Ini Cara Penggunaan Lampu Hazard yang Benar! Jangan Salah Kaprah!

Motorisblog.com – Om Bro…!! Masih banyak orang yang tidak paham akan penggunaan lampu hazard yang benar. Entah juga sih… Entah mereka ngga paham atau memang sengaja gaya-gayaan biar keliatan kek orang penting.

Apa hubungannya??

Lah biasanya (kadang-kadang sih), kalo ada orang penggede (misale pejabat) kan suka pake lampu hazard saat berkendara dengan / tanpa pengawalan. Maksudnya (mungkin) supaya dikasih lajur… biar jalannya lancar… (enak amat ya? Rakyat macet, pejabat pengen lancar).

Nah, masalahnya sekarang, selain pada mobil, lampu hazard motor juga sudah banyak disematkan menjadi salah satu fitur dari pabrikan.

Lantas, apa masalahnya??

Masalahnya ialah karena banyak orang yang salah dalam penggunaan lampu darurat tersebut.

Fungsi lampu hazard pada motor atau pun mobil ialah hanya untuk kondisi darurat tok doang. Sementara kondisi darurat itu sendiri oleh para pakar diartikan sebagai kondisi mogok, ketika terjadi kecelakaan, pecah ban / sedang mengganti ban mobil dan kondisi-kondisi lain yang benar-benar darurat.

Nah, melihat dari 3 contoh utamanya yaitu mogok, kecelakaan lalu lintas dan pecah ban, maka dapat dipastikan bahwa penggunaan lampu hazard yang benar adalah pada kondisi saat KENDARAAN SEDANG BERHENTI…!! Bukan pada saat melaju seperti yang sering kita lihat selama ini.

Dan hal itu sangat membahayakan bagi orang lain karena lampu hazard adalah lampu sein yang menyala secara bersamaan. Artinya, ketika Om Bro menyalakan lampu hazard, maka praktis lampu sein tidak akan berfungsi. Dengan demikian, pengendara lain tidak akan tahu ketika Om Bro hendak berbelok atau pun berpindah lajur jalan.

So, jangan egois… pahami bahwa ada orang lain yang harus menanggung resiko atas kesalahan kita di jalanan.

Itu bagi yang sudah paham akan fitur hazard lamp. Sementara bagi yang belum paham, maka disinilah pentingnya bagi kita untuk membaca dan mencari tahu akan fungsi dari fitur-fitur pada kendaraan yang kita miliki.

Aturan menyalakan lampu hazard telah di atur dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, Pasal 121 ayat 1, yaitu;

“Setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat di jalan”.

Dan dari hasil penelusuran Mtb, kata “isyarat lain” disitu dapat menggunakan lampu darurat dan senter. Sementara kata “keadaan darurat” diartikan seperti contoh mogok, kecelakaan lalu lintas, kempes ban (sedang mengganti ban) atau kondisi darurat lainnya.

Contoh-contoh Penggunaan Lampu Hazard yang Salah

Penggunaan Disaat Hujan

Kesalah kaprahan ini yang paling sering terjadi. Banyak orang yang menggunakan lampu hazard saat hujan lebat dengan dalih sebagai tanda supaya keberadaannya lebih terlihat oleh orang lain. Padahal cara itu justru dapat menimbulkan kecelakaan bagi orang lain.

Penggunaan hazard lamp kala hujan justru membingungkan orang lain lantaran lampu sein tidak berfungsi. Orang lain jadi tidak tahu ketika Om Bro hendak berbelok atau berpindah lajur.

Selain itu, sinar lampu yang berkedip secara terus menerus tentunya membuat orang lain silau hingga dapat menurunkan konsentrasi.

So, bagi pengendara mobil, lebih disarankan untuk menyalakan lampu besar ketimbang menyalakan hazard lamp. Jika pun cuaca berkabut & jarak pandang terbatas, maka dapat menggunakan tambahan fog lamp.

Selain itu lagi, melambatkan laju kendaraan jadi mutlak harus dilakukan. Jangan berkendara secepat pada kondisi cuaca normal.

Menggunakan Hazard Lamp Ketika Hendak Lurus di Persimpangan

Cara ini juga tidak perlu, bahkan terkesan aneh. Lah iya… Logikanya, dengan tanpa menyalakan lampu sein saja berarti sudah mengandung arti bahwa Om Bro hendak berjalan lurus. Jadi tidak perlu lah itu pake hazard lamp.

Menyalakan Hazard Lamp di Dalam Terowongan

Sama seperti saat hujan, penggunaan hazard lamp juga tidak diperlukan ketika Om Bro melaju di lorong gelap. Jika pun Om Bro merasa perlu memberi tanda, justru yang diperlukan adalah menyalakan lampu utama atau lampu senja saja.

Dengan menyalakan lampu utama, maka lampu belakang berwarna merah pun akan turut menyala sehingga menjadi tanda bagi pengendara lain akan keberadaan Om Bro… Apalagi bagi pengendara motor yang pada dasarnya sudah wajib menyalakan lampu utama di siang hari, maka penggunaan hazard lamp jelas tidak diperlukan pada situasi seperti ini.

Pada Saat Cuaca Berkabut

Masih dama seperti kondisi cuaca hujan… yaitu lebih bijak menyalakan lampu kabut (fog lamp) atau lampu utama saja ketimbang menyalakan hazard lamp. (Mtb – Penggunaan lampu hazard yang benar).

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: