Beranda » Review » Ketahanan Mesin Honda dan Yamaha dalam 3 Dekade

Ketahanan Mesin Honda dan Yamaha dalam 3 Dekade

Motorisblog.com – Om Bro! Mtb beberapa kali mendapat pertanyaan tentang ketahanan mesin Honda dan Yamaha. Pertanyaan yang membandingkan, lebih bagus mana dari kedua merk besar tersebut.

Jujur saja saya sulit menjawab pertanyaan ini, karena banyak faktor yang mempengaruhi jawabannya.

Bahkan pertanyaan itu sendiri pun dapat menimbulkan dua arah jawaban.

Maksudnya begini.

Jika yang Om Bro tanyakan adalah perkara performa mesin saat masih baru, maka Om Bro akan dengan mudah mendapatkan jawabannya. Om Bro hanya perlu mencari informasi mengenai spesifikasi mesin sepeda motor yang Om Bro maksud, kemudian test ride alias mencoba langsung motornya.

Tapi bagaimana jika yang Om Bro maksud adalah soal durabilitas alias keawetan?

Maka dalam hal ini jawabanya agak rumit.

Begini kesulitannya.

Perkara durabilitas, maka salah satu faktor penentunya adalah waktu. Om Bro tidak bisa menilai keawetan suatu mesin jika usia si motor baru 1-2 tahun saja. Setidaknya Om Bro harus menilai motor yang berusia lebih dari 5 tahun atau bahkan 10 tahun.

Lalu bagaimana dengan motor tahun 1990’an atau bahkan 1980’an? Usianya sudah lebih dari 20 tahun, berarti lebih bisa kita jadikan acuan dong?

Tidak juga Om. Karena kualitas material motor jadul sangatlah berbeda dengan motor zaman now. Apalagi pada masa itu kebanyakan motor masih impor, baik itu impor secara utuh alias CBU ataupun impor komponen terurai alias CKD. Sedangkan kita tahu bahwa kualitas komponen motor impor cenderung lebih bagus dan awet ketimbang produk lokal.

Betul Om. Pada zaman old, pabrikan motor masih adu kualitas dan keawetan. Tidak seperti zaman now ketika pabrikan mengedepankan desain dan fitur.

Contoh

Perumpamaan yang gampang saja. Pada motor-motor jadul, mayoritas komponennya ialah logam. Termasuk salah duanya adalah rangka jok dan spakbor. Sementara itu bagian-bagian tersebut pada zaman now sudah dominan plastik.

Jadi pada masa itu perkara durabilitas alias keawetan adalah hal utama.

Kemudian jika sekarang Om Bro menanyakan keawetan produk Honda vs Yamaha keluaran lama, pun perbandingannya kurang fair.

Kenapa?

Karena pada masa itu Honda adalah satu-satunya produsen motor 4 tak, sedangkan Yamaha dan lain-lain masih hanya bermain pada mesin 2 tak. Jadi tidak fair jika kita membandingkan dua jenis produk yang berbeda.

Selain itu ketika kita bicara perkara keawetan, faktor utamanya bukanlah hanya kualitas produk saja. Faktor lain juga ikut berpengaruh, antara lain cara penggunaan dan perawatan. Artinya, seberapa baiknya pun kualitas suatu motor, ia tetap tidak akan awet jika Om Bro jorok dan kasar dalam penggunaan dan perawatannya.

Yo wis lah. Untuk mengobati rasa penasaran Om Bro sekalian, sekarang kita paksakan saja buat perbandingan ketahanan mesin Honda vs Yamaha dalam 3 dekade, yaitu era 1990’an, era 2000’an dan era 2010’an.

Ketahanan Mesin Honda dan Yamaha

Era 1990’an

Seperti yang Mtb sebutkan tadi, pada era ini Honda masih sangat dominan.

Pada era ini Honda sudah memiliki jaringan bengkel resmi (AHASS) dan spare part yang cukup luas.

Logikanya, dengan jaringan yang luas, maka perawatan motor Honda jadi lebih mudah, yang pada akhirnya akan memberikan efek keawetan, khususnya pada sektor mesin. Kecuali jika pemiliknya jorok dan tidak merawat motor tunggangannya.

Selain itu Honda juga sudah sejak awal menerapkan strategi “ganti baju” yang merupakan kelebihan sekaligus kelemahan dari produk-produknya

Kenapa saya bilang kelebihan sekaligus kelemahan?

Kelebihan

Dengan hanya ganti baju, berarti mesinnya tetap yang itu-itu saja.

Jika mesinnya itu-itu saja, maka spare partnya juga yang itu-itu saja.

Nah, dengan begitu maka spare part dari motor Honda tetap melimpah, sehingga pemilik motor lama tidak akan kesulitan mendapatkan suku cadang.

Coba saja sekarang Om Bro cek spare part Honda Astrea Grand, melalui bengkel-bengkel umum. Masih banyak Om. Kecuali untuk beberapa part mungkin sudah sulit kita dapatkan.

Nah. Pada perjalanannya, Yamaha juga meniru strategi ganti baju ini dengan metode common part antara Vega R series dengan Yamaha Jupiter series. Juga common part keluarga Mio series pada dekade 2000’an.

Kekurangan

Dengan hanya gonta-ganti baju ini, sebagian kalangan muda jadi tidak suka pada merk Honda.

Sebagian dari kalangan muda cenderung lebih suka desain sporty dan performa mesin yang agresif. Yang pada akhirnya mereka memilih untuk meminang Yamaha F1ZRCrypton dan jajaran lini produk lainnya.

Tapi Honda masih beruntung lantaran selera tua masih cukup kuat sehingga ia masih tetap menguasai pangsa pasar Indonesia.

Menjelang era tahun 2000’an, Honda mulai mau merubah desain kolotnya melalui rilis Astrea Supra 97cc pada tahun 1997, yang kemudian berevolusi menjadi Supra X.

Terus apa saja sih motor 1990’an yang masih beredar dan terbukti awet?

1. Astrea Grand 1991

Honda Astrea Grand 1991

Salah seorang Uwa (kakak dari ibu) Mtb pernah memiliki Honda Astrea Grand generasi pertama lansiran tahun 1991.

Orang kampung Mtb menuebutnya dengan nama ‘Grand Buntung’.

Penamaan ‘Buntung’ itu muncul lantaran desain lampu belakang yang polos tanpa topi seperti pada Astrea Grand keluaran berikutnya.

Menurut sepupu Mtb (anak dari Uwa), konsumsi bahan bakar motornya tersebut bisa tembus 70 km/liter.

Nah, sebelum sepupu Mtb menjual motor tersebut pada tahun 2015 lalu, konon akselerasi mesinnya masih menghentak, meskipun powernya jelas sudah berkurang.

Nah. Jika Om Bro pernah mendengar istilah “mesin Honda makin panas makin mantap” itu benar untuk motor Honda pada era ini. Setidaknya begitu pengakuan orang-orang dari masa tersebut.

Menurut sepupu Mtb, Astrea Grand peninggalan orang tuanya tersebut hanya satu kali servis besar untuk penggantian set gigi dan kopling. Selebihnya hanya pembersihan ruang bakar dan pembersihan lainnya.

Edian! Selama 24 tahun itu motor hanya menjalani servis besar seperti itu doang?

Itulah salah satu bukti keawetan motor zaman old. Meskipun memang pada beberapa bagian rangka, terutama bagian belakang, sudah mulai keropos. Iya wajar sih Om. Keroposnya itu karena termakan usia.

2. Honda Astrea Supra 1997

Honda Supra X 100 tahun 2003

Astrea Supra 1997 keluaran pertama milik Muslimin, teman sekampung Mtb juga tidak kalah bandelnya. Saking bandelnya, Pak Muslimin sampai sering marah-marah kalau motornya nggak mau mandi dan sekolah.

Wkwkwkek! Ini motor! Bukan anak.

Lanjut.

Sampai pada tahun 2017 berarti umur Si Supri sudah 20 tahun dan baru ganti kampas kopling plus rantai keteng saja.

3. Honda Astrea Prima 1989

Honda Astrea Prima

Ini milik mertua dari kakak Mtb.

Secara power ia sudah agak lemah dan sudah pernah servis besar. Komponen yang mendapat penggantian ialah kampas kopling, rantai keteng dan satu set gigi pesneling.

Tapi meskipun powernya sudah lemah, ia tidak pernah mogok dalam perjalanan.

4. Honda WIN 100 – 1997

Honda WIN 100

Mtb sempat test ride Win 100 punya tetangga ortu dan ngintip kolong mesinnya dan area tersebut tampak kering. Tidak ada rembesan oli.

Mtb rasa power Honda WIN 100 milik tetangga masih mumpuni untuk ukuran motor tuwir. Sekali puntir gas, ngacir ia.

5. Yamaha Vega 1998

Tampak Belakang Yamaha Vega R 100 2003

Tampak Depan Yamaha Vega R 100 2003

Ini milik Omen, tetangga kampung.

Pada tahun 2010 ia sudah pernah servis besar tapi tidak ada komponen yang mendapat penggantian, padahal saat itu usianya sudah 12 tahun.

Tapi sayangnya pada tahun 2015 lalu blok mesinnya sudah mulai basah oleh rembesan oli.

6. Yamaha Crypton 1997

Yamaha Crypton

Dulu Mtb punya teman seorang pengantar Mie Keriting merk ACC. Mtb kenal ia pada tahun 2009, berarti sudah 12 tahun usia motornya.

Menurut si Jack (panggilan akrabnya), selama 12 tahun itu ia baru mengalami ganti kampas kopling saja.

Ketahanan Mesin Honda dan Yamaha Era tahun 2000’an

Memasuki abad 21 yang sekaligus juga millenium kedua, kualitas sepeda motor tanah air mengalami pergeseran.

Silahkan simak yang berikut ini.

7. Suzuki Smash 110 – 2005

Suzuki Smash 2003

Ini agak keluar dari judul nih. Tapi nggak apa ya Om? Sebagai pelengkap supaya tidak ada kesan diskriminasi pada merk Suzuki dan Kawasaki.

Mang Lili, seorang tukang proyek civil yang masih gagah menunggang motor ini.

Sampai 2017 berarti sudah 12 tahun usia motornya dan belum pernah turun mesin. Hanya servis ringan dan ganti part-part fast moving seperti rantai, ban, kampas rem dan lainnya.

Hingga tahun 2017 itu performa mesinnya masih mantap. Mtb intip kolong mesinnya juga kering dan bersih.

8. Honda Revo 100 – 2007

Teman kerja Mtb ada yang pernah punya motor ini. Menurutnya, pada usia 5 tahun motor ini sudah mengalami penurunan performa. Selain itu fungsi-fungsi kelistrikan juga sudah mulai rewel.

Honda Revo 100

Nah, dari sini sudah mulai terlihat penurunan mutu motor Honda.

9. Suzuki Shogun SP 125

Agus Sapari membeli motor ini dengan status janda.

Wkwkwkwk! Maksudnya second.

Suzuki Shogun SP 125 (Sumber: olx.co.id)

Tidak tahu sih bagaimana saat masih dalam pelukan pemilik pertama, tapi di tangan Agus, motor ini ngacir tanpa kendala apa-apa.

Bahkan ia mampu memacu motor ini hingga kecepatan 100 km/jam versi speedometer pada setiap perjalanan mudiknya dari Jakarta ke Banjar Patroman.

Itu belum mentok gas katanya. Jadi top speed’nya masih lebih dari itu.

10. Honda Fit X 2008 dan Yamaha New Vega R 2008

Yamaha Vega R 110

Mtb sudah pernah bahas kedua mantan kekasih Mtb ini pada artikel Fit X vs Vega R.

Secara akselerasi mesin, Vega R bahkan bisa mengalahkan Supra X 125 2010 (versi feelling Mtb).

Secara kualitas logam, Vega R lebih bagus dari Fit X.

Tapi Vega R ini bukan tanpa kelemahan.

Review Honda Fit X

Pada tahun 2011, Mtb pindahtangankan Honda Fit X ke kakak Mtb yang tinggal di Karawang. Dan hingga tahun 2017, Fit X tersebut hanya ganti kampas kopling dan rantai keteng saja. Part lain selain fast moving masih OK.

Kampas kopling dan rantai keteng itu ia ganti pada tahun 2015, artinya pada saat si motor berusia 7 tahun.

Kemudian perkara performa, kakak bilang tidak banyak menurun ketimbang saat ia batu terima dari tangan Mtb.

Review Vega R

Mtb beli motor ini pada tahun 2011 sebagai pengganti Fit X.

Mtb beli janda Vega R dari Heri Eriyanto, teman satu kerja di Jakarta, dulu.

Pada tahun yang sama, hanya beberapa bulan sejak Mtb merebut cinta Vega R dari tangan Heri, Mtb sudah harus mengganti kampas koplingnya. Padahal usia Vega baru 3 tahun.

Tapi itu Mtb tidak tahu bagaimana pemakaian dan perawatan Vega saat masih menjadi milik Heri.

Selain itu, si cantik Vega sudah pernah jatuh 2 kali. Sekali oleh Heri dan sekali oleh Mtb.

Dari sini bahasannya agak keluar dari tema nih.

Yang Mtb rasakan, body Vega sudah tidak stabil. Kalau Mtb ajak lari, ia limbung.

Memang sih mungkin efek jatuh itu tadi. Tapi Mtb tidak merasakan gejala itu pada Fit X kakak yang juga pernah jatuh oleh Mtb dan oleh kakak Mtb.

Shockbreaker

Kemudian shockbreaker belakang Vega R tersebut juga sudah bocor pada usia 3 tahun. Olinya itu sudah muncrat dan belepotan.

Wkwkwkwk! Jangan bayangin muncrat dan belepotan yang lain ya Om.

Bukan cuma milik Mtb. Vega R 2007 milik sepupu dan asisten manager Mtb juga sama, shock belakang jebol pada usia segitu.

Selain itu, Mio Sporty milik mertua juga sama. Ia sudah meler pada usia 3 tahun.

Kelistrikan

Nah, ada lagi. Vega R itu dalam setahun terakhir kebersamaan dengan Mtb, kelistrikannya sudah sangat rewel. Lampu utama mati setiap 2 bulan serta fittingnya meleleh melulu.

Padahal lampu Vega R bukan AHO lho.

Selanjutnya, belum sempat Mtb melacak penyebab rewelnya listrik Vega, keburu Mtb jual pada orang lain.

Saat itu sih Mtb baru menduga kiproknya yang sudah minta ganti.

Era 2010 Sampai Sekarang

Pada era ini bagi Mtb masih sulit untuk menilai awet atau tidaknya suatu mesin.

Sejauh informasi yang Mtb gali, dengan pemakaian normal dan perawatan teratur, hampir pasti performa motor-motor baru masih bagus semua.

Wajar, karena usianya masih relatif muda.

Kecuali Mio Sporty 2010 milik mertua Mtb yang memang sudah tidak stabil. Tapi hal itu dapat Mtb artikan karena kesibukan dan kurangnya perawatan sang Mio.

Yamaha Mio Sporty Karbu 2010

Kecuali juga Honda Spacy Mtb. Pada tahun ke-4, ia sudah harus menjalani operasi besar. Ganti kanvas kopling, roller, rumah roller serta boss rumah roller.

CVT sih sudah jelas rutin tiap 24.000 km ganti.

Tapi Spacy Mtb ini memang kerjanya ekstra berat. Ia harus menggendong Mtb dan barang muatan dengan total beban 120 kg (mungkin lebih). Dan itu setiap hari, dengan jarak tempuh lebih dari 50 km serta kondisi jalan pegunungan yang rusak dan naik turun.

Wajar kalau sebelum 4 tahun saja ia sudah ngedrop.

Sebenarnya Mtb kasihan pada Spacy Mtb tercinta. Tapi ya, dulu Mtb tidak tahu kalau akan mengalami profesi sebagai sales motoris.

Kesimpulan

Soal ketahanan mesin Honda dan Yamaha, pada era 1990’an produk Honda telah terbukti awet. Sementara itu setelah era tahun 2000’an, tampaknya kedua merk ini seimbang.

Selanjutnya setelah tahun 2010 hingga saat ini Mtb masih kurang mendapatkan referensi. Jadi jika Om Bro punya pengalaman tentang ketahanan mesin Honda dan Yamaha, monggo share pengalaman melalui kolom komentar. (Mtb).

14 tanggapan pada “Ketahanan Mesin Honda dan Yamaha dalam 3 Dekade”

  1. Artikelnya bagus mas broo, jadi tau nih wawasan ttg motor. Punyaku Vega R yg belinya desember tahun 2007, mesinya mulai ada rembasan dari dalam, rantai selalu kendor sendiri kalau 2 bulan gak diservice, tarikannya agak berat, sebaiknya dijual saja kali ya, beli baru. tapi sayang si kuda hitamku ini adalah motor perjuangan dari bujangan sampai punya 2 anak susah senang selalu menyertai, bahkan pernah dibawa mudik dari bandung ke sragen – solo 4 kli lebaran..

  2. Penggembala domba

    Mau motor apapun kalau di bawa gaspol dan jarang servis pasti ambrol….
    Punya teman ane supra fit new th 2006 …bawa nya pelan pelan…cuman ganti kopling otomatis dan kopling nya.punya ane papas head silinder 0,5 mili ,reamer karbu,intake dan out …setahun sekali ganti seher dan ring/oversize…padahal motor th 2006 juga.
    Punya teman ane tembus 55 untuk 1 liter,punya ane 35 sd 37 untuk 1 liter.
    Motor apapun di geber gaspol kagak ada yg irit dan awet.

    1. Setuju, Om Bro. Kalau bicara soal durabilitas, tentu standar pabrikan dan cara pemakaian serta cara perawatan yang paling berperan.

  3. gini, motor dibawah taun 2010 gak butuh perawatan lebih, kasarnya org jorok males ganti oli masih bisa awet mesin 2-3 taun.. kalo skarang (diatas 2010) kualitas dikurang2in, alhasil telat sebulan aja udah bunyi aneh2 mesin.. jadi intinya, taun2 skrg motor butuh perawatan yg baik, gak bisa jorok2 dan males2

    1. Saya setuju, Om Bro. Motor saya Honda Spacy FI 2013, dengan perawatan yang jorok, belum 5 tahun udah oblak sehernya. Hari ini saya baru aja ganti seher.

      Di samping itu, si panci emang kerjanya ekstra keras juga sih. 2.5 tahun jadi armada dagang keliling naik turun gunung dan 7 bulan terakhir ini jadi armada ojek online.

      Selama jadi armada dagang, rutenya naik turun gunung melalui jalanan yang remuk redam.

  4. Jupiter MX Old Sy Yang kluaran 2007 Msinx Udh Bnyi lntran Pke Blapan. Tpi udh Lumyan Lah Bgi sy ,Thun 2018 Kmarin Br Gnti Blok Ma Piston Slbhx Blm Ad dgnti. Pmkaianyg ckup Lma ..

  5. Motor Gue Satria Fu 2004 jarang di pake Kenceng tapi pernah juga di pake kenceng sampai 2019 masih gur pake cuma ganti spertpat kecil” ban,oli,kampas rem/kopling.. terakhir Rantai Kampratnya Om.

    1. Wah… mantep itu Om… Motor udah 15 tahun masih seger buger bigitu…

      Memang sih… kalau kualitas material, Suzuki ngga diragukan.

      Sampai seri GSX 150 pun salah satu kampanye Suzuki pada keunggulan material.

      Semoga ke depannya marketing Suzuki makin bagus, supaya dunia persilatan motor tanah air jadi berimbang komposisi populasinya.

  6. Saya punya Vega R 2006 dari baru. Sampai sekarang belum pernah bongkar mesin. Performa mesin masih bisa digeber 100 km/jam.

  7. Saya pakai ninja 2 tak dri 2007 smpe d jual 2017, cuma ganti kanvas kopling dan ring piston cat msh kinclong, 2009 saya pakai satria fu smpai skrg sdh ganti kanvas kopling, rantai timing tensioner dan part fast moving lainya, cat jg msh kinclong, 2018 saya beli honda revo fi, sdh ganti mangkok stang, cat jg sdh mulai pudar, rantai roda jg cepat sekali kendor, tp revo ini mtr paling irit yg pernah saya beli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *