silinder head spacy fi

Korek Harian untuk Mendongkrak Performa Mesin? Pahami Juga Resikonya!

Korek Harian – Motorisblog.com – Pernah dengar istilah “kohar”?? Iya… Kohar adalah ketua RT.009/006. Tapi bukan Mang Kohar yang Mtb maksud. ‘Kohar’ yang Mtb maksud disini adalah di dunia persilatsn otomotif… hususnya otomotif roda dua).

‘Kohar’ adalah singkatan dari ‘korek harian’…

Yang di maksud dengan kohar di sini adalah mengoprek / mengubah / mengganti setelan / komponen tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan performa mesin motor.

Ada banyak cara yang biasa di lakukan oleh pecinta korek motor, misalnya:

Mengganti sepuyer dengan ukuran yang lebih besar

Tujuannya untuk memperbanyak suplai bahan bakar ke dalam ruang bakar supaya tenaga motor meningkat… mulai dari putaran bawah sampai top speed. Berbeda dengan spuyer bawaan pabrikan yang hanya responsif di putaran bawah, namun loyo di putaran atas.

Tapi cara ini tidak boleh sembarangan. Harus dilakukan oleh mekanik yang berkopetensi dalam korek-mengorek… karena kalau salah, bukannya lari kencang motor Om Bro malah bisa jadi brebet.

Mengganti CDI dengan versi racing

Cara yang paling mudah adalah mengganti CDI dengan versi racing… atau bisa juga dengan menggeser limiter dari CDI standar.

Tapi lagi-lagi harus dilakukan oleh mekanik yang berkompeten tinggi… karena kalau sampai salah, bukan performa naik motor Om Bro malah akan sulit di hidupkan.

Melakukan bore up / stroke up

Intinya adalah mengganti piston dengan diameter atau panjang yang lebih dari standar pabrikan.

Melakukan teknik bore up tentu meyebabkan dinding silinder menjadi lebih tipis… yang secara teknis menjadi kurang aman untuk penggunaan harian.

Mengganti karburator

Bahkan Mtb pernah mendapati orang yang mengganti injektor motornya dengan karburator.

Ini janggal menurut orang yang tidak hobi korek seperti Mtb.

Lah iya Om… saat pabrikan ramai-ramai upgrade dari karbu ke injeksi, ini malah melakukan down-grade dari injeksi ke karbu.

… dan masih banyak cara lain yang dilakukan dalam hal korek mesin motor, seperti mengganti noken as dan lain-lain.

Yaahh…begitulah kalau urusannya hobi dan kepuasan hati.

Namun Mtb sendiri (secara pribadi) kurang setuju dengan istilah kohar. Seharusnya pakai istilah kobal (korek balapan).

Wkwkwkwk… Ngarang-ngarang aja…

hdc 9 cimahi 2019 matic std sd 130cc open

Tapi bener lho Om… Logikanya, kalau untuk keperluan sehari-hari sih ngapain di korek-korek?? Bukankah masing-masing pabrikan memproduksi motor komersilnya sudah sesuai dengan keperluan harian?? Seharusnya sudah cukup dong… Nggak perlu di korek lagi…

Masih kurang apa sih?? Memangnya mau lari sampai kecepatan berapa di jalan raya umum?? Bahaya buat orang lain Om…

Kalau alasan Om Bro melakukan korek harian supaya lebih cepat sampai tujuan atau supaya tidak telat masuk kerja (misalnya), seharusnya Om Bro berangkat kerja lebih awal. Bukan malah dengan ngebut di jalanan.

Kan gitu kan??

Kecuali kalau Om Bro mengorek mesin untuk keperluan khusus semisal balapan, baru lah wajar.

Tapi itu pun bukan balapan liar loh ya…

Begini Om…

Mtb sama sekali bukanlah seorang mekanik. Mtb tidak memiliki keahlian mekanis apa-apa. Tapi Mtb hanya memperhatikan apa yang Mtb lihat atau yang di alami oleh orang lain di sekitar Mtb.

Ini pengalaman seorang teman Mtb bernama Bambang… pemilik Honda Supra X 125 lansiran tahun 2010. Dia menginginkan motornya itu bisa berlari secepat motornya Dani Pedrosa…

Honda Blade 125 vs Supra 125, Review dan Spesifikasi

Mas Bambang merealisasikan keinginannya itu pada tahun 2012… tentunya setelah melalui beberapa tahap konsultasi dengan mekanik-mekanik bengkel yang dia percaya.

Setidaknya dua bengkel yang dia datangi untuk mewujudkan keinginannya itu. Satu di Condet Jakarta Timur dan satu lagi di Tigaraksa Tangerang.

Saat itu Mtb tidak banyak menanyakan pada Bambang perkara apa saja yang di korek… karena Mtb kurang tertarik dengan bahasan itu.

Satu-satunya yang masih Mtb ingat adalah, dia mengganti piston motornya menggunakan piston Kawasaki Kaze.

Itu pun Mtb tidak menanyakan secara detail, apakah piston Kaze R atau Kaze ZX…

Singkat cerita, dua bulan kemudian Mas Bambang mampir ke kontrakan Mtb di Tigaraksa… dan saya mendengar suara mesin motornya kasar sekali. Dia bilang, “Lagi mau di benerin tapi belom punya duitnya”.

Selesai…

Singkat cerita lagi, tahun 2014 Mtb resign dari tempat kerja Mtb di Serang, Banten dan pulang kampung ke Ciamis.

Selesai lagi…

Singkat cerita lagi, di akhir tahun 2016 lalu Mtb ke Tangerang untuk menunaikan kewajiban Mtb membayar pajak motor lantaran motor Mtb masih berdomisili Tangerang…

Saat di Tangerang, Mtb sempatkan mampir ke rumah Mas Bambang di Jayanti.

Nah, saat itulah Mtb mendapati motor Mas Bambang sudah parah banget. Kasar dan mengepulkan asap putih dari knalpotnya.

Yang intinya, perangkat piston, stang secher dan lain-lain yang berhubungan dengan itu sudah rusak parah.

Melihat hal itu Mtb jadi teringat teman dan keponakan Mtb yang juga mengalami hal serupa pada motornya masing-masing (Vega R dan Yamaha Soul GT).

Nah, dari apa yang Mtb lihat dan Mtb konsultasikan kesana-kemari, Mtb menyimpulkan bahwa motor korekan memerlukan perawatan extra dibanding motor standar pabrikan.

Yang artinya juga tidak ada teknik “kohar” yang baik dengan alasan apapun. Teknik korek mesin hanya cocok untuk keperluan khusus, misalnya balapan dan sebagainya.

Bagi Om Bro penggila kecepatan, mungkin Om Bro akan membantah dengan menuding mekanik yang ngoreknya yang jeblok.

Hokeh… kita anggap pendapat Om Bro benar.

Tapi… Sekarang kita pakai logika Mtb… Begini:

Sehebat apapun Om Bro atau mekanik Om Bro dalam teknik kohar, pasti hasilnya tidak akan se-presisi hasil cetakan pabrik. Pasti ada poin-poin tertentu yang mengharuskan Om Bro untuk memberikan perawatan ekstra pada motor Om Bro sendiri.

Misalnya dengan mengganti oli lebih sering dari kondisi normal… atau pun perawatan extra lainnya.

Yang artinya Om Bro harus mengeluarkan biaya yang (mungkin) tidak sedikit.

Semua itu harus si lakukan demi kelangsungan hidup motor kesayangan Om Bro sendiri.

Kalau Mtb sih dari pada menghamburkan uang untuk urusan kohar dan perawatannya, lebih bijaksana uangnya saya tabung kemudian membeli motor baru yang sudah joss dari pabriknya… yang kapasitas mesinnya lebih besar, teknologi yang diusungnya lebih canggih dan lain-lain.

Kesimpulan…

Tidak ada salahnya juga jika memang teknik kohar itu membawa kepuasan atau bahkan merupakan hobi untuk Om Bro… Hanya satu poin intinya sebagai peringatan, yaitu, bahwa melakukan teknik korek harian berpotensi memperpendek usia motor alias motor jadi tidak awet. Itu saja sih intinya… (Mtb).

Tinggalkan komentar