Motor Listrik di Papua: Populasi di Kabupaten Asmat Sudah 3.000 Unit Lebih

Motorisblog.com – Om Bro…!! Disaat di daerah lain masih kurang diminati masyarakat, jumlah populasi motor listrik di Papua, khususnya di Kabupaten Asmat, telah mencapai lebih dari 3.000 unit. Hebatnya lagi, jumlah tersebut telah dicapai bahkan sebelum adanya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Percepatan Program Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

Ko bisa ya??

Bisa Om… Karena sebelum itu, Kabupaten Asmat sudah lebih dahulu menfasilitasi regulasi tentang kendaraan listrik, yaitu:

. Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Umum
. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Usaha
. Peraturan Bupati Nomor 24 Tahun 2017 Tentang Angkutan Darat dan Sungai

…yang pada peraturan-peraturan tersebut di atas, telah di atur beberapa aturan, diantaranya:

. Retribusi kendaraan bermotor listrik yang disewakan adalah Rp500.000/tahun
. Retribusi kendaraan bermotor listrik pribadi adalah Rp150.000/tahun
. Sewa lahan untuk ojek adalah Rp1 juta/tahun

Jadi di Asmat sana, kendaraan-kendaraan listrik tidak menggunakan plat nomor seperti pada umumnya. Di sana, kendaraan listrik menggunakan plat retribusi parkir berlangganan.

Warna plat retribusi yang digunakan ialah hitam dan kuning… Hitam untuk kendaraan pribadi dan kuning untuk kendaraan sewa…

Konon dari semua retribusi itu, Pemerintah Kabupaten Asmat dapat meraih jumlah retribusi sebesar Rp1 miliar/tahun.

Jadi begetoh Om… Makanya populasi kendaraan listrik di Kabupaten Asmat bisa banyak, bahkan sebelum ada regulasi dari Presiden.

Jadi, berapa sih tepatnya jumlah populasi kendaraan listrik disana??

Menurut data Dinas Perhubungan Kabupaten Asmat, hingga November 2018 saja telah ada 3.154 unit kendaraan listrik… Dengan 3.067 unit di antaranya adalah sepeda motor listrik, serta ada 22 pangkalan ojek sepeda listrik disana. (Soegijapranata, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika & Djoko Setijowarno, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat – DetikOto, 3/9/2019).

Itu data sudah 10 bulan yang lalu ya Om… Sekarang mungkin sudah bertambah lebih banyak lagi…

Penggunaan motor listrik sebagai alat mobilitas masyarakat di Kabupaten Asmat di awali dari ibukotanya sendiri, yaitu Kota Agats… Dari Agats itulah kemudian motor-motor listrik menyebar ke seluruh wilayah Asmat.

Selain karena adanya regulasi yang kuat, popularitas motor listrik di Asmat, Papua, juga dipengaruhi oleh lebar jalan yang hanya sekira 4 meter saja. Artinya, dengan ukuran lebar jalan yang segitu itu, kondisinya jadi tidak memungkinkan untuk menjadikan mobil sebagai alat transportasi harian, kecuali untuk keperluan tertentu saja…

Bukan hanya itu… Dahulu di Asmat, konstruksi jalan-jalannya pun kebanyakan terbuat dari kayu. Alasannya ialah karena kondisi geografis Asmat yang merupakan daerah rawa. Karena itulah masyarakat disana lebih memilih untuk menggunakan motor ketimbang mobil. Bahkan sampai sekarang, saat sebagian jalanan di sana sudah berkonstruki beton (pile slab), pun warganya tetap lebih suka menggunakan motor listrik. (Mtb).

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: