Spesifikasi dan Review Honda CB100 + 125: Kesannya Dalam

Advertisement

Motorisblog.com – Spesifikasi dan Review Honda CB100 dan 125cc – Melihat Honda CB100 terparkir di halaman Mesjid Nuurul Huda, Lemahneundeut, Cisaga, jadi ingat paman dan sepupu ipar Mtb yang dulu juga pernah punya. Hanya saja bedanya, kalau sepupu ipar (Mas Udin) punya 100 cc, sedangkan paman Mtb (Pak Dirin) pakai yang 125 cc lansiran tahun 1985 (kalau tidak salah).

Advertisement

Mereka memiliki motor-motor tersebut pada akhir dekade 1990-an, jadi mereka membelinya dengan kondisi second.

Pada awal peredarannya di pasaran (dekade 1970-an), Honda CB tergolong motor yang gagah, mengingat saat itu motor-motor jenis cub (bebek) hanya memiliki kapasitas mesin di kisaran 70-80 cc saja.

Dan kegagahan tersebut masih terbawa sampai pada akhir 90-an itu tadi. Pasalnya di akhir abad 20 tersebut, sepeda motor masih menjadi kendaraan yang tergolong agak langka di kampung Mtb (Kedungwaringin, Langensari).

Honda Cb100 1974
Honda Cb100 1974 (Sumber: youtube.com)

Kesan Menunggang Honda Cb125

Dipanggil “Dudung” Gara-gara Sinetron ‘Ali Topan’

Anak 70-80an pasti tahu film “Ali Topan Anak Jalanan”. Sedangkan anak 90-an pastinya tahu versi sinetronnya. Kalau tidak salah, stasiun TV yang menyiarkan sinetron ini adalah Sctv.

Ada perbedaan antara film layar lebar vs sinetron Ali Topan, yaitu:

  • Pada versi layar lebar, tunggangan Ali Topan adalah motor trail 2 tak (entah apa merknya)
  • Sedangan pada versi layar kaca, Ali Topan menunggangi motor jenis cooper (kayaknya sih Harley Davidson)

Lalu apa hubungannya dengan motor Honda CB klasik 100 dan 125cc??

Honda Cb100 1978 (Sumber: olx.co.id)

Di jaman itu, selain Binter Mercy, Honda CB merupakan salah satu motor yang menjadi favorit modifikasi model cooper. Tidak terkecuali CB125 milik paman Mtb.

Sebenarnya Honda CB125 milik paman tidaklah di modifikasi penuh sampai benar-benar mirip motor boober, melainkan hanya mengganti tangki bahan bakar dengan model kodok dan mengganti jok dengan model double seat (tempat duduk pembonceng lebih tinggi dari jok pengendara).

Nah, karena motor paman di mirip-miripin sama motornya Ali Topan (versi sinetron diperankan oleh Ari Sihasale), maka orang-orang sekitar memanggil paman Mtb dengan sebutan “Dudung”.

Wkwkwkwk… Kok nggak nyambung?

Yup. Soalnya menurut teman-teman, paman Mtb nggak mirip Ali Topan, jadi cukup di panggil Dudung saja.

Dudung adalah nama peran dari teman dekatnya Ali Topan dalam sinetron tersebut.

Padahal peran Dudung bukan seorang biker. Kendaraannya mobil. Tapi ya sudahlah. Ini cuma kisah paman Mtb.

Eksistensi Honda Cb Retro (Klasik)

Tak Lekang oleh Waktu

Setelah Honda menghentikan produksi CB retro, maka muncullah GL series sebagai penggantinya. Mulai dari GL 100, GL Max, GL Pro, GL Pro Neo Tech, bahkan Mega Pro dan Tiger pun masih termasuk dalam keluarga GL.

Honda Tiger 2000 Sampai Tiger Revo, Sejarah dan Spesifikasi

Kepopuleran GL series tidak kalah dengan CB retro series. Bahkan Honda Tiger telah menjadi salah satu legenda tiada tanding di Indonesia (dalam jumlah penjualan dan usia peredaran di kelasnya).

Di masa sekarang, eksistensi Honda CB retro justru mengalahkan GL series (setidaknya di jalanan sekitaran Banjar dan Ciamis). Mtb sebut seperti itu karena dijalanan Mtb lebih banyak melihat CB retro di banding GL series (kecuali Honda Tiger dan Mega Pro). Fakta itu jelas menunjukkan bahwa Honda CB retro lebih memiliki banyak penggemar setia dibanding GL lawas.

Spesifikasi dan Review Honda Cb100 dan 125

Hokeh, sekarang kita review Honda Cb100 dan 125cc dari sudut pandang spesifikasi teknisnya.

Mesin

  • 100: 4 stroke, OHC, 2 katup
  • 125: 4 stroke, OHC, 2 katup

Sistem pendinginan

  • 100: Udara
  • 125: Udara

Jumlah silinder

  • 100: Tunggal, tegak
  • 125: Tunggal, tegak

Isi silinder

  • 100: 99 cc
  • 125: 122 cc

Sistem bahan bakar

  • 100: Karburator
  • 125: Karburator

Diameter × langkah (bore × stroke)

  • 100: 50,5 × 49,5 mm
  • 125: 56 × 49,5 mm

Rasio kompresi

  • 100: 9,5:1
  • 125: 8,0:1

Meski Honda CB125 usianya lebih muda, namun terlihat mesin CB100 justru lebih bertenaga secara satuan. Hal tersebut tersurat dari perbandingan kompresi CB100 yang lebih tinggi dibanding saudara mudanya.

Advertisement

Power maksimum

  • 100: 11,5 HP / 10500 rpm
  • 125: 8,0 BHP / 8000 rpm

Torsi maksimum

  • 125: 0,83 kgf.m / 4000 rpm

Kopling

  • 100: Manual
  • 125: Manual, constant mesh, multiplat

Transmisi

  • 100: Manual, 5 percepatan, sistem return
  • 125: Manual, 5 percepatan, sistem return

Kapasitas tangki

  • 100: 10 liter
  • 125: 4,5 liter (rest 0,5 liter)

Trus lagi, walaupun mesinnya lebih kecil, CB100 justru dibekali tangki bahan bakar dengan kapasitas yang lebih besar.

Yang terlihat secara kasat mata sih sepertinya Honda bermaksud membuat CB125 menjadi lebih ramping dan ringan dibanding saudara tuanya, CB100.

Kapasitas oli mesin

  • 125: 1 liter

Dimensi (panjang × lebar × tinggi)

  • 125: 195,5 × 84 × 109,5 cm

Jarak sumbu roda

  • 125: 128 cm

Jarak terendah ke tanah

  • 125: 26 cm

Ini hal menarik menurut Mtb. Ground clearance CB125 jangkung bangeett. Pastinya sangat aman dari benturan polisi tidur ataupun bebatuan di jalanan terjal. Bandingkan dengan motor-motor sekarang yang rata-rata kolongnya hanya belasan senti saja.

Tapi wajar sih, dijaman itu kan jalanan di Indonesia (mungkin) belum sebagus sekarang. Banyak jalanan rusak dan terjal, jadi perlu ground clearance yang mumpuni.

Berat kendaraan

  • 100: 92 kg
  • 125: 88 kg

Inilah hasil dari pengurangan kapasitas tangki bahan bakar dari CB100 ke CB125. Bobotnya jadi berkurang 4 kg.

Perbedaan bobot sebanyak itu di tambah dengan kapasitas silinder yang lebih besar tentu membuat performa CB125 menjadi jauh berbeda dengan kakaknya.

Rangka

  • 125: Semi double cradle

Suspensi depan

  • 100: Teleskopik
  • 125: Teleskopik

Suspensi belakang

  • 100: Swing arm dengan peredam kejut ganda
  • 125: Swing arm dengan peredam kejut ganda

Ukuran ban depan

  • 100: 2,50-18″
  • 125: 2,75-17″

Ukuran ban belakang

  • 100: 2,75-18″
  • 125: 3,00-17″

Yang menarik di bagian ini adalah diameter velgnya. Honda CB100 justru menggunakan velg seukuran Honda Tiger, yaitu 18 inchi. Atau berarti juga Tigerlah yang meniru ukuran roda CB100.

Tapi menurut hemat Mtb, saat itu penggunaan velg berdiameter besar justru di dasari kebiasaan dengan ukuran velg sepeda. Maksudnya, dikala itu kan masih langka motor, banyaknya sepeda. Jadi (mungkin) para insinyur Honda saat itu tidak terfikir untuk menggunakan velg berdiameter kecil.

Rem depan

  • 100: Tromol
  • 125: Tromol

Rem belakang

  • 100: Tromol
  • 125: Tromol

Di jaman itu belum musim motor menggunakan rem cakram. Bahkan motor manual (motor laki) sekelas CB pun masih menggunakan rem tromol.

Caba sekarang ada motor dengan rem double tromol, dijamin tidak akan laku. Wkwkwkwk…

Jaman sudah berubah Om…

Sistem pengapian

  • 100: Platina
  • 125: Flywheel magneto (alternate AC generator)

Bicara soal platina sama seperti bicara perkara karburator.

Maksud Mtb begini:

Dulu, saat teknologi mesin sepeda motor masih dalam masa transisi dari platine ke CDI, banyak orang-orang fanatik yang keukeuh menganggap bahwa platina lebih bagus. Alasannya karena pengapiannya lebih besar dan berimbas pada keluaran power yang lebih besar pula.

Sepertinya pandangan tersebut ada benarnya (bagi sebagian orang). Tapi apa daya, jaman telah menghendaki kepunahan platina. Sama seperti karburator yang sekarang sudah dilindas oleh injeksi.

Mtb sendiri sampai saat ini masih sering mendengar ucapan kesetiaan penggemar mesin karburator. Tapi apa daya, pabrikan sudah tidak memproduksi motor seperti itu lagi (khususnya merk Jepang).

Kalau bagi Mtb sih lebih mengikuti arah perkembangan yang lebih baik. Mau pakai teknologi apa kek, selama dampaknya positif, Mtb akan terima.

Busi

  • 125: NGK D8ES-L / DENSO X24ES

Starter

  • 100: Kick starter
  • 125: Kick starter

Satu hal lagi. Di masa itu belum jamannya motor laki menggunakan electric starter. Jadi semua motor manual di jaman itu hanya menggunakan kick starter. (Mtb – Spesifikasi dan Review Honda Cb100 dan 125cc).

Advertisement

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *