dari Beberapa Keluhan Mio M3 125

Motorisblog.com – Om Bro…!! Tahu kenapa banyak orang yang mencari informasi perkara keluhan Mio M3 125 di internet??? Jawabannya simple… Yang jelas ialah karena skutik entry-level besutan pabrikan garpu-tala ini masih kurang bisa meyakinkan para konsumen Indonesia. Kenapa? Pastinya karena banyak hal… Bukan semata-mata karena mutu produknya, tapi lebih pada strategi marketingnya, kualitas SDM-nya, dan lain sebagainya…

Tapi bukan itu yang akan Mtb bahas kali ini… Terlalu panjang dan terlalu kompleks. Mtb hanya akan bahas dari sisi produknya saja…

Review Test Ride Yamaha Mio M3 125 2018

Lagi… Telat… Launchingnya udah dari kapan, Mtb baru review sekarang. Wkwkwkwk…!! Tapi yo ngga apa-apa. Mtb puas bikin review ini setelah test langsung, meski cuma test singkat.

Awal cerita… Pagi ini Mtb abis nganterin keponakan ke sekolah. Pas mau pulang, Mtb lihat Abah Yayat, tetangga Mtb di Perumahan Permata Indah Regency Cisaga lagi markir mongtornya, Mio M3. Penasaran… Mtb test singkat lah itu mongtor…

Dilihat dari plat nomornya, Mio M3 ini turun dari dealer pada bulan Januari 2018. So… ada kemungkinan ini motor racikan tahun 2017 akhir…

Yo wes, langsung reviewnya ajah…

Desain Bodi
yamaha mio m3 125

Sebelumnya Mtb klarifikasi dulu, bahwa perkara desain, itu urusannya dengan selera. So, pandangan ini juga jelasnya subyektif, mengikuti selera Mtb.

Yamaha menyebut Mio M3 sebagai motor skutik berbodi ramping. Dan memang jika di pantau dari bagian depan, ini motor jelas tampak ramping. Tapi kalo dilihar dari samping dan belakang, pandangan mata Mtb menangkap kesan “gendut”. Sudah itu, garis-garis body-nya tajam. Jadi kesannya wagu… Sporty tapi gendut, jadi gimana ya??

yamaha mio m3 125

Mtb sih prefer Mio S kalo perkara desain. Perfect lah untuk Mio S itu untuk ukuran skutik entry-level. Tapi ya jelas ngga bisa disamain… secara, segmentasinya beda.

Mio S fokus pada konsumen perempuan, sementara Mio M3 lebih umum… bahkan cenderung lebih ke “laki-laki”.

Yaa… meskipun secara hak, konsumen bebas mau pilih dan mau beli yang mana… Ngga peduli gender. Mau pria/wanita, bebas mau beli motor apa juga…

Ergonomi & Handling

Seperti pakem Yamaha, ketinggian stang Mio M3 pun terasa lebih pendek dari skutik-skutik Honda. Model stangnya juga serasa rada menekuk kedalam. (Bener ngga ya? Apa cuma perasaan aja…??).

Enak sih handlingnya… Enteng buat meliuk-liuk… Pantesnya enak buat selap-selip di perkotaan.

Akselerasi & Kapasitas Mesin

Tetap mewarisi karaktet Mio Series… Feelnya, putaran gas mengayun dulu, mengumpulkan putaran rpm, setelah itu motor terus njengat… serasa melompat. Jadi feelnya kaya motor manual, hanya beda di putaran rpm-nya saja…

Karakter ini berlawanan dengan skutik-skutik pabrikan sayap dimana gigi masuk saat rpm masih relatif rendah.

Kemudian perkara kubikasi silinder…

Dikelas paling bawah, produk tetangga masih setia di angka 110cc. Hal ini tentu menjadi kelebihan tersendiri bagi Mio M3 125. Kubikasi mesin lebih besar yang dikawinkan dengan karakter mesin overstroke khas Yamaha, kemudian berpoligami dengan setting mengayun pada putaran gasnya, jelas menjadikan torsi Mio M3 sangat berisi diputaran bawah.

Tapi ini bandingannya vs produk kompetitor yang sekelas secara harga dan segmentasi lho ya… Jangan sekali-kali Om Bro membandingkannya dengan motor sport 250cc. Wkwkwkkwk…!! Jelas ngga akan sebanding torsi & akselerasinya. Wkwkwwk…!! Gile lu ndro…

Bagasi 10,1 Liter

Bagian ini ngga seberapa sih ya… secara, kompetitor juga bagasinya gede-gede… Tapi tetap lebih baik dibanding motor-motor generasi terdahulu yang bagasinya kecil-kecil.

Tangki Bahan Bakar 4,2 Liter

Ini juga ngga gede-gede amat dibanding produk tetangga, tapi lumayan besar dibanding jaman tangki motor bebek & skutik masih dikisaran 3,5 liter – 3,7 liter…

Multifunction Key

Mio M3 sudah menerapkan sistem kunci multifungsi, dimana lubang kunci kontak juga merupakan pembuka kunci jok. Lebih praktis… Badan Om Bro ngga harus miring-miring pas mau buka jok motor. Wkwkwkk….!!

Lubang kunci kontaknya juga sudah berpengaman tutup bermagnet.

Stand Side Switch
standar samping yamaha mio m3 125

Meski sudah didahului oleh kompetitor, namun Mtb mengapresiasi kemauan Yamaha untuk berubah. Fitur yang sepele ini terbukti telah menjadi salah satu daya tarik produk kompetitor di masa lalu hingga jaman now.

Speedometer & Eco Indicator
panel speedometer yamaha mio m3 125

Meski panel speedometer dan fuel-meternya masih analog, Yamaha Mio M3 telah dilengkapi lampu Eco Indicator. Lampu ini akan menyala ketika Om Bro/Sista berkendara pada kecepatan 20 km/jam – 60 km/jam. Pertanda kecepatan tersebut merupakan angka paling efisien dalam hal konsumsi bahan bakar Mio M3.

Blue Core

Bagi Mtb sih ini bukan fitur yang uwow… Mengingat pabrikan sebelah juga punya eSP.

Keduanya punya teori kerja yang sama, yaitu meningkatkan performa sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar dengan cara meminimalisir friksi (gesekan) antar komponen di dalam mesin.

Namun begitu, meski keduanya punya teknis yang sama, sekali lagi Mtb katakan bahwa Yamaha lebih mau bermurah hati dalam hal kapasitas mesin… 125cc, jelas lebih besar dari kompetitor di kelas yang sama.

Smart Lock
smart lock yamaha mio m3 125

Lagi… Meskipun sudah ketinggalan dibanding merk sebelah, tapi Yamaha menciptakan sesuatu yang berbeda dalam hal fitur pengunci rem belakang.

Smart Lock System punya Yamaha jauh lebih mudah penggunaannya,… yaitu cukup dengan menggunakan satu tangan saja.

Forged Piston & Diasil Silinder

Meskipun (konon) kedua fitur ini merepotkan kala harus oversize piston (silinder tidak bisa di korter), namun dengan perawatan dan servis rutin yang baik, Yamaha mengklaim bahwa kombinasi Forged Piston & Diasil Silinder mampu bertahan hingga 3 kali lebih awet dibanding piston & silinder berbahan baja biasa.

Selain itu, Forged Piston juga lebih ringan sehingga dapat meningkatkan performa mesin si motor.

Positioning Saklar Stang Kiri
saklar stang kiri yamaha mio m3
Saklar Stang Kiri Yamaha Mio M3

Om Bro…!! Mungkin bagi sebagian orang, ini hanyalah hal sepele. Tapi buat Mtb, hal ini jadi penting lantaran berpengaruh pada kenyamanan saat berkendara.

saklar stang kiri honda spacy fi
Saklar Stang Kiri Honda Spacy FI

Diakui atau tidak, bagi Mtb posisi saklar lampu sein punya Honda lebih nyaman.

saklar stang kiri honda spacy fi
Saklar Stang Kiri Honda Spacy FI

Intinya, dengan penempatan saklar sein diposisi paling bawah, jempol tangan kiri kita lebih mudah mengungkit saklar untuk menyalakan sein kiri, tanpa harus menggeser cengkraman tangan kita pada handle stang. Berbeda dengan Yamaha, dimana posisi saklar lampu sein ada di tengah… maka kita musti menggeser genggaman ke arah atas-depan supaya posisi jempol kita bas untuk mengungkit saklar ke arah sein kiri.

saklar stang kiri honda spacy fi
Saklar Stang Kiri Honda Spacy FI

Ngga percaya…?? Silahkan Om Bro coba sendiri.

Jika Om Bro merasa tidak nyaman dengan posisi saklar sein kepunyaan Honda, berarti Om Bro belum terbiasa. Dan jika Om Bro keukeuh menganggap bahwa posisi saklar sein punya Yamaha Mio M3 lebih baik, berarti Om Bro adalah Fansboy Yamaha. Wkwkwkk…!!

Kita obyektif aja lah ya… Bagus bilang bagus, jelek bilang jelek. Hokeh, Om Bro??

Dek & Sayap
sayap dalam dek yamaha mio m3

Mtb sempat mengernyitkan dahi di bagian ini… Entah ada masalah apa dengan Mio M3 milik Abah Yayat, ko tebeng bagian dalam-depan (sayap bagian tengah) kendor dan getar. Padahal biasanya bodi motor-motor Yamaha selalu lebih kompak… lebih erat dan tidak mudah kendor.

So… ngga tau nih… entah bermasalah dari sononya, atawa bermasalah pada pemiliknya.

Kemudian jika bicara perkara selera Mtb pada desain sayap Mio M3, jujur saja Mtb tidak suka. Ada bagian meruncing (menonjol) kedalam pada vertikal sayapnya (bagian samping)… jadi kurang leluasa pada bagian lutut saat berkendara. Tapinya… tonjolan ini bermanfaat ketika kita membawa galon air minum. Si galon jadi tertahan dan tidak mudah terlempar ke samping.

Tapi pun bukan berarti Mio M3 hanya cocok buat tukang galon. Wkwkwkk…!! Itu hanya penggambaran saja bahwa desain ini punya kelebihan dalam sesuatu hal.

Sepertinya bermanfaat juga ketika bawa barang lain…

Sambungan Arm
sambungan arm yamaha mio s
Sambungan Arm Yamaha Mio S

Poin ini sudah Mtb bahas pada review Mio S, tempo hari. Intinya, Yamaha sudah lebih baik dengan model sambungan arm ganda. Efek positifnya ialah pada reduksi gerataran yang maksimal sehingga feel-nya lebih lembut dibanding generasi Mio terdahulu.

Mtb ngga pahan deh apa namanya… Mtb sebut “sambungan arm” saja untuk gampangnya.

Dulu, dari jaman Mio Karbu sampai Mio J, getaran mesin dan goncangan dari jalan sangat terasa ke stang. Bahkan Xeon RC punya kakak ipar yang pernah Mtb jajal pun demikian. Padahal Xeon RC sudah menggunakan sambungan ganda.

Malahan X-Ride 115 yang suspensinya empuk pun getaran ke stang-nya masih cukup terasa kencang.

Nah… di Mio M3 dan Mio S, vibrasi tersebut sudah jauh berkurang.

Suspensi dan jok
suspensi belakang yamaha mio m3

Bagian ini bahasannya seperti biasa… Suspensi stiff Yamaha memang cenderung keras. Tapi ada hal lain yang berhubungan dengan sambungan arm di atas sehingga redaman terasa cukup baik meski Om Bro berkendara dijalanan jelek sekalipun.

Dan feelnya, suspensi depan Mio M3 (dan Mio S) juga sudah lebih lembut dibanding Mio Karbu dan Mio J. Jauh bedanya… (silahkan dikoreksi jika salah (bisa saja ini hanya perasaan Mtb saja)).

Lubang Pengisian Oli Gear
lubang pengisian oli gear yamaga mio m3

Ini lagi, hal sepele yang Mtb rasa besar manfaatnya. Model lubang pengisian oli gardan punya skutik-skutik Yamaha selalu berada di posisi atas (menghadap ke atas). Tidak seperti lubang pengisian oli gear Honda Spacy punya Mtb yang berada disamping. Susah pas ganti oli gear…

Ukuran Ban Mio M3
ukuran ban yamaha mio m3

Bagian ini sepertinya juga menjadi salah satu kekurangan Mio M3. Ukuran bannya terlalu kecil, tidak seimbang dengan model bodinya yang (Mtb anggap) gendut. (Yamaha sih menganggapnya ramping). Tapi memang Yamaha menawarkan varian lain, yaitu Mio Z yang punya ban & velg lebih lebar.

Ukuran ban kecil Mio M3, Mtb rasakan sangat tidak nyaman ketika melibas jalanan rusak. Feelnya jadi ada efek limbung…

Tampilan Kolong Padat
kolong yamaha mio m3

Nah, ini Mtb suka. Kolong Mio M3 tampak padat… tidak ada kesan kopong ke arah mesin ketika di intip dari samping kanan-belakang. Kemungkinan, selain memang di desain rapat, hal ini juga terpengaruh dari ketinggian suspensi belakang Mio M3 yang lebih pendek dari kompetitor..

Rem
rem depan cakram yamaha mio m3

Seperti biasa ya… rem Yamaha memang selalu lebih pakem dari tetangganya. Komposisinya pun pas antara depan dan belakang. Dipakai hard breaking pun mantap…

Seimbang lah ya… dengan performanya… Akselerasi yang njengat tentu kudu dibarengi dengan rem yang mumpuni. So… patutnya enak pisan buat stop & go di kepadatan lalu lintas perkotaan.

Tapi sayangnya…. (lanjut ke poin berikutnya…)

Komstir/Kemudi/Stang

Nah… ini penyakit kronis Yamaha yang hingga sekarang tak kunjung sembuh…

Untuk ukuran motor Abah Yayat yang baru menginjak 10 bulan, mestinya komstirnya masih bagus. Tapi ya itu…

Seperti pula keluhan Pa Tito, teman Mtb pemilik Jupiter MX 150 (bukan King), juga share artikelnya Mang Kobayogas pada review Aerox 155, begitu pun dengan komstir Mio M3 punya Abah Yayat ini.

Ada feel bahwa setelan komstir seperti terlalu erat. Tapi ngga seret juga. Serasa pas…

Nah, disini bingungnya… Seperti terlalu erat, seperti sudah pas… dan ketika stang dilepas pun lancar… Tapi kalo sudah membuang ke salah satu arah, misalnya ke kanan, maka dia sulit balik dengan sendirinya. Begitu juga jika pas kebuang ke kiri…

Tapi bukan ngebuang sebelah seperti motor yang sudah pernah ndlosor… Bukan seperti itu feelnya…

Pokonya susah lah digambarinnya…

Intinya, sewaktu Mtb test Mio S punya Kang Heri, tempo hari, stangnya enak pas lepas tangan. Malahan motor Spacy punya Mtb yang udah 5 tahun juga masih enak.

Nah ini… motornya Abah Yayat ini, ada potensi, jika, setelan komstir sedikit di longgarkan, maka bakalan koplak.

Jadi pertanyaannya, apa iya hanya dalam 10 bulan komstir Mio M3 sudah demikian? Atau mungkin Abah Yayat rada-rada jorok pemakaiannya??

Entahlah…

Dan selama ini, Mtb masih berasumsi bahwa rentan-nya komstir motor-motor Yamaha (salah satunya) disebabkan oleh kepakeman rem depan…

Laahh… Apa kepakeman rem depan Yamaha musti di kurangi?

Ya ngga juga… yang harus itu kualitas komstir yang ditingkatkan.

Kemudian, pada Mio M3 ini ko ada celah pada bodi plastik bagian cover stang dengan bodi bagian bawah-tengah sayap… Rongganya lebar lho… Sampai kelihatan batang perangkat stangnya.

komstir yamaha mio m3

Entah ini terjadi pada semua Mio M3 atau ada kelainan dengan motor Abah Yayat?? Entah juga…

Kabel Gas Push & Pull Throttle
kabel gas yamaha mio m3

Ini enak nih… Model grip gasnya pake 2 kabel. Kabel tarik dan kabel ulur. Efek baiknya jelas putaran grip gas jadi lebih ringan. Dan putaran pada throttle body lebih aman dari macet. Jika putaran tersendat, maka ia akan bergerak seiring dengan kabel ulur.

Advance Key System (AKS)

Sayangnya motor Abah Yayat merupakan tipe standar dari Mio M3, jadi, ngga punya fitur ini.

Sistem kunci dari Mio M3 terintegrasi dengan Answer Back System dengan cara menekan tombol kunci satu kali. Juga terdapat fitur Auto Open Key Shutter dengan menekan dan menahan tombolnya selama dua detik, maka lubang kunci akan otomatis terbuka dan lampu pada lubang kunci menyala.

Stop & Start System (SSS) + Quick Start

Istilah gampangnya, kalo di brand Honda ini ISS. Namun begitu, Yamaha mengklaim bahwa fitur Quick Start miliknya lebih baik dibanding produk kompetitor.

Ketika tombol SSS berada pada posisi ON, jika sebelumnya kecepatan motor sudah pernah mencapai 10 km/jam dan suhu mesin mencapai 50 derajat Celcius, maka mesin akan otomatis mati jika motpr berhenti dalam waktu 5 detik (misalnya di lampu merah). Setelah itu, mesin akan menyala kembali dengan cepat saat grip gas dibuka.

Harga Yamaha Mio M3 OTR Jakarta

Saat artikel ini dibuat, situs resmi Yamaha Indonesia mematok banderol harga Rp16.45 juta untuk tipe AKS SS dan Rp15.55 juta untuk tipe standar.

Worth lah ya… Dengan uang segitu, Om Bro udah dapet skutik 125cc dimana kompetitor punya cc lebih kecil untuk kisaran harga itu.

Kenapa patokannya cc?

Ya itu patokan dasarnya….

Pada umumnya, motor cc besar biasa lebih mahal ketimbang yang cc-nya lebih kecil.

Ngga percaya?

Bandingkan saja motor 150cc dengan motor 250cc. Harganya jauuuhhh…

Lah, kan fitur berpengaruh juga?

Betul. Tapi itu hanya faktor pendukung… Meskipun banyak orang yang suka dengan fitur-fitur modern jaman now…

Keluhan Mio M3 125

Dari beberapa sumber, Mtb membaca ada beberapa keluhan atas motor Mio M3 ini. Tadinya Mtb kira beneran, tapi ternyata, setelah Mtb perhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, itu bukanlah hanya masalah Mio M3 saja. Itu masalah motor matic pada umumnya, seperti tenaga ngempos, mesin mendadak mati, juga tidak bisa langsam/idle/stasioner.

Kenapa Mtb katakan itu sebagai masalah umum motor skutik dan bukan hanya masalah Mio M3 saja??

Karena dari dulu-dulunya Mtb sudah sering mendapati masalah seperti itu pada beberapa skutik. Termasuk pada Si Panci kesayangan Mtb nan gendut dan lemot…

Om Bro…!! Dari apa yang Mtb alami dan dari beberapa sharing serta dari hasil sharing dengan mekanik bengkel Bagja Motor, Cisaga, Ciamis, Mtb menyimpulkan bahwa motor matic memang lebih rentan mendapati masalah-masalah di atas dibanding motor-motor manual.

Mengapa demikian?

Karena rpm mesin motor matic lebih tinggi dibanding mesin motor manual. Baik secara langsam atau pun saat berjalan. Dan karena kitiran mesinnya yang lebih tinggi, maka friksi (gesekan) antar komponen di dalam mesin pun lebih banyak dialami oleh motor matic ketimbang motor manual. Terutama gesekan antara piston dan dinding silinder.

Nah, karena tingkat gesekannya yang lebih tinggi, maka piston dan silinder mesin motor matic pun lebih cepat aus dibanding motor manual.

Pada akhirnya, kalau sudah aus, berarti harus minum.

Wkwkwkwk…!! Itu hauuusss…!! Gile lu ndro…

Ketika sudah aus, maka terjadilah kebocoran kompresi atau biasa disebut loss kompresi. Loss kompresi inilah yang bikin motor mogok, karena, mesin tidak akan bisa hidup tanpa adanya kompresi… Harus kedap… tidak boleh ada kebocoran (celah) di antara piston dan dinding silinder.

Itulah fungsi dari ring seher. Untuk memastikan bahwa tidak ada jarak antara piston dengan dinding silinder. Ring seher inilah yang bikin kedap.

Selain masalah kebocoran kompresi, pada teknologi injeksi motor jaman now, pabrikan tidak menganjurkan untuk sering-sering servis injektor. Contohnya Yamaha yang mengajurkan servis injektor setiap 10,000 km. Honda bahkan tidak menganjurkan servis rutin injektor.

Jadi, setiap servis rutin per-3000 km (Yamaha)/ 4000 km (Honda), itu injektor, throttle body dan saluran bahan bakar ngga di sentuh.

Pada akhirnya, bagi orang yang tidak paham/tidak peka, mereka tidak pernah melakukan perawatan pada injektor sampai timbul gejala-gejala ngadat.

Termasuk Mtb sendiri juga sudah 5 tahun belum pernah servis injektor. Wkwkwkkkk…!!

Jadi intinya, jika ada beberapa komentar pemakai Mio M3 akan masalah-masalah tersebut, sejatinya itu masalah umum pada semua motor matic.

Itu yang dapat Mtb tangkap hingga saat ini… (silahkan Om Bro tambahkan pada kolom komentar jika ada yang kurang/salah).

Kesimpulannya, masalahnya ada di pabrikan… Sudah tahu mesin matic kerjanya lebih berat, kenapa ngga dikasih piston & silinder yang lebih bagus?

Alasannya adalah perkara cost produksi.

Tentunya tidak akan rugi jika pun pabrikan kasih piston & silinder dengan kualitas yang lebih bagus. Ngga rugi sih… Tapi keuntungan perusahaan jadi kurang banyak. Wkwkwkwkwkk…!! Betul??

Spesifikasi Yamaha Mio M3

Tipe mesin
. Air cooled
. 4-stroke
. SOHC
. Single cylinder
. 125cc

Diameter x Langkah
. 52,4 x 57,9 mm

Perbandingan kompresi
. 9,5:1

Daya maksimum
. 7 kW/8000 rpm

Torsi maksimum
. 9.6 Nm/5500 rpm

Sistem starter
. Electric starter
. Kick starter

Sistem pelumasan
. Wet sump

Kapasitas oli mesin
. Total: 0,84 Liter
. Berkala: 0,8 Liter

Dimensi
. Panjang: 187cm
. Lebar: 68,5cm
. Tinggi: 103,5cm

Jarak sumbu roda
. 126cm

Jarak terendah ke tanah
. 13,5cm

Tinggi tempat duduk
. 75cm

Berat isi
. 94 kg

Kapasitas tangki bensin
. 4,2 Liter

Tipe rangka
. Underbone

Sistem pengapian
. TCI

Sekilas Yamaha Mio M3

Pada penghujung tahun 2017, PT.YIMM (Yamaha Indonesia Motor Manufacturing) merilis varian baru Yamaha Mio M3 125 AKS SSS dengan velg warna emas dan variasi striping baru.

Desain bodi berubah dari versi standarnya. Headlamp tetap masih menggunakan bohlam konvensional.

Sebelumnya, pada akhir tahun 2014, dealer Yamaha FSS DDS Jakarta telah melakukan Yamaha uji ketangguhan mesin Mio M3 125 Blue Core. Test tersebut dilakukan dengan menyalakan mesin selama 30 hari non stop di area parkir FSS, Jalan Letjen.Soeprapto No.402 Jakarta Pusat.

Putaran mesin di set pada 4,500 rpm, dimulai pada 13 November 2014 pukul 08.00 hingga 13 Desember 2014.

Uji motor ditempatkan di dynotest sehingga roda belakang berputar laiknya berkendara secara normal. Sementara bodi motor ditahan menggunakan tali sebagai simulasi beban yang analoginya adalah beban pengendara pada pemakaian sebenarnya.

Dari uji tersebut, konsumsi bahan bakar Yamaha Mio M3 didapat di angka 61,76 km/liter dengan perhitungan kecepatan 35 km/jam.

Hasil tersebut tentu tidak dapat mewakili konsumsi bbm pada pemakaian harian yang sebenarnya, mengingat kecepatan pada saat pengujian adalah konstan tanpa stop & go. Namun begitu, setidaknya bisa memberikan sedikit gambaran angka konsumsinya. (Mtb – Keluhan Mio M3 125).

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: