Razia tilang polisi

Prosedur Tilang Polisi dan Cara Menghadapinya

Motorisblog.com – Prosedur Tilang Polisi – Om Bro…!! Diakui atau tidak, kebanyakan orang tidak merasa ikhlas dengan perkara yang satu ini. Maka dari itu, kali ini Mtb bakal share mengenai prosedur, cara menghadapi polisi serta tips agar terhindar dari tilang.

Om Bro…!! Sejak kecil Mtb sudah sering mendengar cerita tentang pelanggaran dijalan.

Sering juga Mtb mendengar cerita-cerita tentang “cara damai” saat seseorang terkena tilang. Padahal jika Om Bro mau mengakui kesalahan dan menerima sanksi tilang sesuai prosedur, maka uang denda yang Om Bro bayarkan tersebut akan masuk ke kas negara.

Tapi faktanya tidak semua orang menyadari hal tersebut, dan cenderung menginginkan “cara damai di tempat”.

Razia tilang polisi

Prosedur Tilang Polisi yang Benar

Ketika seseorang melakukan pelanggaran dijalan, hal yang seharusnya dilakukan oleh petugas (Polisi) adalah dengan memberikan sanksi melalui surat tilang. Didalamnya tercatat data diri pelanggar, pasal yang dilanggar, dokumen yang ditahan (bisa juga kendaraannya), serta identitas polisi yang menilang.

Surat tilang resmi dibuat dalam lima rangkap sebagai berikut:

1. Slip merah untuk pelanggar

Slip merah dari surat tilang diberikan jika si pelanggar merasa keberatan dengan penilangan tersebut. Dengan slip merah ini, pelanggar diberikan kesempatan untuk mengikuti sidang di pengadilan negeri setempat.

Maksudnya adalah: pelanggar diberikan kesempatan untuk membela diri pada persidangan jika dia merasa tidak bersalah.

Jika Om Bro mengalami masalah seperti ini dan memilih untuk menempuh jalur sidang, maka sebaiknya Om Bro untuk datang lebih awal dari jadwal yang tertulis di surat tilang.

Kemudian jika karena sesuatu hal, lantas Om Bro datang terlambat, maka langsung saja ke loket khusus tilang di pengadilan negeri yang dimaksud. Bayarlah denda Om Bro, serahkan copy surat tilang dan ambil SIM / STNK yang sebelumnya ditahan oleh petugas.

2. Slip biru untuk pelanggar

Slip biru diberikan jika pelanggar langsung mengakui kesalahannya dan bersedia membayar denda melalui bank yang bekerja sama dengan Kepolisian.

3. Slip hijau untuk pengadilan

4. Slip kuning sebagai lampiran untuk kepolisian

5. Slip putih sebagai lampiran untuk kejaksaan

Tatakrama / Sopan Santun dalam Proses Penilangan

Poin ini menjadi kewajiban dari petugas Polisi pada pelaku pelanggaran, dan menjadi hak kita sebagai pengguna jalan umum.

Polisi adalah pelayan masyarakat, jadi mereka tidak boleh bersikap kasar, apalagi sampai bersikap arogan.

Lah iya… Logikanya: tidak pantas seorang pelayan bersikap kasar pada majikannya. Betul??

Kecuali jika yang sedang ditangani oleh Polisi tersebut adalah seorang penjahat, ya itu sih entah… Mtb tidak tahu menahu seperti apa wewenang Polisi.

Jika penjahatnya memang berbahaya, tentu Polisi boleh melakukan tindakan yang tegas dan terukur.

Tapi lain cerita ketika yang kita bicarakan adalah soal tilang.

Begini prosedurnya:

  • Tahap pertama, polisi memberhentikan pelanggar
  • Kemudian, polisi wajib menunjukkan tanda pengenal kepada pengemudi yang diberhentikannya

Nah, dibagian ini sepertinya Mtb belum pernah mendapati ada petugas yang menunjukkan tanda pengenal pada pengguna jalan yang tengah diperiksa. Padahal soal ini telah diatur di dalam Pasal 25 UU No. 28 Tahun 1997.

  • Polisi menjelaskan kesalahan pengemudi

Walaupun pada umumnya pelanggar jalanan sudah tahu letak kesalahan yang dia lakukan, tapi petugas tetap harus menjelaskan secara baik-baik mengenai pelanggaran tersebut. Barangkali orang itu memang benar-benar tidak tahu akan kesalahannya.

  • Polisi menahan STNK atau SIM si pelanggar

Jika pelanggar tidak dapat menunjukkan kedua dokumen yang dimaksud, maka polisi akan menahan kendaraan yang bersangkutan.

  • Pengemudi dapat menerima atau pun menolak tuduhan dari Polisi

Seperti yang sudah dibahas di atas, jika pengemudi menolak tuduhan, maka dipersilahkan untuk mengikuti sidang. Sedangkan jika pengemudi menerima tuduhan, maka pengemudi dapat membayar denda tilang melalui bank.

Soal ketentuan denda tilang, sudah diatur dalam UU No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

Nah Om… Dalam hal tilang-menilang, Mtb sarankan jangan menawarkan “uang damai” pada Polisi, karena jika kalian “kena sial”, maka antara penyuap dan yang menerima suap, keduanya bisa terjerat hukum.

  • Pelaku penyuapan terhadap Polisi lalu lintas, diancam dengan hukuman penjara paling lama 2 tahun + 8 bulan (Pasal 209 KUHP)
  • Petugas penerima suap diancam dengan hukuman maksimal 5 tahun penjara (Pasal 419 KUHP)

Tips Agar Terhindar dari Tilang

Pada dasarnya, razia kendaraan bermotor oleh kepolisian tentu memiliki tujuan baik. Diantaranya adalah untuk:

  • Menekan jumlah kejahatan
  • Mengurangi resiko kecelakaan

Berikut ini beberapa tips dari National Traffic Management Center (NTMC) Polri, untuk kita sekalian agar terhindar dari tilang:

1. Lengkapi kendaraan Om Bro dengan surat-surat yang masih berlaku

  • Yaitu STNK dan SIM
  • Bawa juga KTP kemanapun Om Bro pergi
  • Simpan surat-surat berharga tersebut ditempat yang aman dan terpisah dari kendaraan Om Bro, misalnya di dalam dompet
  • Jangan simpan STNK dan sebagainya di dalam bagasi motor atau di dalam mobil, karena dengan cara tersebut, surat-surat akan ikut hilang jika kendaraan dicuri maling

2. Jangan melawan arus jalan

Kebiasaan berkendara melawan arus memiliki resiko ganda, yaitu:

  • Jika sampai terjadi kecelakaan karena Om Bro melawan arus, maka Om Bro harus bertanggung jawab penuh karena Om Bro berada diposisi yang salah

3. Gunakan pelat nomor yang sesuai dengan surat berkendara

Kasus ini pernah ramai beberapa waktu lalu di dunia maya, ketika ada orang yang menggunakan pelat nomor Thailand dengan alasan “seni”, padahal dia berkendara di Indonesia.

4. Gunakan helm (bagi pemotor), dan sabuk keselamatan (bagi pengendara mobil)

Helm dan sabuk pengaman harus dikenakan oleh pengemudi dan penumpang. Jangan beralasan yang aneh-aneh karena resiko kecelakaan itu dapat terjadi pada keduanya. Bukan hanya pada pengemudi saja.

5. Pemotor berkendara di lajur kiri (jika ada lajur kanalisasi)

Sesuaikan posisi berkendara dengan kecepatan laju kendaraan. Jangan melaju perlahan disisi kanan dan jangan ngebut disisi kiri.

6. Nyalakan lampu utama di siang hari (bagi pemotor)

Tapi jangan mentang-mentang siang hari menyalakan lampu, lantas di malam hari tidak menggunakan lampu. Wkwkwkwk… Gile lu…

Pada dasarnya, motor-motor jaman now sudah dilengkapi dengan sistem AHO sehingga Om Bro tidak akan lupa menyalakan lampu utama. Namun begitu, sebaiknya selalu periksa nyala lampu sebelum berkendara. Barangkali lampu kendaraan Om Bro putus atau rusak.

7. Jangan menerobos lampu merah dan marka jalan

Seorang teman pernah bertanya pada Mtb:

“Kalau dari Thamrin mau ke Pasar Baru, itu di lampu merah Harmoni boleh belok kanan nggak ya?”

Mtb jawab:

“Ya nggak boleh lah, harus nunggu lampu ijo dulu baru boleh belok kanan!”.

Wkwkwkwk… Bener kan Om??

Kebiasaan menerobos lampu merah bukan hanya berbahaya bagi diri sendiri, tapi juga membahayakan orang lain.

Bagaimana jika saat Om Bro menerobos lampu merah, lantas dari arah lain ada kendaraan yang melaju cepat karena bagian dia lampu hijau??

Bahaya Om… Jika sampai terjadi crash, maka Om Bro berada di posisi yang salah.

8. Bagi pemotor, jangan berboncengan lebih dari dua orang

Meski kadang orang dewasa pun ada yang berbuat demikian, tapi pada umumnya anak-anak muda yang suka berboncengan bertiga.

Perlu diketahui bahwa pabrikan mendesain motor hanya untuk dua orang saja. Lebih dari itu tentunya berbahaya bagi keselamatan. Soale, dengan beban yang lebih berat, maka keseimbangan jadi menurun dan jarak pengereman menjadi lebih panjang.

Kapasitas Beban Motor Matic, Pahami Batasan Maksimalnya

9. Jangan menggunakan rotator atau sirine pada kendaraan pribadi

Rotator dan sirine hanya boleh digunakan oleh petugas yang berwenang saja. Tapi pada kenyataannya, kadang ada saja pengguna kendaraan pribadi yang menggunakan dua perangkat tersebut.

Tidak hanya mobil, tapi juga motor.

Penggunaan rotator dan sirine selain melanggar hukum juga menyebalkan bagi pengguna jalan lain.

Serius Om… Mtb pernah lagi di jalan, tiba-tiba dari belakang terdengar sirine mirip punya Polisi. Lah, Mtb minggir dong. Eh, tau-tau itu sirine moge, bukan polisi. Ngeselin kan??

Sebenarnya perkara bikin kesal orang lain itu tidaklah menghambat apa-apa dijalan. Tapi kalau sering-sering seperti itu ya bisa mengundang sumpah serapah dari orang lain.

10. Tidak boleh ada simbol-simbol aneh pada pelat nomor kendaraan

Mtb sering melihat ada stiker aneh pada plat nomor motor ataupun mobil. Entah itu stiker Mabes Polri, stiker TNI, dan lain-lainnya.

Apa maksudnya?? Apakah supaya tidak kena tilang?? Supaya Polisi yang akan menindak lantas merasa takut??

Lah, kebalik Om… Kalo terkena razia, Om Bro malah jadi salah, meskipun surat-surat kendaraan sudah lengkap.

(Mtb – Prosedur Tilang Polisi).

Sumber:

  • swara.tunaiku.com
  • kompasiana.com
  • Wikipedia
  • Pengalaman pribadi

Segini Ancaman Denda Tilang Motor Tidak Pakai Helm

Cara Mengurus Tilang di Kejaksaan: Ternyata Mudah Om…

Tinggalkan Komentar