Grab Menipu Mitra Selaku Driver? Mari Kita Kupas Tuntas…

Motorisblog.com – Mtb rasa besar benarnya jika ada yang bilang bahwa Grab menipu mitra drivernya sendiri. Tapi, Om Bro… menurut hemat Mtb, perkara seperti ini bukan hanya berlaku pada Grab, tapi (mungkin) pada (semua) armada online yang lain juga. Mungkin lho ya… bukan pasti.

Lalu kenapa Mtb mengarahkan telunjuk pada Grab?

Karena yang pernah Mtb alami adalah masalah dengan Grab. Jadi Mtb tidak tahu pasti perkara armada online yang lain. Selain itu, jika Om Bro coba ketik di pencarian google dengan keyword “penipuan grab” maka Om Bro akan mendapat beberapa kata kunci turunan, salah satunya adalah “grab menipu mitra”. Dan dari kata kunci tersebut, Om Bro akan mendapati beberapa tulisan / artikel yang isinya adalah keluhan dari beberapa driver grab.

Sementara itu, jika Om Bro melakukan pencarian di google dengan arah armada online yang lain, misalnya “penipuan gojek” (atau armada yang lain), maka tulisan yang akan Om Bro dapati hanyalah kasus penipuan oleh pihak yang mengatas namakan gojek (atau armada lain). Artinya, (mungkin) permasalahan yang dihadapi oleh driver online lain tidaklah sePARAH Grab.

Kalau peribahasa jaman dahulu, “tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api”. Betul?

Jadi intinya, Mtb akan share masalah yang pernah Mtb alami dengan sudut pandang yang se-obyektif mungkin. Dan karena masalah Mtb adalah dengan Grab, maka yang Mtb jadikan contoh pun ya armada Grab.

Oke, Om Bro… kita langsung ke TKP, kita bahas satu persatu…

grab menipu mitra
Gambar ilustrasi

Sanggahan Mtb

Sebelumnya Mtb berikan klarifikasi dulu bahwa maksud dari tulisan ini bukanlah untuk menyudutkan pihak manapun. Sebaliknya, justru Mtb ingin meng-clearkan permasalahan yang selama ini menimbulkan kesalah pahaman antara Grab dan mitranya. Jadi, jika pun ada pihak Grab yang membaca tulisan ini, mohon dibaca dengan mata positif. Karena sejatinya tulisan ini bisa menjadi media pencerahan atas apa yang selama ini tidak terungkap secara transparan dari management Grab kepada para mitra. (Mungkin) dengan ini, para mitra Grab yang belum memahami kode etik bisa menjadi faham sehingga tidak melanggarnya.

Kronologis masalah sebagai contoh

Singkat cerita, pada tanggal 2 Desember 2017 lalu Mtb diterima aktif menjadi driver grab bike. Mtb mulai beroperasi pada tanggal 3 Desember (sehari kemudian).

Beberapa hari, beberapa minggu berlalu, Mtb dengan semangat membara terus nge-trip. Kadang dari pagi hingga malam hari. (Kebetulan Mtb lagi nganggur banget).

Selama sekian hari Mtb hampir selalu meraih insentif, hingga pada tanggal 25 Desember, Mtb mendapati insentif hari sebelumnya tidak cair.

Mtb berusaha menghubungi email support Grab, namun payah, very slow respons. Oke lah… biar slow asal terjawab.

Tapi apa?

Pertanyaan Mtb mengenai penyebab insentif tidak cair, mendapatkan jawaban bahwa Mtb telah melanggar kode etik driver. Mtb tidak puas dengan jawaban tersebut dan minta CS untuk menunjukkan kode etik bagian mana yang Mtb langgar?

Tapi CS grab tidak menjawabnya, seolah jari-jarinya membusuk sehingga tidak mampu mengetik email balasan.

Ya sudah… biar sajalah…

Tanggal 25-27 Mtb ngetrip (narik/ngojek) dengan setengah hati.

Tanggal 28 Mtb kembali semangat dan berhasil mencapai syarat minimum untuk meraih insentif.

Tapi…

…tanggal 29 lagi-lagi Mtb mendapati bahwa insentif tidak cair karena perjalanan dianggap tidak memenuhi syarat.

Mtb kembali menghubungi CS grab via email, tapi tidak mendapat respons sedikitpun. Bahkan sistem mesin penjawab otomatis grab pun tidak memberikan tanggapan.

Atau benar jari-jari tangan para CS grab pada bisulan ya? Hahaha…!!

Mtb ogah menghubungi CS via telepon interlokal. Berpa sih pengasilan Mtb dari grab sampai harus keluar pulsa untuk menelpon ke Jakarta?

Mtb berusaha menghubungi grab melalui twitter, dan berhasil. Jawabannya, Mtb dikeluarkan dari zona insentif selama tanggal 26-28 Desember 2017. Alasannya karena Mtb mendapat penumpang yang sama. Tapi tidak dijelaskan, penumpang yang sama dalam satu hari atau satu minggu atau periode yang lain?

Oohhh… begitu… jadi Mtb dianggap melanggar kode etik tho…

Grab menipu mitra, Grab sengaja menjebak driver

Sebelum itu, pada awal-awal Mtb bergabung dengan grab, Mtb pernah mendapat penumpang yang sama dalam satu hari. Mtb juga pernah lupa menekan tombol mulai sehingga mulai dan selesai Mtb lakukan dilokasi tujuan. Tapi saat itu insentif tetap cair. Tidak ada masalah.

Sepertinya, saat itu Mtb masih dalam masa bulan madu dengan grab sehingga tidak muncul sanksi.

Hal yang Mtb sayangkan adalah, tidak ada pemberitahuan atau pun peringatan pada saat Mtb melakukan pelanggaran. Karena itu Mtb menunggu insentif esok harinya.

Bayangkan ketika Om Bro menunggu sesuatu kemudian tidak datang tanpa ada pemberitahuan. Dongkol kan?

Mtb sempat melayangkan protes pada grab melalui twitter. Intinya Mtb menyayangkan kode etik grab yang sama sekali tidak tepat untuk diterapkan dikota kecel seperti Banjar – Ciamis. Kampung Mtb ini hanyalah kota kecil. Jumlah driver dan penumpangnya masih sedikit, sehingga sangat berpotensi untuk terjadi order dari penumpang yang sama.

Tapi apa kata grab?

Dia hanya memberikan solusi agar Mtb berpindah-pindah tempat saat ngetrip.

What? Elu kira pindah-pindah itu nggak pake bensin? Elu pikir berapa trip yang gue dapet perhari sampai harus keluar bensin ekstra? Kenapa nggak elu bikin saja supaya sistem dapat memblokir otomatis pesanan dari pelanggan yang sama dalam waktu tertentu? Kenapa harus melakukan jebakan seperti itu? Bukankah jika kami para driver melakukan pembatalan atau pengabaian pesanan maka akan berakibat pada penurunan performa driver (mitra)?

Sepertinya grab memang sengaja menjebak mitranya supaya dia tidak perlu membayar insentif.

Tapi ya sudah… nanti kita bahas selengkapnya dibawah.

Kembali ke prinsip ekonomi

Setelah merenungi apa yang Mtb alami serta membaca share dari mitra grab lain yang juga merasa dirugikan, Mtb baru ingat satu hal. Mtb lupa bahwa GRAB ADALAH SEBUAH PERUSAHAAN. Dan tujuan dari suatu perusahaan adalah untuk meraih KEUNTUNGA. Bahkan menurut prinsip ekonomi dasar, prinsip ekonomi adalah bagaimana MERAIH KEUNTUNGAN MAKSIMAL DARI MODAL YANG MINIMAL.

Jadi, apa pun motto grab, entah itu kesejahteraan mitra lah, kepuasan pelanggan lah, semua tidak ada artinya jika si owner tidak meraih untung besar. Segala motto dan iming-iming lainnya hanyalah tipu daya bisnis semata. Maksudnya bukan berarti tipu daya mutlak, tapi setidaknya segala motto dan iming-iming tersebut adalah merupakan strategi bisnis untuk menarik minat mitra dan pelanggan sekaligus. Yang peda akhirnya tentu akan berimbas pada peningkatan keuntungan usaha.

Adalah kebohongan besar jika sebuah perusahaan mengklaim dirinya tidak menumpuk keuntungan. So… wajar jika grab pun melakukan hal yang sama. Bahkan melakukan hal yang terkesan bahwa grab menipu mitra.

Keganjilan istilah mitra dalam bisnis transportasi online

Jika kita tela’ah lebih dalam, sebetulnya istilah “mitra” sangatlah tidak tepat dalam bisnis ini.

Maksudnya begini…

…menurut penafsiran sederhana Mtb, kata “mitra” berarti rekan atau partner. Nah, yang namanya partner itu kan seharusnya punya kesetaraan level. Punya status yang sama. Artinya, masing-masing pihak (dalam hal ini grab dan mitra) mustinya punya kesepakatan yang dibuat dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

Tapi nyatanya tidak.

Calon mitra grab yang berminat untuk bergabung haruslah mutlak patuh pada ketentuan grab (kode etik mitra) tanpa ada kesempatan sedikitpun untuk naik banding. Ini kan rancu. Jika seperti ini, lebih tepatnya seorang driver tersebut seperti Mtb adalah mutlak bekerja untuk grab. Atau jika pun tidak, setidaknya seorang driver hanyalah penyewa aplikasi grab sehingga harus tunduk pada segala kebijakan si pemilik aplikasi.

Mtb faham dan sangat mengerti bahwa dimanapun kita kerja, disetiap tempat, pasti akan selalu ada rule (peraturan) yang harus ditaati. Bahkan ditengah hutan sekali pun ada hukum yang dinamakan “hukum rimba”.

Mtb faham itu… tapi sumpah Demi Alloh, sepanjang hidup Mtb hingga saat ini, baru kali ini Mtb mendapati pekerjaan yang peraturannya rumit luar biasa. Bahkan terkesan mengada-ada karena banyak hal yang tidak logis. (Nanti Mtb paparkan dibawah). Kesannya benar-benar menjebak driver. Membohongi dengan iming-iming insentif yang mengandung segunung aturan tanpa diberitahukan sebelumnya.

Lalu, hubungan mitra macam apa ini jika yang punya aturan hanya sebelah pihak?

Berarti tidak ada peluang untuk sukses menjadi mitra grab dong, Mas Bro?

Peluang sih tetap ada. Hanya saja, perlu kerja keras dan kehati-hatian yang luar biasa. Bahkan yang ironis, didalam sistem grab, kejujuran seorang driver justru bisa menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Tidak jarang seorang mitra harus saling mengelabui dengan sistem aplikasi untuk menghindari sanksi atas kesalahan yang tidak dilakukan (atau dilakukan dengam tidak sengaja). Jadi, untuk meraih sebuah tujuan maksimal, sorang driver harus mau BERBOHONG.

Lalu, didikan mental macam apa ini? Apa nggak jadi rusak mental bangsa ini nantinya?

Mtb tidak asal ketik lho ya… simak deh kelanjutannya…

Masalah kode etik driver grab yang tidak logis

Disini Mtb hanya akan membahas kode etik yang tidak logis saja. Selengkapnya Om Bro bisa cek langsung disitus resmi grab Indonesia.

Berikut ini beberapa kode etik grab yang Mtb rasa janggal,

– Tidak berpenampilan sopan / bersih dan tidak memakai Atribut Helm & Jaket Grab
Hingga saat ini, penggunaan atribut grab belum diwajibkan untuk wilayah baru seperti Ciamis dan Banjar. Namun begitu, mengingat perkara yang pernah saya alami, bisa saja poin ini nantinya dijadikan alasan untuk grab tidak mencairkan insentif mitra. Padahal, untuk wilayah baru, penggunaan atribut resmi masih sangat rentan gesekan dengan pelaku transportasi offline.

Sepatutnya peraturan ini disesuaikan untuk tiap-tiap wilayah.

– Memiliki aplikasi kompetitor
Bagaimana jika kondisinya didaerah baru? Dilarang memiliki aplikasi kompetitor, sedangkan jika hanya menggunakan grab, penghasilannya masih jauh dari harapan? Yang jelas, grab pastinya tidak mau tahu. Peraturan tetap peraturan.

– Standar layanan di bawah rata ā€“ rata (contoh: rating, penerimaan & pembatalan)
Disini seorang driver dikota kecil seperti Mtb sangat berpotensi untuk terbentur masalah pembatalan. Pasalnya, diwilayah yang masih baru, sangat berpotensi untuk driver mendapat pesanan dari penumpang yang sama dalam satu hari. Sementara hal itu menjadi alasan pihak grab untuk membumi hanguskan insentif yang sudah dijanjikan pada mitra.

Mustinya grab memberikan opsi pembatalan oleh driver dengan alasan yang tidak mengurangi performa driver. Misalnya karena penumpang yang sama dan/atau hal lain yang logis.

– Mitra tidak menghubungi / tidak merespon / tidak dapat dihubungi Penumpang
Mtb seringkali melakukan chat pada pemesan sebelum menjemput namun status chatnya ceklis satu. Tanda itu kan berarti chat kita tidak sampai pada aplikasi si pemesan. Intinya, kalau mau buat peraturan ini, maka perbaikilah sistem anda sendiri dulu. Betul? Jangan paksa driver untuk keluar pulsa ekstra untuk menelpon atau pun SMS.

– Mitra meminta / membatalkan pesanan tanpa konfirmasi kepada Penumpang tanpa alasan jelas & kuat
Bagi Mtb, meminta penumpang untuk membatalkan pesanan karena dia orang yang sama di hari itu adalah alasan yang kuat. Soale kalau driver yang melakukan pembatalan, maka performa si driver di aplikasi akan menurun. Tapi apakah cara itu dianggap alasan kuat oleh pihak grabnya sendiri?

– Membatalkan pesanan / mematikan aplikasi Grab namun tetap mengantar Penumpang / pesanan
Ketika kita tergabung dalam kemitraan grab, maka para tetangga akan tahu bahwa kita adalah “tukang ojek”. Sementara itu, tidak semua orang memiliki aplikasi penumpang grab. Lalu bagaimana jika tetangga menelpon dan memesan ojek kita? Tidak mungkin kita tolak kan? Itu rizqi dari Alloh SWT. Pada saat seperti itu, secara otomatis driver harus mematikan aplikasi demi menghindari order masuk saat kita mengantar tetangga. Maka sepatutnya aturan ini tidak ada dalam kode etik. Toh kalau driver ngetrip tanpa aplikasi, maka dia tidak akan mendapatkan insentif. Betul?

– Mengambil pesanan yang tidak sesuai dengan yang tertera di Aplikasi Grab (contoh: pesanan dengan alamat yang tidak sesuai)
Mtb pernah menjemput penumpang yang titik jemputnya jauh dari pesanan didalam aplikasi. Saat Mtb tanya pada pemesan, ternyata permasalahannya karena lokasi terdekat tidak terdeteksi GPS karena lokasinya memang dikampung banget dipegunungan.

Jika memang hal ini harus ada dalam kode etik, seharusnya sistem grab memberikan alarm ketika driver tidak menekan tombol “mulai” dilokasi penjemputan. Alarm seperti ini juga berguna untuk driver yang lupa melakukannya.

Itu jika memang grab memiliki itikad baik dalam menjalin kemitraan dengan driver. Jadi tidak sekonyong-konyong memberikan sanksi atas pelanggaran yang tidak disengaja.

– Memiliki Penumpang / pesanan langganan
Seperti yang Mtb sebutkan diatas, dikota kecil yang merupakan wilayah baru grab, sangat mungkin terjadi order dari orang yang sama dalam satu hari. Dilemanya seperti diatas, batalkan pesanan dengan tetap mengantar penumpang? Atau terima pesanan tapi insentif hari tersebut akan hangus? Pada situasi ini kita diberikan 2 pilihan yang keduanya adalah kebohongan. Soale kalau kita jujur, justru kita dianggap salah oleh pihak grab.

Jadi secara tidak langsung grab telah mengajarkan siasat busuk pada para mitranya.

Kenapa Mtb bilang “busuk”?

Karena Mtb dan mitra yang lain bekerja untuk menafkahi keluarga. Apa Om Bro ikhlas menafkahi istri dan anak dari uang yang didalamnya mengandung kebohongan? Kalau ikhlas ya silahkan…

– Memprovokasi Mitra lain untuk melakukan kegiatan yang dapat merugikan pihak lain, termasuk Grab (contoh: Anarkis, Perusakan Fasilitas, Razia)
Hal ini Mtb rasa tidak hanya berlaku untuk grab, tapi bagi seluruh pengusaha yang ada didunia ini. Tidak jarang orang yang menggalang massa demi menuntut keadilan justru balik dituding sebagai provokator. Jadi intinya, yang berduit selalu benar.

– Menyebarkan informasi / berita yang tidak benar sehingga menimbulkan keresahaan bagi Mitra lain melalui cara apapun, termasuk melalui media (contoh: online / cetak)
Ketika seorang mitra merasa didzolimi oleh sistem grab, kemudian dia ceritakan hal tersebut pada mitra yang lain, apakah hal itu dianggap berita tidak benar? Sementara jika dia mengadu pada CS grab, jawabannya seringkali tidak memberikan solusi (misalnya).

Contohnya seperti saran CS grab pada Mtb supaya berpindah-pindah lokasi ngetrip demi menghindari penumpang yang sama. Itu kan lucu?

Kalau pihak grab memang punya itikad baik, tentu akan sangat mudah membuat sistem untuk menolak orderan yang sama pada driver yang sama. Betul? Otomatis, Om Bro. Tanpa harus bersitegang dengan driver yang merasa grab menipu mitra.

Lalu kenapa pihak grab tidak membuat sistem yang sedemikian? Seolah sengaja menjebak untuk tidak mencairkan insentif driver? Kenapa grab menyama-rata-kan peraturan dikota besar dengan dikota kecil?

Kita kembalikan lagi pada prinsip ekonomi, “MODAL SEKECIL-KECILNYA, UNTUNG SEBESAR-BESARNYA”. Meski dengan segala tipu daya dan jebakan.

Kesimpulan

Sekali lagi Mtb jelaskan, tulisan ini bukan untuk menyerang salah satu pihak. Justru untuk meluruskan isu grab menipu mitra menjadi jelas sejelas-jelasnya.

Kesimpulannya, grab tidak menipu mitra, tapi kode etiknya luar biasa rumit aka njelimet.

Om Bro bisa sukses sebagai mitra grab asalkan bekerja keras, ulet, teliti dan hati-hati supaya tidak dianggap melanggar kode etik. Jangan terlalu yakin karena sistem grab kadang tidak bisa ditebak.

Jika Om Bro seorang yang jujur lahir bathin, sebaiknya pelajari dalam-dalam jika bergabung menjadi mitra grab. Disini, kejujuran justru bisa menjadi masalah, meski tidak selalu seperti itu. Hanya sesekali. (Salam hangat grab Indonesia)

8 tanggapan untuk “Grab Menipu Mitra Selaku Driver? Mari Kita Kupas Tuntas…

  • 21 April 2018 pada 23:21
    Permalink

    Sangat mencerahkan

    Balas
    • 22 April 2018 pada 10:03
      Permalink

      Makasih, Om Bro. Semoga bermanfaat.

      Balas
  • 30 Mei 2018 pada 19:35
    Permalink

    Betul itu, saya sangat setuju ,,,, semoga perusahaan ojol DENGAR semua ini,..
    Dan semoga allah swt melindungi mitra yang jujur dan bekerja keras ..amin ..
    Tetap semangat šŸ™‚

    Balas
    • 30 Mei 2018 pada 19:38
      Permalink

      Amiin… mudah-mudahan saja, Om Bro…

      Balas
  • 2 Juni 2018 pada 23:20
    Permalink

    Yup benar nih. Ane jg pernah alami,penghasilan hari itu 330.000 dan insentif harusnya turun 100.000,tp smpe besok siang ga msuk tuh insentif, akhirnya ane email baru deh d tfer tuh insentif,tlapa jd nya kalo ane diemin aja ya??? Yg kedua lbh konyol, Pd saat pendaftaran di suruh bawa uang 100rb katanya u/deposit perdana,tp di tunggu smpe tengah malem blm masuk jg tuh deposit,akhirnya Krn ane kebelet mau ngebid besoknya,ane inisiatif topup 100rb, lalu ane tunggu sampe 4hr berikutnya tuh uang yg ane bawa Pd saat pendaftaran blm masuk jg k saldo kredit,akhirnya ane e-mail,dan respon dr CS “saldo deposit sudah di kredit kan” di jam di tgl ane deposit sendiri,whaaaaaatttt????? Itu kan uang deposit yg ane setorin sendiri via salahsatunya aplikator,tp tp mereka mengklaim klo deposit yg ane isi adalah deposit perdana ane Pd saat pendaftaran,akhirnya ane jelasin + ane lampirkan bukti pembayaran,setelah itu ga ada respon SM skali,koq aneh ya..sistem gabbs melihat itu pembayaran dr dan oleh siapa??
    Tp ane setuju gan dgn statment soal mitra,mereka di gaji oleh mitra,bahasa mereka mitra itu Krn kita ga terikat jam kerja tp mereka ga sadar klo mereka mengikat mitra dgn peraturan” yg amat sangat ribet yg harus mitra patuhi,…
    Tp memang ane akui manajemen ijo ini msh tertinggal di bandingin ijo sebelah, yg jauh lbh profesional

    Balas
    • 2 Juni 2018 pada 23:34
      Permalink

      Sepertinya kata “mitra” hanya berlaku untuk hak mereka. Tapi tidak berlaku untuk hak driver. Wkwkwkwk….

      Tapi ya sudahlah. Kita bikin enjoy aja, Om Bro. Selama bisa kita jalani, ya jalani. Sekiranya udah kebangetan banget ya kita pindah ke sebelah atau alih profesi.

      Insya Alloh akan selalu ada jalan rizki dimana pun kita berada.

      Customer service hanya menjalankan pekerjaannya sesuai panduan baku (job desc). Banyak hal di lapangan yang tidak mereka pahami. Betapa kita yang mencari uang yang sebagian di antaranya untuk gaji mereka.

      Tapi mereka juga tidak salah. Mereka hanya menjalankan tugas.

      Kita hanya cukup berusaha dan berdo’a,

      Jika Grab dapat memberikan kebaikan bagi rakyat Indonesia, semoga Alloh mengizinkan Grab untuk tetap berdiri di Indonesia

      Namun jika keberadaannya lebih mendatangkan mudharat ketimbang manfaatnya, maka semoga Alloh menghapusnya dari bumi pertiwi tercinta ini.

      Balas
  • 28 Juli 2018 pada 12:29
    Permalink

    Makasih om atas postingannya, habis baca postingan ini saya jadi lebih plong karena jujur saya baru awal2 ini jadi driver grab (belum genap seminggu) dan khawatir dengan isu2 yg ada soal kecurangan grab terhadap mitra, tapi setelah baca postingan ini saya jadi belajar utk liat dari perspektif yg berbeda kalo grab gak ubahnya korporasi korporasi lain yg orientasinya keuntungan dan bukan badan amal, so ya balik ke kita lagi utk legowo apa enggaknya ngejalanin kode etik yg jelimet tadi, kalo dibawa legowo dan enjoy aja kita juga nge-grab nya lebih kalem dibangding dengan ngutuk2 gak jelas malah bikin tenaga makin terkuras dan (yg paling saya takutkan) berimbas ke penumpang, trim salam respect om.

    Balas
    • 28 Juli 2018 pada 12:35
      Permalink

      Sama-sama, Om Bro… Makasih udah singgah di blog sederhana ini.

      Balas

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: