pgb bagi-bagi takjil

Ojol vs Opang, Hal-hal Berikut ini Penyebab Opang Tidak Mudah Bergabung dengan Ojol

Motorisblog.com – Ojol vs Opang. Om Bro…!! Di dunia persilatan ojek, sejak beberapa tahun yang lalu muncul istilah ojol dan opang. Kedua istilah tersebut adalah singkatan dari ojek online dan ojek pangkalan. Tentu saja kemunculan istilah tersebut adalah setelah maraknya jenis transportasi online di negeri kita tercinta ini, Indonesia.

Selain istilah ojol dan opang, ada pula istilah daring dan luring yang juga merupakan singkatan dari “dalam jaringan” dan “luar jaringan”.

Om Bro…!! Sejak kemunculannya yang di awali oleh brand Gojek pada tahun 2010, hingga saat ini sudah banyak sekali pemberitaan mengenai adanya bentrokan antara ojol vs opang. Bentrokan terjadi karena adanya sebagian pelaku ojek offline alias opang yang masih belum dapat menerima kehadiran transportasi berbasis online.

Kenapa begitu…?

Secara singkat, muara akhir dari segala bentrokan yang ada itu judulnya ya masalah perut. Yakni masalah area dalam mencari nafkah.

Teknologi vs usia transportasi, kenapa opang sulit bergabung / ikut ojol?

Secara usia, kita semua tahu bahwa opang sudah lebih dulu ada sebelum ojol. Jadi, sangat manusiawi ketika kehadiran ojol terkadang sulit diterima oleh pihak opang.

Drama ojol vs opang bukanlah perkara sepele. Bagi Mtb, ini merupakan masalah besar yang sepatutnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Disatu sisi, alat transportasi berbasis online merupakan salah satu wujud perkembangan teknologi. Salah satu wujud perkembangan jaman. Dan Om Bro sekalian tahu, kalau sudah bicara perkara teknologi, maka dapat dipastikan perkembangannya tidak akan dapat dibendung. Atau jika pun ada salah satu daerah yang bisa membendung perkembangan teknologi, maka akan muncul satu pertanyaan, “apakah daerah tersebut rela tertinggal dari daerah lainnya dalam hal perkembangan teknologi?”. Tentu semua juga sepakat menjawab “tidak”.

Nah, sudah jelas seperti itu, tapi kenapa masih banyak saja pelaku transportasi offline yang tidak mau ikut gabung online? Padahal, sebagai ojek pangkalan, jika dia bergabung dengan armada online, maka potensi penghasilannya jadi lebih besar. Dari pangkalan dapat penumpang offline dan dari jauh dapat penumpang online.

Iya kan?

Betul…

Tapi… masalahnya tidak sesederhana itu.

Ojek pangkalan sulit bergabung dengan ojek online karena kehendak bersama

Om Bro… Umumnya pelaku ojek pangkalan pun tergabung dalam suatu wadah / organisasi. Jadi, jika pun sebagian dari mereka berminat untuk gabung ojol, maka orang-orang yang berminat tersebut pun tidak berani secara terang-terangan dan serta-merta ikut ojol. Mereka pun mengimbangi, menjaga perasaan sebagian rekan lain yang tidak berminat ikut ojol.

Ojek pangkalan sulit gabung ojol karena beberapa hal yang tidak memenuhi kriteria (syarat pendaftaran)

Mtb mencontohkan yang kecil saja… Uwa (kakak dari mertua) Mtb juga profesinya sebagai pengojek pangkalan. Belakangan ini Mtb cek SIM-nya ternyata sudah expired selama 3 tahun. Nah, untuk mendaftar ojol, tentu Uwa tidak akan lolos verifikasi karena tidak memiliki SIM aktif.

Contoh lain ada lagi dari cerita salah satu staff Grab area Priangan Timur. Menurutnya, pernah ada dua pangkalan dengan 30 personel ojek pangkalan yang ingin bergabung dengan ojol Grab. Dengan begitu, kedua pangkalan tersebut pun akan di branding supaya lebih nyaman dan layak. Tapi pada saat hendak di daftarkan, ternyata dari 30 orang tersebut, hanya ada 7 orang yang memenuhi kriteria.

Tidak dijelaskan secara rinci hal-hal apa saja yang tidak memenuhi kriteria, tapi secara garis besar, permasalahan terdapat pada masa berlaku SIM & pajak si motor.

Kalau masalah usia motor, untuk anggota ojek pangkalan, ada dispensasi khusus dari Grab Priangan Timur. Artinya usia motor tidak dibatasi, yang penting masih layak jalan.

Beberapa opang tidak mau online karena tidak memiliki gadget yang memadai

Salah satu hal lagi yang memberatkan sebagian opang adalah mereka yang tidak memiliki ponsel Android / iOS. Artinya, meraka harus keluar modal dulu untuk membeli HP jika ingin bergabung bersama ojol.

Disini dilemanya…

Di kota kecil seperti Banjar Patroman, jumlah pengguna jasa ojeknya sendiri timpang dengan jumlah armadanya.

Ini maaf ya, Om Bro… Bukan maksud Mtb memandang remeh opang, tapi beberapa sumber terpercaya memang menyatakan bahwa mereka merasa berat ketika harus membeli ponsel Android dulu sebagai modal awal… Apalagi jika ada hal lain semisal SIM dan pajak motor yang harus di perpanjang masa berlakunya… tentu jadi lebih banyak lagi modal yang harus dikeluarkan oleh mereka.

Belum lagi masalah usia…

Bagi pengojek yang sudah berusia cukup sepuh, biasanya sudah jarang yang berminat untuk mempelajari sistem aplikasi online.

Sebagian opang menganggap tarif ojol terlalu murah dan merugikan

Beberapa waktu lalu saat Mtb mengikuti pertemuan antara komunitas Persaudaraan Grab Kota Banjar (PGB) dan organisasi Gokkab (Gabungan Ojek Kamtibmas Kota Bajar), Pak Angga (Staff Grab Tasikmalaya, Ciamis, Banjar) pun kesulitan untuk menerangkan perihal adanya insentif dari ojol. Sebagian pelaku ojek pangkalan (perwakilan yang mengikuti pertemuan) menganggap bahwa insentif ojol hanyalah permainan aplikator dengan adanya potongan komisi aplikasi sebesar 20%.

Pada dasarnya memang benar… Segala insentif yang ada adalah merupakan perputaran dari potongan komisi 20% dari ongkos penumpang. Namun sebenarnya ada banyak hal yang seharusnya dipahami, bahwa, di kota kecil yang jumlah konsumennya masih sedikit, itu nominal insentifnya “lumayan”. Sementara di kota-kota besar yang insentifnya kecil, itu jumlah konsumennya sudah sangat banyak.

Artinya, dengan kerja keras yang sungguh-sungguh, meski ongkos ojol lebih murah, tapi secara akumulatif, potensi pendapatannya bisa jadi cukup “lumayan”.

Tapi kembali lagi… hal itu masih sulit dipahami oleh sebagian teman-teman opang.

Masalah payung hukum pun turut menjadi penyebab gesekan ojol vs opang

Disini yang palig vital dan paling rancu. Pihak aplikator menyatakan bahwa perusahaannya merupakan perusahaan aplikasi, bukan perusahaan transportasi sehingga payung hukumnya ada di Kominfo dan bukan di Dishub. Lah padahal kan operasionalnya sebagai penyedia jasa transportasi.

Ini rancu memang…

Sebenarnya, menurut hemat Mtb, gesekan antara ojol vs opang dapat di minimalisir dengan signifikan jika ada regulasi yang mengatur transportasi roda dua secara adil. Lah ini kan tidak… Berbagai argumentasi dilempar dengan alasan bahwa sepeda motor tidak memenuhi syarat keamanan sebagai alat transportasi umum. Tapi pada kenyataannya kan? Motor menjadi alat transportasi umum.

Lantas, mau sampai kapan masalah ini dibiarkan berlarut-larut?

Kemudian, jika misalnya ada tuntutan pembubaran ojol, pasti alasannya “tidak bisa” karena itu perusahaan aplikasi dan bukan perusahaan transportasi. Kenapa hanya alasan-alasan saja yang dijadikan tameng? Seolah-olah mereka yang memiliki wewenang hanya menutup mata? Kenapa tidak segera memberikan solusi yang tepat dan adil? Entahlah… (Mtb – Ojol vs Opang).

Tinggalkan Komentar