jakarta macet hari ini

7 Alasan dan 5 Tips Aman Mudik Pakai Motor

Advertisement

Motorisblog.com – Om Bro!! Kali ini Mtb ingin berbagi pengalaman mudik pakai motor dari Jakarta menuju Ciamis.

Advertisement

Rute mudik motor yang Mtb lalui adalah jalur selatan yang juga bisa dilalui untuk pemudik tujuan Jawa Tengah.

Langsung kita cekidot bae Om.

Tips Mudik Pakai Motor

Tahun 2009 adalah kali terakhir ATPM sepeda motor di Indonesia (utamanya Honda dan Yamaha) mengadakan acara mudik bareng konvoi sepeda motor. Tahun-tahun berikutnya, para ATPM dan banyak lembaga (Dishub dan sebagainya) mengalihkan kebijakan ‘mudik bareng’ menggunakan bus, kereta api dan alat transportasi massal lainnya. Hal ini didasari atas fakta bahwa angka kecelakaan pada musim mudik didominasi oleh pengendara sepeda motor.

Yup. Sebenarnya sepeda motor memang dirancang bukan untuk berkendara jarak jauh.

Namun semua kebijakan tersebut tidak serta merta menurunkan jumlah pemudik roda dua. Banyak bikers yang tetap lebih memilih untuk mudik dengan mengendarai kuda besinya, termasuk Mtb sendiri selama kurun waktu 2009 sampai 2014 selalu mudik pakai motor.

Pilihan tersebut bukanlah tanpa dasar. Ada banyak alasan yang menjadi penyebab dipilihnya sepeda motor sebagai alat transportasi mudik.

Alasan Banyak Orang Mudik Pakai Motor

1. Hemat biaya

Ini alasan pertama yang paling mendasar buat Mtb. Contoh kecil, berikut ini yang Mtb alami:

Pada lebaran tahun 2010, Mtb mengantar istri (yang saat itu masih jadi pacar) ke terminal Kalideres, Jakarta Barat.

Tujuan mudiknya adalah Ciamis, Jawa Barat.

Tahun itu Mtb mudik masing-masing, nggak bareng pacar karena hari libur kerja yang berbeda.

Pada hari-hari biasa, tarif bus dari Kalideres menuju Banjar Patroman hanya Rp45,000 – Rp50,000 saja. Tapi ternyata pada puncak arus mudik tahun itu, istri Mtb dikenakan tarif Rp120,000.

Luar biasa kan?? 140% lebih kenaikannya.

Jika saat itu Mtb berdua istri mudik menunggang bus, maka ongkos mudik kami adalah Rp120,000 × 2 = Rp240,000, belum lagi ongkos angkot / mikrolet / ojek dari rumah asal (saat itu pacar Mtb tinggal di Tangerang Kota) ke Kalideres dan dari terminal Banjar Patroman menuju rumah.

Habislah Rp300,000 berdua.

Bandingkan dengan mudik roda dua:

Jarak dari Tangerang Kota ke kampung Mtb (Ciamis Timur) adalah +/- 350 km.

Untuk jarak itu, Mtb hanya menghabiskan 7 liter bensin Premium dengan harga saat itu Rp4,500/liter = Rp31,500.

Edian. Hanya 1/10 (lebih sedikit) dari ongkos bus untuk 2 tiket.

Saat itu Mtb menggunakan Honda Fit X 100cc, tapi ditahun-tahun berikutnya saat Mtb menggunakan Yamaha Vega R dan Honda Spacy FI pun konsumsi bahan bakarnya hampir sama. Nggak berasa bedanya. Nggak sampai 1 liter beda konsumsinya.

Lah kalau motor laki gimana??

Mtb tidak punya bukti otentik. Mtb belum punya pengalaman mudik menggunakan motor manual. Tapi Mtb yakin untuk kapasitas mesin motor hingga 150cc nggak akan sampai beda 3 liter. Paling 1-2 liter saja bedanya.

Tapi kan nggak cuma bensin doang?? Ada oli, busi dan komponen lain yang juga harus diperhitungkan.

Betul Om. Tapi diingat juga, oli kan kepakai dari berangkat sampai balik mudik. Nggak habis.

Jarak mudik 350 km bolak-balik cuma 700 km. Anggaplah selama dikampung kita jalan-jalan sampai 300 km, total pemakaian hanya 1,000 km. Sedangkan daya tahan oli mineral sekelas Enduro 4T 20W-50 yang standar aja mencapai 3,500 km. Apalagi jika Om Bro menggunakan Enduro Racing atau Motul yang oli semi sintetis, daya tahannya sampai 5,000 km. Masih ada sisa jarak banyak sampai kita balik kekota lagi.

Anggaplah Om Bro pakai Motul 3100 gold. Ditahun 2010 harganya cuma Rp48,000. Artinya hanya Rp24,000 untuk oli sekali jalan.

Itu faktor dasar yang pertama yang membuat masih banyak orang memilih mudik pakai motor.

2. Tidak terlalu terjebak macet

Tren mudik yang semakin meningkat membuat kemacetan juga meningkat.

Tapi semacet-macetnya mengendarai sepeda motor, tentu lebih macet lagi pengendara mobil.

Waktu tempuh Mtb untuk jarak 350 km adalah 10 jam dihari biasa. Waktu 10 jam itu Mtb dapatkan dengan menunggang motor bebek atau matic dengan kecepatan maksimal 80 km/jam (versi speedometer).

Mtb biker santai Om. Dulu Mtb sudah pernah jadi biker seruntulan dan beberapa kali ndlosor di jalan. Mtb kapok Om.

Waktu tempuh bisa lebih pendek jika Om Bro menunggang motor laki (motor sport) dengan kecepatan lebih tinggi.

Tapi nggak usah kenceng-kenceng lah Om. Cari selamat aja.

Pada musim mudik, waktu tempuh Mtb dikisaran 12-13 jam. Pernah parah banget sampai 15 jam pada tahun 2012.

Nah, pemudik bis, tetangga Mtb pada tahun 2010 dari Kampung Rambutan, Jakarta menuju Banjar Patroman (pas dipuncak arus mudik) menghabiskan waktu 24 jam perjalanan. Edian kan Om??

Dan waktu tempuh sepanjang itu tetap terjadi ditahun-tahun berikutnya. Padahal di hari biasa waktu tempuh bus jauh lebih cepat dari pada motor. Hal itu karena bus masuk jalan tol, sedangkan motor tidak.

Nah, itulah alasan kedua yang membuat banyak orang memilih mudik pakai motor.

3. Bebas Menentukan Waktu Perjalanan

Ini juga yang menjadikan sepeda motor sebagai pilihan transportasi mudik.

Dengan menunggang motor, waktu keberangkatan kita jadi lebih fleksibel. Kita bebas menentukan waktu keberangkatan. Tidak harus sesuai jadwal, tidak takut ketinggalan seperti jika kita mudik menggunakan transportasi umum.

Selain itu kita juga bebas menentukan waktu dan tempat istirahat selama perjalanan.

4. Tidak Mabuk Perjalanan

Nah, ini yang memalukan. Mtb jadi tidak tampak seperti lelaki sejati kalau menumpang bus. Soale Mtb gampang mabok darat. Wkwkwkwk.

Dulu, beberapa orang teman suka mengejek Mtb. Katanya, “Seharusnya kamu pake lipstik kalau mau naik bus”.

Mtb penasaran dan bertanya, “Emang kalo pake lipstik jadi nggak mabok??”

Eh, jawab teman, “Ya tetap mabok lah. Cuma, pantes aja kalau cewek mabok dalam bus”.

Wkwkwkwk. Kehet. Sialan.

Iya biarpun Mtb ini sekekar Silverster Stallone dan setampan Laonardo Dicaprio, tapi Mtb juga punya sisi kelembutan, yaitu mabok perjalanan. Wkwkwkwk.

Lanjut.

Mudik menggunakan motor membuat Mtb tidak mabok karena pandangan mata dan hembusan angin yang bebas.

5. Motor untuk Transportasi di Kampung Halaman

Rasanya nggak seru kalau kita mudik, tapi di kampung kita hanya berdiam diri dirumah. Kita membutuhkan alat transportasi untuk berkunjung kerumah kerabat jauh atau sekedar jalan-jalan ke tempat-tempat wisata.

6. Berjiwa Bikers

Alasan lain orang mudik pakai motor adalah karena suka riding.

Kalau ini urusannya dengan hobi. Mtb tidak begitu mengerti, hanya kadang Mtb juga merasakan sensasi yang luar biasa saat riding jarak jauh semisal mudik.

Apalagi ditahun 2012 dan 2013 saat Mtb mudik bareng beberapa orang teman. Wah, seru Om.

7. Baru Punya Motor dan Belum Punya Mobil

Seorang perantau yang tahun lalu belum punya motor, tentu ingin mencoba mudik pakai motor saat sudah punya motor.

Itu wajar. Mtb sendiri juga awalnya begitu.

Hal seperti ini biasanya berubah jika suatu saat orang tersebut memiliki mobil.

Mtb punya seorang teman, namanya Bambang. Teman seperjuangan sejak Mtb kerja jadi waiter di Komala’s Restaurant Jakarta, hingga kami sama-sama pindah kerja ke Tangerang.

Teman Mtb ini, Bambang, dia sudah sejak lama terbiasa mengendarai mobil ataupun motor.

Karena dia terbiasa dengan keduanya, tentu dia dapat memahami kekurangan dan kelebihan berkendara dengan motor ataupun mobil.

Menurut Bambang, “Saat setelah dia memiliki mobil, dia merasa malas bermotor jarak jauh. Karena bermotor jarak jauh lebih capek dari pada bermobil”. Maka Bambang hanya menunggang motor untuk keperluan dalam kota saja, semisal transportasi berangkat dan pulang kerja ataupun keperluan lain yang harus melalui kemacetan lalu lintas.

Advertisement

Iya Om. Menurut Mtb, perkataan Bambang itu sangat masuk akal. Sama seperti perkataan kebanyakan orang yang juga telah memiliki mobil.

Nah, itulah beberapa hal yang menjadi alasan banyak orang tetap memilih sepeda motor sebagai alat transportasi mudik.

Tips Aman Mudik Bermotor

Sebelum kita masuk ke bahasan selanjutnya, perhatikan di awal tulisan ini di atas, bahwa angka kecelakaan arus mudik didominasi oleh sepeda motor.

Dan di paragraf akhir menurut Bambang, bahwa bermotor lebih capek daripada bermobil.

Namun jika Om Bro tetap ingin mudik pakai motor, berikut ini Mtb share tips aman sesuai pengalaman Mtb, walaupun pengalaman Mtb cuma sedikit.

1. Persiapkan dan Periksa Motor Sebelum Berangkat

Pada tahun 2009, Mtb pernah berkonsultasi dengan salah seorang mekanik bengkel resmi motor Honda di DKI Jakarta (Mtb lupa nama bengkelnya). Mekanik tersebut menyarankan Mtb untuk men-servis motor 1-2 minggu sebelum berangkat mudik. Hal itu untuk memastikan bahwa motor ada dalam kondisi prima saat perjalanan mudik.

Selain servis, Om Bro juga perlu membawa obeng, kunci busi, busi cadangan, bohlam cadangan dan ban dalam cadangan (jika motor Om Bro tidak menggunakan ban tubeless). Hal itu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Dari beberapa hal yang harus dibawa diatas, barangkali timbul pertanyaan dalam benak Om Bro. “Untuk apa??”.

Begini Om.

Salah seorang teman sekampung pernah bercerita pada Mtb, dia mengalami bocor ban dalam perjalanan mudik di ruas jalan Puncak, Bogor.

Saat itu dia bermaksud menambal ban motornya, tapi naas, ban dalamnya robek cukup parah.

Karena tidak membawa ban dalam cadangan, terpaksa dia mengganti dengan ban dalam seadanya dibengkel tersebut.

Dan apa yang terjadi??

Dia harus membayar Rp100,000 untuk ban dalam bermutu jelek yang seharusnya hanya seharga Rp25,000-Rp30,000 saja. Apes kan??

Iya Om. Banyak oknum yang memanfaatkan momen mudik untuk meraih keuntungan pribadi secara tidak wajar.

2. Siapkan Stamina dengan Cukup Istirahat

Idealnya Om Bro harus cukup istirahat sebelum menempuh perjalanan mudik yang jauh.

Tapi kadang hal itu sulit dilakukan.

Mtb juga dulu sering kurang istirahat sebelum perjalanan mudik, karena selain harus packing barang bawaan, hati dan fikiran yang sudah duluan mudik. Jadi akhirnya Mtb susah tidur.

Gimana bisa hati dan fikiran duluan mudik??

Iya bisa. Maksudnya, badan masih diperantauan tapi pikiran sudah di kampung.

Intinya ingat kampung halaman, ingat keluarga dan orang tua.

Apalagi jika Om Bro punya pacar dikampung. Wah. Lebih gelisah lagi.

Untunglah pacar Mtb (sekarang istri) dulu sama-sama merantau. Udah gitu, kota perantauan dia dekat dengan kota perantauan Mtb. Jadi tidak buru-buru saat hendak mudik.

Nah, jika Om Bro mengalami masalah seperti Mtb (sulit istirahat dijam-jam akhir menjelang keberangkatan mudik), maka pastikan Om Bro minum multivitamin atau yang biasa disebut suplemen.

Suplemen disini bukanlah superhero DC ya Om. Karena superhero DC itu namanya Superman, bukan suplemen. Wkwkwkwk.

3. Mudik Bareng

Untuk keamanan selama dalam perjalanan, alangkah baiknya jika Om Bro mudik bersama rombongan. Gunanya adalah untuk saling membantu jika terjadi masalah, misalnya mesin motor mogok, ban bocor, atau masalah lainnya.

Selain itu mudik bareng juga akan memperkecil potensi kejahatan semisal begal motor.

4. Tentukan Waktu Mudik sesuai Karakter Om Bro

Waktu terbaik untuk perjalanan mudik adalah siang hari. Tapi hal itu bisa terbalik jika Om Bro punya “masalah” seperti Mtb.

Betul Om. Mtb merasa mudah sekali mengantuk dan cepat lelah jika riding jarak jauh di siang hari. Badan Mtb justru lebih bugar untuk mudik di malam hari.

Nah, bagi Om Bro yang “lebih siap” mudik malam ketimbang siang, maka Om Bro mendapatkan 2 keuntungan, yaitu:

  1. Tetap bisa menjalankan puasa Romadhon
  2. Waktu tempuh jadi lebih cepat karena lalu lintas mudik relatif lebih lancar di malam hari

Tapi harus dicatat, stamina Om Bro harus betul-betul siap, atau Om Bro memang betul-betul lebih kuat perjalanan malam ketimbang siang. Jangan memaksakan diri semata-mata karena ingin menghindari macet. Tetap nikmati kemacetan jikapun Om Bro harus mudik di siang hari.

Ya harus begitu. Seorang teman senior pernah berkata pada Mtb, “Kalau nggak macet ya bukan lebaran namanya”.

Dipikir-pikir benar juga.

Jadi kalau memang Om Bro yakin, boleh lah mudik malam hari.

Dan jangan lupa baca ‘Bismillah’ sebelum berangkat dan selalu ‘Dzikir’ dalam hati selama dalam perjalanan.

5. Istirahat Dalam Perjalanan, Jangan Menarget Waktu Sampai ke Tujuan

Sekiranya Om Bro agak terlambat berangkat, jangan paksakan untuk dapat mencapai target. Ingat!! Keselamatan Om Bro adalah prioritas utama. Dan ingat juga bahwa keluarga Om Bro menunggu dirumah. Jangan sampai hari raya berubah jadi hari berkabung karena Om Bro celaka dalam perjalanan.

Mtb mencontohkan pengalaman pahit Mtb sendiri.

Dulu Mtb beberapa kali menargetkan untuk mudik dengan waktu tidak lebih dari 10 jam perjalanan (termasuk istirahat dalam perjalanan).

Tapi apa yang terjadi??

Pada bulan Juni 2009, Mtb yang membonceng keponakan menggunakan Honda Fit X, menabrak sebuah mobil minibus di Limbangan. Semua itu terjadi karena Mtb buru-buru. Jarak antara Mtb dengan mobil di depan terlalu rapat sehingga Mtb tidak mampu mengendalikan motor pada saat mobil nge-rem mendadak.

Saat itu bukan perjalanan mudik Lebaran sih.

Beruntung Mtb tidak terjatuh.

Kemudian pada tahun 2011 (Mtb lupa bulannya), Mtb “menghajar” tambalan lubang jalanan di ruas jalan antara Karawang dan Cikampek. Karena tambalannya terlalu tebal, tambalan jadi menggunduk tinggi. Praktis motor Mtb melompat cukup tinggi. Kira-kira kayak motor cross lah.

Nah, karena Mtb ini sejatinya bukanlah crosser, otomatis Mtb limbung pada saat motor mendarat.

Kembali Mtb masih beruntung tidak jatuh.

Masih di hari yang sama di ruas jalan antara Cikampek menuju Purwakarta, Mtb hampir saja terhimpit truk container dan bus antar kota (amit-amit jabang bayi).

Entah kenapa saat itu Mtb merasa Vega R Mtb kencang banget. Enak banget buat nyalip. Mtb nekat menyalip truk container tersebut, padahal di depan ada bus yang jaraknya sudah dekat.

Lemaslah hatk Mtb saat itu.

Syukurlah Alloh masih memberikan umur panjang untuk Mtb memperbaiki kelakuan yang seperti itu.

Dan sejak saat itu, Mtb berubah menjadi biker yang lebih kalem. Lebih woles. Tidak lagi menargetkan kecepatan dan waktu tertentu.

Nah, demikianlah sedikit sharing Mtb. Semoga bermanfaat, terutama bagi Om Bro yang tahun ini merupakan pengalaman pertama mudik pakai motor.

Keep safety riding. Selamat mudik. Dan jangan lupa ucapkan, ‘Alhamdulillah’ saat Om Bro sampai tujuan dengan selamat. (Mtb).

Advertisement

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *