Kredit Mobil DP Nol Persen, Pembodohan Model Baru Lagi…

Motorisblog.com – Kredit mobil DP nol persen – Om Bro…!! Sebuah fenomena pelik yang susah ditanggapi tengah muncul di Negeri ini. Iya… Wacana akan adanya aturan yang memperbolehkan kredit kendaraan bermotor dengan down payment nol persen alias tanpa uang muka. Ngeriii…!!

Mtb katakan ngeri karena (menurut Mtb) akan lebih banyak efek buruknya ketimbang efek baik. Contohnya saja perkara resiko kredit macet yang semakin meningkat, kemacetan lalu lintas di perkotaan dan polusi udara yang semakin parah.

Menyoroti soal kredit macet, resikonya bukan hanya menimpa si debitur dengan status buruk di BI checking… tapi juga berimbas pada orang lain disekitarnya. Contoh gampangnya saja…

…beberapa waktu lalu Mtb (iseng) tanya-tanya soal kredit motor Honda CB150 Verza… Mtb tertarik semata-mata karena harganya yang paling murah di kelas sport 150cc. Jadi, bukan karena pertimbangan performa dan lain-lain…

Nah, ternyata, karena kampung Mtb punya citra buruk di mata leasing, saat itu Mtb diberikan syarat minimun DP sebesar Rp5 juta. Itu minimal lho ya… Padahal untuk kampung lain yang tidak bermasalah, ada pilihan DP Rp2,9 juta.

Kenapa begitu? Padahal Mtb belum pernah mengajukan kredit apa pun sejak tinggal di kampung ini (kecuali KPR). Bahkan pihak dealer/leasing sama sekali belum melakukan BI checking pada nama Mtb… Tapi sudah langsung saja memvonis Rp5 juta. Artinya, kan, Mtb kena imbas akibat perbuatan orang lain… Padahal (lagi), Mtb baru 2 tahun tinggal dikampung ini… So… jika sampai terjadi DP nol persen, maka resiko ke arah itu akan terbuka semakin lebar.

Lalu… apa pertimbangan pemerintah (dalam hal ini OJK) dalam membuat wacana tersebut? Apakah demi mendorong pertumbuhan industri otomotif? Apa faedahnya, sementara industri otomotif yang menguasai pasar Indonesia ini di dominasi oleh merk asing…!!! (Hampir) tidak ada potensi mendorong pertumbuhan industri otomotir merk asli Indonesia.

Iya sih… wacana kebijakan itu pun bukan menjadi suatu kewajiban… Perusahaan pembiayaan tetap punya hak penuh dalam menentukan besaran DP.

Tapi…

…tetap saja memicu persaingan yang tidak sehat dilapangan. Lah, buktinya, dulu saat gencar-gencarnya aturan DP minimal 20%-25% pun perusahaan pada akal-akalan pake manipulasi promo cash back dan lain-lain…

Itu semua kan cuma permainan… Laporan mereka pada OJK (atau lembaga lain yang berwenang) pakai angka sebelum cash back. Padahal (misalnya) dari Rp2,5 juta yang tertera di atas kertas, itu konsumen hanya membayar (misalnya lagi) hanya Rp700 ribu. Dan itu benar-benar pernah Mtb alami pada bulan Januari 2009 saat Mtb mengajukan kredit Honda Fit X saat itu.

Enak ya…? Cash backnya sampai Rp1,8 jutaan…

Tapi (padahal – lagi), seperti yang Mtb sebutkan di atas, itu semua hanya permainan. Pada dasarnya, pihak leasing sudah memperhitungkan matang-matang, bahwa sesungguhnya angka Rp700 ribu itulah DP yang sebenarnya. Sisanya (plus bunga kreditnya) sudah dibagi rata ke dalam angsuran bulanan.

Begitu pun ketika ada iming-iming promo potongan angsuran 2 bulan, bla bla bla… Itu semua hanya “tipuan” dagang.

Itu dengan syarat minimum DP sekian persen… persaingan leasing sudah sedemikian parahnya dalam membodohi masyarakat Indonesia. Apa lagi jika terjadi DP nol persen?

Hokeh… ya sudah… Kita juga jangan terlalu panik dulu, soale itu baru wacana. Dan kemungkinannya, kebijakan DP nol persen tidak akan digelontorkan bulat-bulat pada seluruh lapisan masyarakat. Kemungkinan, kebijakan tersebut baru akan diterapkan melalui jalur khusus, misalnya saja, kerjasama antara pihak leasing dengan perusahaan tertentu dalam pengadaan kendaraan bagi karyawannya.

Berita selengkapnya

Kabarnya, Otoritas Jasa Keuangan di wacanakan akan merevisi POJK Nomor 29/POJK.05/2014 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Revisinya ialah melonggarkan loan-to-value (LTV) dalam pembiayaan hingga mencapai DP nol persen.

Pernyataan pihak OJK

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK, Riswinandi, kepada Viva mengatakan, kebijakan ini tergantung pada risk management perusahaan pembiayaan itu sendiri.

Tujuan dari kebijakan itu dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan industri pembiayaan. Tapi seperti yang Mtb sudah sebutkan di atas, kebijakan ini punya risiko tinggi dan memicu potensi gagal bayar oleh nasabah.

Tanggapan Mandiri Tunas Finance

Dilain pihak, Direktur Utama Mandiri Tunas Finance, Arya Suprihadi pun mengatakan hal yang serupa.

Kebijakan DP nol persen dapat menyulut daya beli masyarakat, tapi juga punya risiko kredit macet. Untunglah pihak leasing punya kebebasan penuh dalam penerapanya. Intinya, tidak harus mengikuti kebijakan DP nol persen.

Sebagai informasi, saat ini Mandiri Tunas Finance masih menggunakan ketetapan DP 20%-25%.

Tanggapan Suzuki Indomobil Sales

Direktur Pemasaran PT.Suzuki Indomobil Sales Divisi R4, Donny Saputra, kebijakan tersebut akan bagus jika dikelola dengan benar. Tapi tentu banyak syarat yang harus dipenuhi demi meminimalisir potensi kredit macet.

Menurut ketetapan OJK Nomor 47/SEOJK.05/2016, syarat minimal DP dalam kredit kendaraan bermotor adalah sebesar 5%.

Tanggapan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor, Jongkie D. Sugiarto pun menyuarakan tanggapan serupa. Yang intinya, dia mendukung, tapi tetap perusahaan leasing yang menentukan besaran DPnya nanti berdasarkan analisa keuangan calon debitur.

Tanggapan Toyota

PT Toyota Astra Motor (TAM) pun sama. Setuju, tapi dengan catatan harus ada analisa mendalam dalam menentukan kelayakkan konsumen.

Banyak faktor yang harus dipertimbangkan…

Realita di lapangan

Contoh kasus, misalnya…

…fenomena taksi online, dulu mampu mendorong banyak orang untuk berani membeli mobil secara kredit. Wajar… karena saat itu penghasilan driver taksi online bisa mencapai Rp10 juta (bahkan lebih) perbulannya.

Tapi apa sekarang…?

Jumlah driver online semakin banyak, tarif online bukan naik tapi malah bersaing banting harga, sementara insentif pun nominalnya turun.

Ngga penting lah ya soal insentif. Bagi Mtb, insentif itu pembodohan dari pihak aplikator dengan iming-iming insentif.

Mtb pikir, justru lebih sehat kalau insentif di tiadakan tapi tarif di naikkan menjadi manusiawi.

Tapi ya sudah… Terlalu panjang kalau merembet pada bahasan kebusukan aplikasi online… Kita lihat saja apa yang akan terjadi di Indonesia tercinta ini dengan tetap berfikir bijaksana.

Berfikir realistis…

Beli kendaraan sesuai kebutuhan, kemampuan dan selera. Jangan beli karena (dibodohi) oleh embel-embel (tipuan) promo bla bla bla… Jadilah orang Indonesia yang cerdas!!!

Apakah Mtb sudah cerdas…?

Belum juga sih… Mtb juga kalau kebetulan pas lagi butuh, suka cari-cari promo. Wkwkwkwkwk…!! Tapi Mtb tetap sesuai kebutuhan dan kemampuan. Bukan semata-mata tergiur oleh promo. (Mtb – Kredit mobil DP nol persen).

Tinggalkan Komentar