Beranda » Review » 11 Area Perang Honda vs Yamaha Hingga Teknologi Modern

11 Area Perang Honda vs Yamaha Hingga Teknologi Modern

Motorisblog.com – Om Bro! Perang Honda vs Yamaha bukan hanya terjadi pada zaman now saja, tapi justru sudah sejak puluhan tahun lalu dan semakin sengit pada era 1990’an sejak Yamaha merilis bebek 4-tak, Crypton.

Yup. Yamaha Crypton menjadi proyek uji coba pabrikan tersebut dalam melakukan penetrasi pasar komersil 4 tak. Sebelum itu Yamaha sama seperti Suzuki, yaitu hanya bermain dalam area 2 tak saja.

Yamaha Crypton

Sebenarnya perang antara Honda vs Yamaha hinggi kini dapat kita katakan tidak pernah head to head. Pada masa lalu sudah jelas, Honda menjadi pemain tunggal mesin 4 tak. Sementara itu Yamaha, Suzuki, Kawasaki Binter dan Vespa masih memainkan mesin 2 tak.

Bahkan ketika yang lain sudah bermain mesin 4 tak pun strategi Yamaha dan Honda tetap berbeda. Honda tetap mempertahankan image irit dengan kapasitas mesin yang lebih kecil, sedangkan Yamaha mempertahankan image kencang dengan cc yang cenderung lebih besar.

2-Tak vs 4-Tak

Pada masa itu, muncul dua kubu konsumen penggemar 2-tak vs 4-tak.

Irit vs Kencang
  • Kubu 4-tak suka Honda lantaran mesin 4-tak lebih irit bahan bakar dan pembakarannya hanya membutuhkan bensin murni saja tanpa campuran oli samping
  • Sementara itu kubu 2-tak lebih suka produk-produk Yamaha, Suzuki dan lain-lain lantaran mesin 2-tak punya akselerasi spontan
Resiko Perawatan

Selain itu, mereka juga menganggap bahwa Honda (motor 4 tak) lebih besar biaya perawatannya. Contohnya dalam kondisi ada kerusakan komponen dalam mesin, konon kerusakan mesin 4-tak mudah menjalar. Jadi kalau ada satu part yang rusak, maka part lain dalam rangkaian tersebut bakal ikut rusak juga, sehingga biaya perbaikannya jadi lebih mahal.

Mitos vs Fakta

Maka dari anggapan itu muncullah kesan bahwa Honda lebih beresiko dalam hal kerusakan yang menjalar, ketimbang brand lain. Padahal jika pun iya, penyebabnya bukan Honda’nya melainkan 4 tak’nya. Artinya setelah Yamaha, Suzuki dan lain-lain juga bermain ke dunia 4-tak, seharusnya anggapan tersebut sudah gugur.

Tapi faktanya tidak demikian. Stigma itu masih terus berkembang hingga era 2010’an.

Betul Om. Pada tahun 2010 saat Mtb masih kerja di Komala’s Restaurant, Sarinah, Thamrin, Mtb masih mendengar anggapan seperti itu dari teman kerja.

Yup. Pada tahun 2010 masih ada kawan Mtb yang menganggap kerusakan mesin Honda mudah menjalar, sedangkan Yamaha tidak.

Sangkalan dari Honda

Menanggapi anggapan seperti itu, pihak Honda sendiri sebenarnya sudah sempat menyangkalnya sejak generasi Astrea dan GL Series.

Betul Om. Pada buku panduan motor Honda era 1990’an, Honda mengatakan bahwa menjalarnya kerusakan part mesin hanya akan terjadi jika Om Bro terlambat menangani kerusakan saat masalahnya masih kecil.

Namun sangkalan tersebut tidak berhasil merubah anggapan masyarakat hingga berakhirnya era 2-tak vs 4-tak.

Honda vs Yamaha vs Suzuki pada Era 4-tak

Mtb menganggap perang Honda vs Yamaha vs Suzuki pada era 2-tak masih dalam fase “perang dingin”. Sementara fase perang terbuka baru pecah pada era 4-tak.

1. Honda Astrea Series vs Yamaha Crypton vs Suzuki Shogun 110

Suzuki Shogun 110

Suzuki mencoba menginvasi pasar motor 4-tak dengan memproduksi Shogun 110 pada tahun 1995. Faktanya, produk yang biasa mendapat sebutan ‘Shogun Kebo’ ini sempat berhasil meraih market share yang lumayan besar.

Yamaha Crypton

Melihat teman satu genre telah mulai menjajal mesin 4 tak, pada tahun 1996 Yamaha pun merilis bebek Yamaha Crypton.

Konon Yamaha Crypton ini menjadi bebek pertama untuk pasar Indonesia yang mengaplikasikan rem cakram pada roda depan. Sebelum itu rem cakram baru ada pada model motor sport manual saja.

Namun Crypton belum cukup berhasil. Crypton masih jauh tertinggal.

Jangankan untuk merebut pasar Honda, bahkan untuk menandingi Suzuki Shogun 110 saja, Crypton belum mampu.

Salah satu kelebihan Shogun saat itu adalah kapasitas mesinnya yang lebih besar ketimbang dua rivalnya.

Betul Om. Pada zaman itu Suzuki memang selalu jadi pelopor. Berikut ini beberapa motor inovatif Suzuki.

Motor Inovatif Suzuki
  • Shogun Kebo sudah 110cc saat Honda dan Yamaha masih bermain pada kelas 100cc
  • Suzuki Satria RU (Satria Hiu) sudah lebih dulu bermain pada kelas bebek 120cc
  • Shogun 125 sudah main 125cc dengan desain sporty saat Honda Karisma masih berdesain kurang sporty dan belum ada Supra X 125
  • Spin telah menjadi skutik brand Jepang pertama dari Suzuki yang kapasitas mesinnya 125cc, sementara Yamaha Mio Sporty masih 113cc dan Honda Vario 110 karbu masih 108cc.

Suzuki Satria RU120

Suzuki Spin 125 SR

Karena inovasi-inovasi tersebutlah Shogun 110 masih tetap lebih kuat dari Crypton, hingga masa awal dekade 2000’an.

Honda Astrea Supra dan Supra X 100

Menyadari ancaman dari Yamaha, Suzuki dan Kawasaki Kaze, Honda segera mengganti desain bebeknya dari Honda Astrea Grand yang datar lurus menjadi Supra X 100 yang sedikit sporty, pada tahun 1997. Yaitu tahun saat krisis ekonomi dan moneter melanda dunia.

Honda Supra X 100 2003

Yup. Saat itu Honda belum punya produk inovatif. Maka Honda hanya mengganti baju Astrea Grand dengan desain yang sedikit sporty. Sementara mesinnya masih menggunakan mesin C100 dari basis Astrea Grand dan Honda Astrea Prima.

Dan satu hal lagi, Honda juga masih menggunakan label ‘Astrea’ pada Supra 100 generasi pertama.

Desain Body Honda vs Yamaha vs Suzuki

Kala itu desain Crypton dan Shogun masih lebih sporty ketimbang Supra. Garis bodi Crypton dan Shogun lurus menukik dari ekor menuju area atas mesin, sedangkan garis bodi Supra masih ada efek datar dari buntut ke sisi samping-tengah, kemudian baru anjlok dari tengah menuju ke arah mesin.

Tapi desain Crypton dan Shogun yang sporty, nyatanya tetap masih belum mampu menghambat pasar Astrea Supra.

Stigma motor sama dengan (=) Honda masih tetap kuat dalam benak masyarakat Indonesia. Bahkan saat krisis ekonomi dan moneter memporak-porandakan perekonomian Indonesia pada penghujung 1997, 1998 dan seterusnya, Astrea Supra yang menjadi proyek duplikasi bagi merk-merk China.

Betul Om. Pada masa-masa krisis hingga beberapa tahun setelah tahun 2000, motor-motor China sempat “mengacak-acak” dunia persilatan roda dua tanah air. Mereka mencoba peruntungan dengan menawarkan harga yang sangat murah.

Dan ternyata desain yang mereka contek adalah Honda Astrea Supra.

Ada sih sebagian dari motor Cina itu yang meniru merk lain, misale saja Tossa yang sempat meniru Suzuki Shogun 110 generasi-2.

Tapi tetap saja lebih banyak yang meniru desain Honda Supra, ketimbang merk lain.

Tapi kemudian motor-motor Cina itu hilang dengan sendirinya dari pasaran, akibat kualitas produk yang buruk.

2. Honda Tiger vs Suzuki Thunder 250 vs Yamaha Scorpio

Honda Tiger 2000 Generasi Kedua

Pada masa krisis itu, Suzuki sempat mencoba menyerang Honda dari lini Sport, tapi tidak berhasil.

Honda Tiger 2000 yang hanya memiliki kapasitas silinder 196cc saja tetap tak tergoyahkan oleh mesin yang lebih besar dari Suzuki Thunder 250.

Suzuki Thunder 250 (Sumber: bukalapak.com)

Salah satu fakta menarik dari komparasi kedua produk tersebut ialah, bahwa Suzuki hanya menerapkan sistem 5 gigi percepatan. Padahal Tiger yang kapasitas mesinnya lebih kecil saja sudah menerapkan 6 gigi transmisi.

Melihat Suzuki Thunder 250, Yamaha juga melahirkan motor sport dengan kapasitas mesin 223cc, yaitu Scorpio, pada tahun 2001.

Yamaha Scorpio Z Modif Tipe G

Yup. Kapasitas mesin Yamaha Scorpio berada antara Honda Tiger dan Suzuki Thunder, yaitu 223cc yang dalam pembulatannya mereka sebut sebagai 225cc.

Pada perjalanannya, Scorpio berhasil mendapat market share yang lumayan. Tapi secara kesuruhan, Tiger masih tetap digdaya.

Iya Om. Meskipun Honda Tiger terhimpit dua lawan yang bermesin lebih besar, namun jumlah populasinya tak lantas jadi surut.

Iya wajar sih ya Om. Honda Tiger sudah lahir 8 tahun sebelum Scorpio. Maka patut saja jika Si Macan sulit mereka tumbangkan.

3. Honda Supra vs Yamaha Jupiter dan Honda Supra Fit vs Yamaha Vega

Pada generasi ini produk Honda mulai tidak jelas. Mungkin karena kalang kabut, Honda mengenakan rupa-rupa baju pada mesin yang itu-itu saja.

Pada tahun 2001, Yamaha menjajal kekuatan Honda Supra dengan dengan memproduksi bebek Vega 100cc yang kemudian bertransformasi menjadi Vega R.

Yamaha Vega R 100 2003

Untuk melawan ancaman dari Yamaha Vega R, Honda merilis Supra Fit series sebagai versi murah dari Supra X 100.

Honda Supra Fit

Dalam perjalanannya, Supra Fit mengalami beberapa kali fase ganti baju menjadi New Supra Fit, New Supra Fit R, Fit S dan pamungkasnya menjadi Honda Fit X.

Pada tahun yang sama, Yamaha juga mengatur strategi perang baru dengan cara men-down-grade Vega menjadi produk low-end, sekaligus menaikkan kasta Jupiter mata burung hantu (Jupiter Burhan).

Jadi segmentasi Vega ialah untuk melawan Supra Fit, sementara Jupiter mereka hadapkan dengan Supra X.

Strategi tersebut menjadi salah satu titik keberhasilan tertinggi Yamaha pada awal dekade 2000’an sebelum era skutik. Saat itu Yamaha dengan Vega’nya sanggup menusuk langsung ke jantung pertahanan Honda dan berhasil mencatat angka penjualan yang cukup tinggi ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Melihat persaingan Honda vs Yamaha tersebut, Suzuki tak tinggal diam. Ia melahirkan Suzuki Smash dengan tagline ‘Sigesit irit’. Maksudnya ia ingin menciptakan kesan bahwa Smash itu gesit seperti Vega sekaligus irit seperti Honda. Tapi faktanya saat itu Smash tidak benar-benar gesit untuk mengejar penjualan Vega yang sudah jauh meninggalkannya. Tidak seperti pertarungan Honda vs Yamaha vs Suzuki pada masa Astrea Supra vs Crypton vs Shogun Kebo.

4. Yamaha Mio Series vs Honda Vario 110 dan Beat

Yamaha Nouvo

Pada tahun 2003 Yamaha mencoba memperluas potensi penjualan dengan membangun Yamaha Nouvo.

Yamaha Nouvo

Nouvo merupakan motor matic pertama dari brand Jepang yang rilis untuk pasar Indonesia. Sebelum itu segmen motor matic masih menjadi wilayah kekuasaan produk Cina dan Taiwan, seperti salah satunya Jetmatic Kymco yang pernah cukup populer mengisi pasar tanah air.

Namun sayangnya Nouvo yang punya volume bagasi lumayan besar pada masa’nya itu tidak cukup mampu mendongkrak angka penjualan Yamaha.

Yamaha Mio

Tidak berputus asa, sekira dua tahun kemudian Yamaha membangun kembali model skutik yang lain, yaitu jajaran produk Mio.

Mio Sporty Karbu 2010

Hasilnya?

Sangat luar biasa. Mio bukan hanya berhasil merebut pasar Kymco, namun sekaligus berhasil menggoyahkan dinasti Honda yang sudah selama 34 tahun menguasai pasar Indonesia. Pasar Honda yang saat itu masih dominan bebek sempat kocar-kacir oleh Mio yang awalnya menarget kaum hawa.

Honda Vario 110 Karbu

Honda menyusun strategi baru dengan merilis Vario 110 karbu pada tahun 2006 dengan kekuatan mesin 108cc. Namun apa daya, kekuatan baru Honda ini belum bisa berbuat banyak. Jumlah populasinya masih jauh tertinggal dari Mio.

Honda Vario Karbu 2011

Betul Om. Saat itu tren motor skutik masih identik dengan kaum hawa. Maka desain ramping Mio masih jauh lebih menarik minat konsumen Indonesia ketimbang tubuh gemuk Vario.

Kala itu Vario menawarkan spesifikasi yang lebih tinggi dari Mio. Tampak dari rasio kompresi mesin yang lebih tinggi sehingga membutuhkan radiator pada sistem pendinginannya. Juga dari fitur-fitur lain semisal Side Stand Switch, Secure Key Shuter dan lain-lain yang saat itu belum ada pada Mio.

Iya memang Vario lebih valueable, namun akibatnya tentu harga Vario jadi lebih tinggi dari Mio.

Honda Beat Karbu

Melihat fakta lapangan seperti itu, Honda segera merilis produk baru pada penghujung tahun 2007, yaitu Honda Beat karbu.

Honda Beat Karbu 2010

Selanjutnya kelahiran Beat bukan hanya mampu menghadang laju Mio, namun hingga mampu menyerang balik populasi Mio.

Perlahan namun pasti, dengan masih tertatih-tatih, Beat yang berdampingan dengan Vario berhasil motor terlaris di Indonesia hingga saat ini.

Betul Om. Pada tahun 2008, 2009 dan 2010, penjualan motor Honda vs Yamaha tanah air sempat memperlihatkan persaingan yang sangat ketat dengan selisih angka yang sangat tipis. Yamaha dengan Mio’nya sudah mampu menempel jumlah penjualan Honda.

Tahun 2010 adalah puncak kejayaan penjualan Yamaha, yangmana saat itu selisih penjualan antara Yamaha dan Honda hanya berkisar 100 ribuan unit saja dalam setahun.

Iya meskipun Honda masih unggul dalam jumlah penjualan secara umum, namun untuk segmen skutik, Honda benar-benar lumpuh kala itu.

Namun malang bagi Yamaha. Pada tahun 2011, Honda berhasil kembali jauh meninggalkannya.

5. Yamaha Jupiter MX 135 vs Honda Supra X 125

Pada segmen ini sebenarnya perang Honda vs Yamaha tidak fair. Supra X punya kapasitas mesin 125cc, sementara Jupiter MX 135 berkubikasi 135cc.

New Yamaha Jupiter MX 135

Pada tahun 2006 Yamaha tampak licik tapi juga cerdas. Ia menciptakan mesin 135cc untuk Jupiter MX supaya tidak harus bertarung head to head dengan Supra X 125.

Honda Supra X 125 2018

Bahkan meskipun Honda sudah memberikan pilihan sistem pengabutan injeksi pada Supra X, Yamaha Jupiter MX tetap tidak surut ke belakang. Apalagi saat itu sistem injeksi masih terkesan tabu lantaran dukungan aftersalesnya belum cukup merata. Berbeda dengan karburator yang sudah sangat familiar bagi pengguna dan para montir bengkel.

Kelebihan lain dari Jupiter MX saat itu ialah rentang harganya yang seimbang dengan Supra X. Padahal secara kapasitas mesin, Jupiter MX jelas lebih powerfull ketimbang Supra X.

6. Yamaha Vixion vs Megapro 160

Tahun 2007 menjadi tahun bersejarah bagi Yamaha, karena pada tahun itulah pertama kalinya Yamaha memperkenalkan teknologi injeksi untuk segmen komersil pasar Indonesia melalui Yamaha Vixion.

Yamaha Old Vixion v2 Lampu Sporty

Target lawan Vixion saat itu adalah Honda Mega Pro yang punya kapasitas mesin lebih besar, namun sistem pengabutannya masih menggunakan karburator, yakni Mega Pro 160.

Faktanya, meski punya kubikasi mesin lebih kecil, namun desain Vixion yang menggunakan garis-garis body sporty dapat sangat menarik minat konsumen Indonesia.

Lebih dari itu, pada tahun tersebut sistem injeksi juga sudah mulai mendapat sambutan baik dari masyarakat. So, Vixion berhasil memukul mundur Mega Pro 160.

7. Yamaha Xeon vs Vario 125

Merasa posisi pada segemen skutik terancam, pada tahun 2010 Yamaha membrojolkan Yamaha Xeon 125 untuk keluar dari persaingan head to head dengan Vario + Beat.

Lumayan lama Xeon bisa bertahan, hingga akhirnya pada tahun 2012 Honda mengeluarkan tandingan Xeon, yaitu Vario 125 dengan sistem pengabutan injeksi dan teknologi ACG starter.

Mengetahui lawannya menggunakan sistem pembakaran injeksi, Yamaha segera mencopot karburator dan memasang injektor pada Xeon RC. Tapi langkah Yamaha ini belum mampu menghadang gerakan Vario 125 yang terus merangsek maju dan semakin laris.

Nah, kalau tadi Mtb sebutkan bahwa Honda hanya gonta-ganti baju doang dari Astrea Prima hingga Fit X, maka kali ini Yamaha sudah mulai mengikuti cara tersebut.

Bahkan sejak era Vega dan Jupiter, mereka sudah menggunakan strategi beda baju untuk mesin yang sama.

Sekarang?

Om Bro bisa lihat ada berapa tipe motor Yamaha yang menggunakan basis mesin Mio. Sama seperti Honda GenioHonda Beat 2020 dan Honda Scoopy 2020 yang juga menggunakan satu basis mesin.

Strategi ganti baju seperti itu tampak tidak memberikan inovasi, namun memiliki efek baik dalam hal perawatan.

Yup. Dengan mesin yang sama, maka ketersediaan sparepart jadi mudah lantaran bisa saling subtitusi dan para mekanik bengkelnya juga jadi lebih mudah menguasai penanganan service’nya.

Selanjutnya pada masa sekarang pun Yamaha dan Honda bersaing dari segi teknologi Blue Core vs eSP, yang mereka gunakan pada produk-produknya. Iya Om. Satu hasil riset teknologi untuk beragam model sepeda motor.

8. Honda New Megapro vs Yamaha Byson

Merasa kalah dari Vixion, pada tahun 2010 Honda mendown grade Mega Pro menjadi 150cc namun dengan desain baru yang lumayan gagah.

Sayang sekali, pada tahun yang sama, Yamaha juga tidak tinggal diam. Mereka juga merilis model tandingan Mega Pro, yaitu Yamaha Byson yang postur tubuhnya lebih kekar.

Keduanya bersaing sengit, hingga akhirnya mereka sama-sama discontinue pada sekira tahun 2018 setelah mengalami fase upgrade ke sistem injeksi.

9. Honda CB150R vs All New Vixion

Dengan bergantinya lawan Mega Pro menjadi Byson, maka pada tahun 2012 AHM merilis Honda CB150R untuk melawan Vixion.

Spesifikasi CB150R pun tidak gejlok jauh dari Vixion,termasuk sistem pengabutannya juga sudah menggunakan injeksi.

10. Yamaha NMAX vs Honda PCX

Pada tahun 2009 Honda Indonesia mendatangkan Honda PCX 125 dari Thailand untuk menjadi flagship pada segmen skutik premium.

Basis impornya kemudian berpindah ke Vietnam saat mesin PCX mengalami upgrade menjadi 150cc.

Sekira 6 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2015, Yamaha berhasil mempecundangi jumlah penjualan Honda PCX saat pabrikan tersebut membrojolkan NMAX 155 secara lokal melalui pabrikan Indonesia.

Betul Om. Status PCX sebagai motor impor tentu membuat banderolnya menjulang tinggi. Berbeda dengan NMAX yang harganya lebih terjangkau lantaran mereka produksi melalui pabrikan dalam negeri.

Pada awal rilisnya di tahun 2015 lalu, harga NMAX versi standar hanya berkisar Rp23 jutaan saja. Sementara PCX yang masih impor, banderolnya telah mendekati Rp40 juta.

Saat itu bagi orang yang tidak benar-benar fanatik, mereka jelas akan memilih NMAX ketimbang PCX. Terbukti tampak secara kasat mata, jumlah populasi NMAX saat itu jauh lebih banyak ketimbang PCX. Beruntung pada akhir 2017, Honda melokalkan PCX sehingga persaingan mereka bisa seimbang hingga sekarang.

11. Yamaha MX King vs Supra GTR 150

Melanjutkan sukses pada beberapa titik pertempuran, pada 2015 Yamaha mengupgrade Jupiter MX 135 menjadi MX King 150.

Honda tidak mau tinggal diam dan membrojolkan Supra GTR 150.

Hingga pertengahan tahun 2018 lalu penjualan MX King masih lebih unggul dari Supra GTR. Namun sayangnya sejak saat itu data AISI tidak boleh lagi dipublikasikan secara detail permodel. Jadi sekarang kita tidak tahu model apa yang paling laku. Hanya bisa tahu jumlah per’merk’nya saja. (Mtb).

15 tanggapan pada “11 Area Perang Honda vs Yamaha Hingga Teknologi Modern”

  1. Penggembaladomba

    Menarik sekali….
    Tapi jaman sekarang motor irit dan bertenaga serta awet itu tidak mudah diaplikasikan.hanya orang kurang informasi saja ada motor sangat irit ,sangat bertenaga dan sangat awet…bisa diaplikasikan di jaman sekarang tdk mungki ada.
    Kekuatan honda ada di satu mesin di pake rame rame di byk model dan spartpart bisa substitusi.serta di pembiyaan kredit internal.desain nya di tahun 2018 bertransformasi ke racy yg sangat merugikan pasar.karena honda itu identik irit,nyaman,awet…lupakan bertenaga.
    Yamaha identik,powerfull,enak di handling,agility dan sasis serta rem….2018 cenderung racy kalem ,elegan…
    Secara desain dan teknologi ….yamaha unggul.
    Secara brand image dan fitur honda unggul.

  2. Saya ingat tuh Yamaha Crypton, pacar saya dulu pernah bawa motor ini yang masih gress banget saat ngapelin saya.
    Masih nyambung kan sama artikelnya 😀

  3. Yang heran
    Namanya perang produk kan harusnya konsumen dapat harga relatif rendah
    Tapi herannya malah tambah mahal
    Nggak tahunya kartel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *