Perbedaan Motor Dulu dan Sekarang, 7 Penjelasan Kenapa Motor Dulu Lebih Awet

Motorisblog.com – Perbedaan motor dulu dan sekarang – Om Bro yang merupakan generasi 1980-1990-an tentu faham bahwa kualitas motor sekarang tidaklah seawet motor-motor di era tersebut.

Kenapa?

Yang pasti karena kualitas material motor-motor jaman dulu lebih bagus dibanding motor-motor sekarang.

Sebagai gambaran saja…

…plastik doff motor-motor sekarang lebih cepat kusam, bahan besi atau plat terkesan ringkih panel speedometer pun tidak sesolid motor-motor jadul.

Mungkin sih tidak semuanya sama persis. Ada perbedaan dari tiap brand. Tapi tetap saja perbedaannya tidak signifikan untuk motor-motor yang sekelas.

Lantas, kenapa pabrikan mengurangi mutu-mutu produknya?

Jawabannya tentu kompleks. Bukan hanya karena satu hal saja.

1. Kualitas bahan vs fitur

Om Bro… Motor-motor jadul itu tidak pernah punya fitur yang muluk-muluk, tapi harganya sangat mahal di jamannya. Berbeda dengan motor-motor dijaman now dimana harga di tentukan (salah satunya) oleh kelengkapan fitur.

Nah, pertanyaannya…

Apakah dijaman now ini Om Bro mau membeli motor yang mahal dengan fitur alakadarnya? Misalnya saja untuk motor matic tanpa Parking Brake Lock System, tanpa Side Switch Stand, tanpa Secure Key dan lain-lain.

Tentu tidak kan?

Jika pun ada pabrikan yang nekat membuat produk seperti itu, Mtb jamin produknya tidak akan laku!!

Disini terbuka fakta bahwa pabrikan hanya mengikuti kemauan kita sebagai konsumen. Lah wong judulnya juga bisnis… Tentu pabrikan ingin produknya laku keras.

Salahnya, kita sendiri yang menginginkan produk berfitur lengkap dengan harga terjangkau. Konsekuensinya ya itu tadi… Pabrikan jadi mengurangi kualitas material. Karena jika tidak, maka banderol si motor pun akan melangit yang akhirnya tidak akan dibeli oleh masyarakat.

2. Harga motor jaman dulu benar-benar mahal

Om Bro jangan menilai harga motor dari nominal rupiahnya karena kondisi ekonomi jaman now sudah sangat jauh berbeda dengan masa-masa itu.

Mtb masih ingat betul ketika pada awal tahun 1997 (atau akhir 1996), kakak Mtb menjual 8 ekor domba dewasa plus 4 ekor anak domba hanya seharga Rp700 ribu.

Bandingkan dengan sekarang… Satu ekor domba saja bisa lebih dari Rp2 juta.

Mtb juga ingat saat emas 24 karat hanya seharga Rp8 ribu/gram, kemudian setelah krisis ekonomi naik menjadi Rp21 ribu/gram… Juga harga bensin Premium yang hanya Rp800/liter…

Ada lagi minyak tanah yang harganya hanya Rp200/liter.

Lah wong Mtb ngalamin jajan Rp50 dapat satu lontong plus satu mendoan.

Nah, perbandingannya, motor-motor di jaman itu merupakan barang mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya saja.

Sebagai gambaran… Di era 1970-1980-an, untuk membeli satu unit motor, Om Bro harus rela menjual 4 ekor sapi. Nah, jika di konversi ke harga sekarang dimana kisaran harga satu ekor sapi sekira Rp25 juta, maka nilai 4 ekor sapi adalah Rp100 jutaan.

Tuuhhh… tinggal nambah sedikit udah dapet mobil jenis LCGC.

Artinya, nilai sebuah motor dijaman itu sama dengan nilai sebuah mobil di jaman sekarang. So, patut lah kalau kualitasnya juga sangat bagus, bandel dan awet.

Lek Iwanbanaran pernah bercerita dalam salah satu artikelnya, bahwa Honda GL125 milik Ayahnya baru ganti kampas kopling setelah usia si motor mencapai 32 tahun. Yakni dari tahun 1980 hingga tahun 2012.

motor paling bandel dan irit
Honda GL 125

Wuedan kan? Motor-motor jaman now rata-rata paling lama 5 tahun sudah minta ganti kampas kopling.

motor paling bandel dan irit
Honda GL 125

Itu baru perbandingan motor jadul dengan mobil jaman now. Belum lagi jika kita mundur lebih jauh pada cerita almarhum Kakek Mtb…

motor paling bandel dan irit
Honda GL 125

Semasa hidupnya, Kakek pernah bercerita bahwa di masa lalu banget (masa penjajahan), harga sepeda onthel dan harga radio pun senilai 3 ton padi.

Gile kan?

Itu menjadi gambaran bahwa semua perubahan ini terjadi atas tuntutan zaman.

Kemudian, kembali ke motor…

3. Jaman dulu tidak ada leasing

Di jaman itu pun belum ada yang namanya perusahaan pembiayaan alias leasing seperti sekarang. Jadi, pembelian unit motor harus cash. Maka yang bisa beli motor pun hanya horang kaya saja… Pantaslah ketika itu di tiap kampung palingan hanya ada satu-dua orang saja yang punya motor.

Bahkan di era 1990-an, saat sudah mulai ada fasilitas kredit, pun prosesnya luar biasa rumit.

Paman Mtb di era itu sampai harus menyeberang dari Ciamis (Jawa Barat) ke Purwokerto (Jawa Tengah) demi untuk bisa membeli Honda Astrea Star secara kredit.

honda astrea star spesififikasi
Honda Astrea Star, shock depan sudah bukan ori

So… wajar jika kala itu pabrikan sangat memperhatikan kualitas material motor. Pasalnya, saat itu tingkat persaingan belum seketat sekarang dimana dealer & leasing berlomba-lomba dengan berbagai macam promo yang sejatinya (menurut Mtb) hanya tipuan marketing belaka.

Pantas saja pabrikan mempertahankan durabilitas motor lantaran peminatnya pun masih sedikit.

Mindset konsumen saat itu pun berbeda dengan sekarang.

Kala itu, salah satu pertimbangan yang paling diutamakan oleh calon konsumen adalah kebandelan dan keawetan motor. Bukan seperti sekarang dimana konsumen menginginkan motor dengan fitur bejibun.

4. Masalah ketersediaan spare part, bengkel resmi dan layanan purna jual lainnya

Di masa itu, karena keberadaan industri otomotif roda dua pun masih relatif baru di Indonesia, maka layanan purna jual pun masih jarang.

Spare part masih jarang… bengkel pun masih jarang.

Nah, konsumen tentu tidak ingin di pusingkan dengan sulitnya mendapatkan spare part dan bengkel resmi. Bagusnya, pabrikan memahami hal itu dan dibuatlah motor yang awet dan bandel supaya konsumen tidak perlu pusing dengan pertimbangan sulitnya layanan purna jual.

Yang berbeda sekarang adalah…

…bahwa Genuine Part berdiri sendiri dan mencari laba usaha sendiri. Artinya, jika motor dari pabrikan dibuat awet banget, maka, dari mana pihak penyedia spare part akan mendapatkan keuntungan penjualan?

Contohnya itu tadi… Jika dahulu motor Bokapnya Lek Iwanbanaran baru ganti kampas kopling setelah 32 tahun, maka tidak demikian dengan motor-motor era sekarang.

Rata-rata komponen motor modern yang di produksi secara massal hanya mampu bertahan selama 1-2 tahun untuk fast moving part dan 7-10 tahunan untuk part slow moving part.

Semua itu terjadi atas banyak tuntutan di atas tadi, yakni,

. Pabrikan ingin keuntungan dari penjualan sebanyak-banyaknya,
. Konsumen ingin motor berfitur lengkap dengan harga terjangkau,
. Penyedia spare part ingin produknya laku,
. Leasing ingin mendapat banyak keuntungan dengan pembiayaan kredit sebanyak-banyaknya,
. Dan lain-lain dan sebagainya…

5. Kemampuan manusia semakin meningkat dalam hal daur ulang

Om Bro…!! Jaman dulu, manusia belum pandai melakukan daur ulang dan belum mahir melakukan pencampuran material. Karena itu, semua bahan-bahan motor pun terbuat dari bahan murni.

Dulu belum jamannya hal-hal yang serba sintetis alias tiruan alias hasil rekayasa kimia.

Sedangkan sekarang, manusia sudah pandai melakukan daur ulang limbah untuk kemudian di campur dengan bahan-bahan sintetis dan jika perlu ditambahkan dengan sekian persen formula bahan murni.

Efek dari perkembangan teknologi dan pemikiran manusia tersebut, di satu sisi dapat menghasilkan sesuatu yang jauh lebih kuat dibanding bahan murni, namun disisi lain pun dapat menghasilkan pula meterial uang lebih ekonomis meski secara kualitas justru berada di bawah material murni.

Nah, disini, yang di ambil adalah poin kedua. Yaitu pengurangan kualitas demi menekan cost produksi yang pada akhirnya dapat menekan banderol si motor menjadi semurah mungkin dengan fitur lengkap.

Dan hal ini tidak hanya berlaku di dunia persilatan otomotif saja…

6. Perbedaan kebutuhan konsumen jaman dulu dan jaman now

Dahulu kala, kebutuhan akan sepeda motor semata-mata adalah sebagai alat transportasi belaka. Jauh berbeda dengan jaman sekarang dimana motor telah menjadi salah satu gaya hidup.

Sekarang, desain saja di perdebatkan. Kurang sedikit, di cela habis-habisan. Fitur ngga komplit, di anggap produk gagal… Dan lain sebagainya.

Dulu mana ada yang seperti itu. Maka wajar jika motor-motor generasi 1970-1990-an modelnya gitu-gitu ajah…

Munculnya desain motor sporty baru pada dekade 1990-an. Pun saat itu baru menjadi pilihan… Belum menjadi tuntutan.

Wajar jika Honda GL100, GL Max, GL Pro, Honda Astrea Series tetap laku meskipun sudah ada motor-motor sporty semisal Honda NSR, Suzuki RGR, Yamaha RXZ, Suzuki Satria RU120, Yamaha Force 1, Yamaha F1ZR dan lain-lain.

Karena…

Saat itu mesin bandel dan konsumsi bensin irit masih menjadi fokus utama. Perkara desain masih menjadi pertimbangan nomor sekian.

Coba sekarang Honda buat desain motor seperti GL Series dan Astrea Series… Mtb yakin, penjualannya bisa dihitung dengan jari.

Ya… entah jari berapa orang banyaknya… Wkwkwkwkk…!!

Lah wong Honda CB150 Verza dan Suzuki GSX150 Bandit juga banyak yang mencibir…

7. Konsumen jaman sekarang lebih cepat bosan

Yang jelas sih karena banyaknya iming-iming promo (palsu), kemudahan mendapatkan kredit dan lain-lain maka banyak konsumen yang ingin sering-sering ganti motor.

Ajukan kredit, baru lunas, jual, ajukan kredit baru lagi untuk motor model baru, dan seterusnya…

Bahkan kadang kala ada yang belum lunas sudah di over-kredit-kan demi mendapatkan motor model terbaru.

Hal ini tentu terendus dengan sangat baik oleh pabrikan, sehingga pabrikan berfikir,

“Dari pada bikin motor yang awet, lebih baik dana-nya di gunakan untuk riset & development model baru”.

Toh, motor awet-awet juga sudah dijual sebelum rusak.

Maka wajar jika hingga saat ini masih banyak orang yang mempertimbangkan perkara harga jual kembali. Tujuannya untuk meminimalisir jumlah kerugian saat mereka berniat mengganti motor. (Mtb – Perbedaan motor dulu dan sekarang).

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: