Harga dan Spesifikasi Sepeda Motor Listrik Ridwan Kamil (Motor Listrik SDR)

Motorisblog.com – Om Bro…!! Sepeda motor listrik Ridwan Kamil yang sejatinya bermerk SDR (Sugeng Darma Rizqi) menjadi berita viral sejak beberapa waktu lalu. Namun tahukan Om Bro, bahwa produk tersebut sebenarnya telah ada sejak tahun 2017??

Betul Om… Motor listrik SDR rakitan Bandung yang menjadi tunggangan Gubernur Jawa Barat itu sebenarnya sudah ada dan telah dipatenkan sejak dua tahun lalu. Namun kala itu SDR belum lulus uji kelayakan.

Awalnya motor listrik SDR didatangkan secara CBU dari China, namun saat itu SDR tidak lulus uji untuk kelayakan untuk penggunaan di Indonesia. Barulah kemudian setelah beberapa bagian diganti menggunakan part lokal yang lebih baik di tahun 2018, SDR lulus dan dapat digunakan secara legal di Indonesia.

Iya Om… Sekarang motor listrik SDR telah menggunakan shockbreaker, ban dan baterai lokal,,… dan kelengkapan ijin serta surat-surat (termasuk STNK)-nya sudah beres pada April 2019 lalu. (Soegeng Rijadi, pemilik PT Arindo Pratama (produsen motor listrik SDR) – DetikOto, 9/7/2019).

Begitulah Om… Di dunia persilatan otomotif, sebuah motor tidak bisa sembarangan mengaspal di jalanan Indonesia. Butuh perjuangan supaya si produk dapat beroperasi secara legal hukum. Motor harus benar-benar aman secara standar minimal berdasarkan peraturan yang ada di Indonesia. Harus benar-benar mendapat ijin resmi Om…

Lantas, seperti apa dan berapakah harga serta spesifikasi motor SDR yang viral itu??

Hokeh… Kita cekidot bae Om…

motor listrik ridwan kamil motor listrik sdr

Spesifikasi Sepeda Motor Listrik Ridwan Kamil

Berdasarkan data yang berhasil Mtb ciduk dari berbagai sumber, berikut ini spesifikasi motor SDR yang menjadi tunggangan Kang Emil,

Dimensi
. Panjang 205,6 cm
. Lebar 74 cm
. Tinggi 105,4 cm

Jarak Terendah ke Tanah
. 15,6 cm

Berat Kendaraan
. 138 kg (Nett Weight)

Rangka
. Steel

Suspensi Depan
. Telescopic

Suspensi Belakang
. Double Swing Shock Absorber

Ukuran Ban
. Depan 110/70-17
. Belakang 120/70-17

Controller
. 72V

Tipe Motor Penggerak
. BLDC motor

Power Maksimum
. 2.500 Watt

Top Speed
. 65 km/jam

Jarak Tempuh Maksimum
. 70 km/baterai penuh

Beban (Daya Angkut) Maksimum
. 150 kg (termasuk berat badan pengendara)

Charger Input
. 220V-50Hz

Charger Output
. 72V-3A/10A

Waktu Pengisian Baterai
. +/- 2 jam

Harga Motor Listrik SDR Ridwan Kamil

Konon Kang Emil menebus motor listrik SDR dengan nominal harga Rp35 juta Om…

Sekilas melihat banderolnya, Mtb (dan Om Bro sekalian) patutnya merasa bahwa nominal tersebut terlalu mahal. Betul?? Lah iya… Lah wong motor sport bermesin bakar dikelas 150cc saja masih banyak yang di bawah Rp30 juta. Ada pun beberapa yang melampaui Rp30 juta, itu performanya sudah di atas standar Om…

Lalu kenapa motor listrik SDR ko mahal pisan??

Penjelasannya begini Om… Sebenarnya bukan hanya SDR saja yang punya banderol mahal. Semua motor listrik saat ini memang masih relatif mahal dibanding motor konvensional bermesin bakar. Lihat saja motor listrik Gesits dan Viar Q1, dimana mereka pun masih relatif lebih mahal dibanding motor sekelas yang bermesin bakar.

Jadi kenapa motor listrik lebih mahal dibanding motor bermesin bakar??

Yang pertama dan yang paling utama adalah karena motor listrik saat ini belum menjadi produk massal. Maka cost produksinya pun tinggi.

Seperti yang kita sekalian tahu, semakin banyak jumlah produksi suatu produk, maka biaya produksi pun dapat ditekan hingga serendah-rendahnya. Dengan demikian maka harga jualnya pun bisa lebih murah. Jadi ya minta maklumnya saja Om… Saat ini masanya masih masa transisi… Belum banyak masyarakat yang tertarik untuk membeli motor listrik. Kebanyakan orang (termasuk Mtb sendiri) tidak berani untuk memulai… Tidak berani untuk menjadi konsumen di awal jaman pengembangan ini…

Kenapa??

Iya karena orang-orang sekelas Mtb ini kan kemampuan ekonominya juga belum mumpuni… Jadi jelas Mtb tidak mau mengambil resiko kesulitan saat motor kehabisan daya baterai dan sebagainya.

Harapan Mtb, seluruh instansi pemerintah dari level atas sampai level paling bawah menggunakan kendaraan listrik sejak sekarang. Dengan demikian perkembangan teknologi kendaraan listrik akan lebih cepat berkembang. Para produsen bisa lebih cepat berinovasi lantaran produk-produknya laku keras oleh lembaga-lembaga pemerintah. Setelah itu Pertamina dan PLN pun akan lebih cepat membangun jaringan pengisian ulang baterai kendaraan listrik.

Selanjutnya… rakyat akan dengan sendirinya tertarik membeli kendaraan listrik tanpa pemerintah harus repot-repot kampanye kendaraan ramah lingkungan. Jadi kampanye-nya melalui contoh langsung… Bukan hanya pakai omongan saja.

Jadi begitu Om… Harus dari pemerintah dulu. Biarkan rakyat meniru contoh yang baik dari para pemimpinnya. Jangan sekonyong-konyong nyuruh rakyat yang lebih dari 250 juta jiwa harus sadar lingkungan. Pemerintahnya dulu kasih contoh baik… Jangan keenakan dalam kemewahan merk asing bermesin konvensional. Betul kan Om…??

Kemudian lagi jika kita menganggap harga motor-motor listrik kemahalan, sebenarnya ya ngga juga sih Om… Soegeng membandingkan dengan harga mobil listrik, bahwa harga mobil listrik nominalnya bisa dua kali lipat dibanding mobil konvensional yang sekelas. Sementara motor listrik meskipun lebih mahal tapi tidak sampai dua kali lipat dari motor bermesin bakar yang sekelas. Jadi judulnya masih terbilang murah lah ya Om…

Baterai Motor Listrik SDR

Saat ini motor listrik SDR masih menggunakan baterai litesit. Alasannya ialah supaya label harganya bisa bersaing. Kata Soegeng, jika motor Kang Emil menggunakan baterai lithium, itu harganya bisa membengkak hingga Rp45 jutaan.

Posisi baterai ditempatkan di bawah tangki dengan konfigurasi tegak sehingga menyerupai mesin konvensional. Sementara wujud tangki BBM tetap ada di motor ini, meskipun sebenarnya tangki tersebut kosong.

Motor listrik SDR Ridwan Kamil telah menggunakan lampu depan jenis LED. Sedangkan suspensinya jenis teleskopik di depan dan double swing shock absorber di belakang.

Target Pasar Motor Listrik SDR

Saat ini motor listrik SDR belum dijual untuk umum. Target awal yang telah ditetapkan saat ini masih untuk perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi, atau istilahnya konsumen corporate, salah satunya ialah PT PLN (Persero).

Di tubuh PLN sendiri saat ini telah menggunakan banyak motor listrik sebagai kendaraan operasional. Sistemnya bukan beli, tetapi sewa… Iya Om… Kabarnya saat ini PLN sudah menggunakan 12 unit motor listrik di Batam, 27 unit di Aceh, dan 67 unit di Medan.

Lokasi Produksi Motor Listrik SDR

Meskipun sebelumnya motor listrik SDR dirakit di Bandung, namun ke depan nanti proses produksinya akan dilakukan di Desa Ciwaringin, kabupaten Cirebon.

Yup… Saat ini proses pembangunan pabrik SDR di Cirebon telah mencapai 70% dan direncanakan rampung tahun ini. Tapi pun begitu, di Bandung tetap akan ada bengkel perawatan dan bengkel perakitannya.

Rencana Hibah Motor Listrik SDR

Menurut berita yang beredar, saat ini PT Arindo Pratama bersama Ridwan Kamil tengah berencana untuk menghibahkan 60 unit motor listrik SDR ke sejumlah Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Jawa Barat. Nantinya motor tersebut dapat digunakan untuk usaha DKM atau masyarakat sekitar. Dengan begitu, harapannya masyarakat akan mendapat dua manfaat sekaligus, yaitu manfaat dari motornya, dan masyarakat akan lebih mengenal dekat kendaraan bermesin listrik.

Dalam skala yang lebih besar, Kang Emil memproyeksikan 6.000 unit motor listrik dapat tersebar di seluruh Jawa Barat dalam 5 tahun masa kepemimpinannya. Dari 6.000 unit itu, ditargetkan setiap desa mendapat minimal satu unit motor listrik.

Rencana Produk Baru Motor Listrik SDR

PT Arindo Pratama sendiri menyatakan bahwa pihaknya telah siap memasuki fase produksi massal. Bahkan kabarnya saat ini SDR tidak hanya akan memproduksi motor ala streetfighter seperti tunggangan Kang Emil saja, namun juga tengah mempersiapkan dua model baru… Salah satunya ialah model trail.

Saat ini motor listrik trail SDR telah di ajukan ke Dirjen Industri Logam Alat Transportasi dan Elektronika dan tengah menunggu untuk uji kelaikan. Namun motor tersebut nantinya bakal punya banderol lebih mahal lantaran menggunakan baterai lithium. Kemungkinan banderolnya akan mencapai Rp70 jutaan.

SDR berawal dari motor listik buatan China bermerek Benling… Sekarang ia tengah dalam proses untuk menjadi brand Indonesia…

Semoga saja Om… Semoga kendaraan listrik semakin banyak di Indonesia… Dengan begitu nantinya masalah ancaman kehabisan energi fosil (BBM) bisa dihindari. Selain itu, dengan kendaraan listrik, kualitas udara pun akan lebih bersih dan sehat.

Iyaa… Maskipun masih ada kontroversi perkara limbah baterai yang beresiko merusak lingkungan, namun hingga saat ini belum ada solusi yang lebih baik dibanding energi listrik untuk kendaraan. (Mtb).

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: