review honda crf150l

Review Honda CRF150L, Penjualan, Konsumen, Teknologi Dll…

Advertisement

Motorisblog.com – Review Honda CRF150L… Om Bro… Menarik mengingat dia adalah pemain baru disegmen ini. Om Bro sekalian tentunya tahu bahwasanya sebelum ini, hanya ada Kawasaki KLX dan D-Tracker saja yang bermain di kelas trail 150cc.

Advertisement

Respon pasar pada Honda CRF150L

Menurut hasil olah TKP dari viva.co.id, wilayah Jawa Barat merupakan pasar paling moncer untuk Honda CRF150L. Begitu info dari PT.Daya Adicipta Motora (DAM) selaku distributor resmi motor Honda Jawa Barat. Bahkan kabarnya pihak distributor sampai kewalahan dalam memenuhi pesanan.

Sejak rilis resminya, hingga saat ini Honda CRF150L telah terkirim pada konsumen sebanyak 784 unit. Dan itu pun masih ada 1.700 unit indent yang belum terpenuhi. Dan angka tersebut menurut Mtb merupakan jumlah yang bagus, mengingat motor jenis garuk tanah ini wilayah pasarnya tidak seluas motor harian.

review honda crf150l

Usia dan profesi rata-rata konsumen Honda CRF150L

Masih menurut PT.DAM, konsumen CRF150L di Jawa Barat pada umumnya berusia dikisaran 30-35 tahun dengan profesi rata-rata sebagai wiraswasta atau pegawai swasta. Dapat dipahami karena kebanyakan pembeli CRF150L bukanlah orang yang pertama kali mempunyai motor. Tujuannya pun untuk menyalurkan hobi sehingga (pasti) pembelinya pun orang-orang dengan kondisi keuangan mapan. Biasanya, motor jenis off-road seperti ini merupakan motor kedua atau ketiga setelah mereka memiliki motor lain yang digunakan untuk transportasi sehari-hari.

Perihal mesin Honda CRF150L

CRF150L menggunakan mesin injeksi berkapasitas 150 cc yang identik dengan mesin Honda Verza. Namun begitu, ada beberapa setting yang tentunya telah disesuaikan untuk mampu melahap medan off-road.

Mesin CRF150L diklaim mampu memuntahkan tenaga hingga 12 DK dengan torsi sebesar 12,43 newton meter (Nm). Power dan torsi tersebut kemudian disalurkan dengan sistem transmisi manual 5 percepatan.

Isu perkara Honda CRF150L yang terbakar

Baru-baru ini ramai tersiar kabar perihal CRF150L yang terbakar dimedan off-road. Dan memang benar hal itu terjadi.

Lalu, apakah sedemikian buruknya mutu produk Honda?

Secara pasti Mtb tidak tahu kebenarannya. Namun setelah Mtb cari ke berbagai sumber, nyatanya ada hal lain yang memicu kejadian tersebut. Konon, si pemilik sebelumnya telah melakukan modifikasi pada motornya, yakni mengganti injektor dengan karburator.

Advertisement

Nah… itu… memang kalau sudah bicara perkara hobi, kadang seseorang tidak mudah merasa puas dengan apa yang disodorkan dari pabrikan. Seperti cerita tetangga Mtb yang menghabiskan dana Rp18 juta demi memodifikasi Kawasaki KLX 150 miliknya. Uwow kan? Lebih dari setengah harga motornya, Om Bro…!!

Bayangkan kalau uang Rp18 juta dipakai beli es cendol. Wkwkwkwkwk…!! Bisa banjir seisi rumah plus halamannya.

Komponen kopling juga rentan rusak

Secara umum, untuk motor standar dalam penggunaan harian, kerusakan kopling dapat cepat terjadi oleh kesalahan pemakaian. Misalnya karena sering menekan tuas kopling setengah ketika berkendara. Mtb tidak tahu persis bagaimana penggunaan diarena off-road, tapi secara logika pasti sama. Apa lagi dengan medan yang berat, pasti kerusakan akan lebih mudah terjadi karena kesalahan tersebut. Utamanya pada komponen kanvas kopling menjadi lebih cepat habis.

Teknologi BAS pada Honda CRF150L

CRF150L dilengkapi dengan teknologi Bank Angle Sensor (BAS). Fungsinya adalah untuk mematikan mesin secara otomatis jika motor terjatuh.

Seperti Om Bro tahu, didunia persilatan off-road, ndlosor di arena adalah hal lumrah. Maka itu, Honda pun telah mengantisipasinya dengan teknologi BAS tersebut. Cara kerjanya adalah dengan memutuskan aliran bahan bakar dari injektor ke ruang bakar untuk mematikan pengapian.

Bahayanya jika tanpa teknologi tersebut, saat terjatuh, motor berpotensi bergerak liar tanpa arah yang dapat membahayakan keselamatan.

Kemudian, jika si motor terjatuh dan mesin mati secara otomatis, Om Bro harus mematikan kontak dulu sebelum menyalakan mesin kembali. Karena kalau tidak, mesin tidak akan dapat dihidupkan karena sistem BAS belum dinetralisir.

Sensor pada teknologi BAS akan bekerja pada saat motor mengalami kemiringan sebanyak 50 derajat. Karenanya, meskipun dia tidak jatuh, mesin akan tetap mati jika motor tidak ditegakkan selama lima detik. (Mtb – Review Honda CRF150L). Sumber: viva.co.id

Advertisement

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *