Gojek vs Grab vs Uber, Komparasi Versi Mitra Driver

Motorisblog.com – Om Bro… Perkara komparasi Gojek vs Grab vs Uber sejatinya sudah banyak yang membahas. Tapi kebanyakan bahasan mereka dilihat dari sisi aplikasi penumpang aka pengguna layanan ketiga transportasi online tersebut. Meski sebagian ada juga yang membahas dari sisi aplikasi driver.

Kali ini Mtb akan ikut yang kedua, yakni membahas dari sisi driver aka mitra ojol. Namun begitu, bahasan Mtb nantinya (mungkin) akan lebih mengarah ke sisi Grab Bike. Karena apa? Karena kebetulan posisi Mtb sekarang adalah sebagai driver Grab Bike.

Maksud dari artikel ini adalah untuk sedikit pencerahan. Barangkali ada sebagian dari Om Bro yang berminat jadi driver ojek online tapi bingung dalam menentukan pilihan. Mau pilih gabung Gojek atau Grab atau Uber?

Wokeh…! Kita langsung saja ke TKP…

Popularitas dan jumlah pengguna

Masuk ke poin pertama ini, fokus bahasannya tentu lebih dominan pada perbandingan Gojek vs Grabbike. Yang jika di buat bahasan yang rinci, isinya tentu akan banyak membahas perkara kelebihan dan kekurangan Gojek vs Grab. Tapi hal itu tidak akan Mtb bahas di artikel ini karena hasilnya akan jadi terlalu panjang.

gojek vs grab vs uber

Perkara popularitas, jelas Gojek yang punya. Wajar, Gojek merupakan pionir ojek online di Indonesia sehingga namanya sudah terlebih dahulu melekat dalam benak masyarakat Indonesia, khususnya dikalangan para penumpang.

Mtb pernah beberapa kali disebut “gojek” oleh penumpang. Padahal Mtb driver Grab lho…? Itu artinya, nama Gojek sudah lebih familiar dibanding ojek online yang lain. Kalau diibaratkan motor, gojek itu seperti Honda. Dikampung Mtb (dulu), semua motor disebut Honda. Honda Vespa, Honda RX King, Honda RG-R. Tuh, saking mendarah dagingnya itu merk.

Begitu pun dengan Gojek.

Kemudian, menurut data dari Google Playstore, hingga saat ini aplikasi driver Gojek telah diunduh sebanyak 1 juta kali. Sementara aplikasi penumpangnya diunduh sebanyak 5 juta kali. Angka tersebut tergolong uwow mengingat Gojek hanya beroperasi di wilayah Indonesia saja.

Sementara itu, meski tertinggal 4 tahun dibanding Gojek, nyatanya Grab mampu mengejar ketertinggalan dengan cepat. Strategi marketing dengan segala promosi yang gencar membuatnya cepet berkembang di Indonesia. Berbagai iming-iming insentif bagi driver dan reward bagi penumpang telah berhasil menambah hijaunya jalanan diberbagai kota besar Indonesia.

Jumlah pengunduh aplikasi Grab menurut Playstore adalah 5 juta kali driver dan 50 juta kali penumpang. Namun angka tersebut merupakan akumulasi dari seluruh negara dengan layanan Grab, termasuk negara asalnya, Malaysia. Jadi, tidak diketahui dengan pasti berapa kali download di Indonesia.

Kemudian kita ke Uber…

Salah satu hal yang menjadi kekurangan Uber Motor adalah kurangnya promosi yang tidak segencar 2 kompetitor diatas. Lihat saja, Gojek telah berhasil masuk ke Liga Indonesia bersama Traveloka dan Grab telah masuk menjadi sponsor Indonesian Idol.

Sementara Uber? Mtb sendiri jarang sekali melihat iklan Uber. Bahkan saat Mtb menyambangi Jakarta beberapa bulan yang lalu, secara kasat mata pun Uber Motor terlihat masih jarang sekali.

Namun begitu, untuk semua layanan (utamanya taxi) wilayah pasar Uber secara global lebih luas. Terbukti angka download aplikasinya di Playstore mencapai 10 juta driver dan 100 juta penumpang.

Brand

Saat ini sejatinya telah banyak layanan transportasi online di Indonesia. Namun dilihat dari popularitasnya, baru ada 3 brand yang paling populer, yakni gojek vs grab vs uber.

Dengan menyatakan diri sebagai aplikasi karya anak bangsa, Gojek nyatanya telah berhasil bertahan menjadi ojek online paling populer di Indonesia hingga saat ini. Tapi bagi Mtb, apalah artinya sebuah karya anak bangsa jika pada kenyataannya banyak mencurangi mitranya sendiri.

Mtb bukan omong kosong. Silahkan saja Om Bro searching di Google. Ada banyak sekali keluhan dari driver yang merasa dirinya telah dicurangi oleh sistem Gojek.

Sementara Grab, asalnya Malaysia, nama bosnya berbau Tionghoa, datang ke Indonesia sebagai investor asing. Dan sialnya, keluhan dari drivernya cukup banyak sehingga menciptakan kesan bahwa Grab menipu mitra. Mtb sudah menuliskan perkara ini pada artikel sebelumnya. Silahkan Om Bro ke kotak pencarian di blog ini.

Beralih ke Uber…

Asalnya dari Amerika, negara adidaya yang banyak menciptakan kontroversi diseluruh penjuru dunia.

Meski asalnya dari negara yang Mtb benci, tapi sejujurnya Mtb lebih respect pada Uber dibanding Gojek dan Grab. Menurut salah satu teman yang menjadi driver Uber Motor, penerapan peraturan Uber masih terbilang longgar. Mungkin karena dia masih baru di Indonesia dan belum sebesar dua armada hijau, Gojek dan Grab.

Sayang, layanan Uber belum tersedia dikampung Mtb, yakni Ciamis – Banjar Patroman.

Kemudahan pendaftaran

Bagi Om Bro yang berminat menjadi driver ojek online, poin ini juga perlu dijadikan pertimbangan.

Sebenarnya Gojek melayani pendaftaran mitra driver melalui jalur online. Bahkan bagi driver yang sudah bermitra dengan perusahaan lain (Grab atau Uber), proses pendaftaran bisa jadi lebih cepat. Mtb sendiri ditawari oleh Gojek untuk bergabung melalui jalur VIP.

Uwow…!! Hebat ya, dapat tawaran VIP?

Ah, tidak juga. Kenyataannya tidak seperti itu kok. Sepertinya ini hanya strategi Gojek untuk merebut mitra dari perusahaan lain. Sungguh memalukan strategi Gojek ini.

Nanti Mtb jelaskan dibawah.

Singkatnya, meski jalur pendaftarannya Gojek bisa online, tapi verifikasi berkas pendaftaran tetap secara fisik ke kantor terdekat.

Dalam hal ini Grab adalah yang paling mudah. Om Bro bisa mendaftarkan diri melalui Agen Kudo secara online hingga diterima menjadi mitra Grab. Silahkan Om Bro searching di Google untuk penjelasan tentang apa itu Agen Kudo.

Kemudian, secara teori, Uber menerima pendaftaran secara online dengan proses paling cepat dibanding Gojek dan Uber. Tapi kenyataannya pun tidak begitu. Mtb beberapa kali gagal melakukan pendaftaran karena tidak menemukan link untuk daftar Uber Motor. Selalu masuknya ke Uber Mobil.

Syarat kelengkapan berkas

Pada dasarnya, syarat kelengkapan berkas untuk menjadi mitra dari Gojek, Grab dan Uber hampir sama. Hanya ada perbedaan dibagian SKCK saja.

Berkas yang harus Om Bro serahkan pada saat mendaftar Gojek atau pun Uber adalah KTP, SIM, STNK dan SKCK. Dalam hal ini, jika KTP Om Bro masih resi (belum jadi) maka harus dilengkapi dengan Kartu Keluarga.

Kemudian untuk syarat usia motor adalah maksimal tahun 2008 atau lebih muda.

Sementara Grab hanya mewajibkan SKCK untuk Grab Car saja. Tidak diwajibkan pada pendaftaran mitra Grab Bike.

Proses pendaftaran

Menurut Mtb, proses pendaftaran sebagai mitra Gojek tergolong rumit. Soale, seperti yang Mtb sebutkan diatas, verifikasi berkas terap dilakukan secara fisik meski Om Bro telah mendaftar secara online.

Jadi, pada saat Om Bro mendaftar Online, nanti Om Bro akan mendapat SMS undangan untuk datang ke kantor Gojek dengan membawa berkas-berkas tersebut diatas.

Sedangkan saat proses pendaftaran Grab, awalnya Mtb mendapatkan nomor Whatsapp Agen Kudo (Agen Pendaftaran Grab Driver) dari salah satu situs toko online yang ada di Indonesia. Lalu Mtb melakukan pendaftaran melalui agen tersebut dengan mengirimkan foto KTP, STNK dan SIM serta alamat Gmail dan nomor ponsel.

Selesai pendaftaran, Mtb mendapat SMS dari Grab yang isinya adalah perintah untuk menunggu SMS selanjutnya.

Dua hari kemudian Mtb medapat lagi SMS dari Grab yang berisi link menuju materi training online.

Selesai training, Mtb dinyatakan lulus dan dapat langsung mendownload aplikasi Grab Driver di Playstore. Bisa langsung isi saldo kredit dan langsung ngojek.

Lanjut ke Uber…

Seperti yang Mtb sebutkan diatas, Mtb gagal menemukan link untuk mendaftar Uber Motor. Bahkan saat Mtb mendapat undangan dari sistem referal teman pun linknya tetap mengarah pada Uber Mobil. Dengan demikian, Mtb anggap pendaftaran mitra Uber adalah yang paling sulit dibanding Gojek dan Grab.

Profesionalisme dalam penerimaan mitra

Berdasarkan apa yang Mtb alami, Gojek adalah yang paling tidak profesional dalam penerimaan mitra baru. Bayangkan, Om Bro… Mtb mendapat undangan dari Gojek untuk datang pada hari kerja di jam 9:00 sampai 15:00. Tapi nyatanya, saat Mtb datang jam 9, pendaftaran verifikasi berkas telah ditutup.

Mtb sempat bertanya pada salah satu pendaftar yang juga tengah menunggu panggilan. Ternyata menurutnya, dia pun telah 3 kali datang ke kantor tersebut. Itu pun yang ke 3 dia datang pukul 6:30 pagi supaya bisa memasukkan berkas yang akan di verifikasi.

Wueeddiiaaann…!!

Kemitraan macam apa ini? Nggak akurat begitu? Baru mau menjalin kemitraan saja sudah begitu tingkahnya. Mengecewakan orang yang jauh-jauh datang dari jarak 35 km.

Yo wes… Mtb mendingan pulang lagi saja. Najis amat Mtb harus mengemis pekerjaan yang judulnya kemitraan begitu? Orang melamar kerja saja nggak begitu-gitu amat. Betul?

Dan seperti yang sudah Mtb bahas diatas, proses penerimaan mitra Grab adalah yang paling profesional. Terbukti dapat selesai dengan cepat melalui jalur online.

Sementara itu, Uber yang paling parah menurut Mtb. Proses pendaftaran melalui online terbuka, tapi sulit menemukan link pendaftaran Uber Motor. Dan yang paling sial lagi, saat Mtb hubungi kontak Uber melalui Whatsapp, ternyata Uber belum tersedia untuk wilayah Ciamis dan Banjar. Padahal pada form pendaftarannya ada terdata wilayah tersebut.

Kelengkapan layanan

Ditilik dari layanan yang tersedia, Gojek merupakan yang terlengkap. Mulai dari Gojek, Gosend, Gomart, Gomessage, Gobox dan lain sebagainya.

Secara teori, semakin lengkap layanan yang tersedia, maka semakin besar pula potensi mitranya untuk meraih penghasilan.

Sedangkan Grab secara dasar, layanan motor baru tersedia Grab Bike, Grab Express dan Grab Food. Sudah itu, Grab Food pun belum tersedia untuk wilayah Mtb.

Sementara Uber Motor, Mtb malah belum tahu sama sekali. Tapi yang pasti belum selengkap Gojek.

Tarif

Menurut sumber informasi yang Mtb dapat, tarif Gojek adalah sama dengan tarif Grab Bike. Sementara sumber lain menyebutkan tarif Gojek saat ini adalah Rp2000/km dengan minimum order Rp6000. Jika benar informasi yang kedua, maka dapat dikatakan bahwa tarif Gojek adalah yang paling menguntungkan driver karena paling mahal.

Sementara tarif Grab Bike adalah Rp2000/km dengan minimum order sebesar Rp5000. Artinya, jika order dari penumpang dibawah jarak 2,5km, tagihan aplikasinya tetap Rp5000.

Lanjut ke Uber…

Tarif yang sebenarnya Mtb tidak begitu faham, tapi menurut salah satu teman driver Uber Motor di Jakarta, tarif Uber adalah yang termurah dibanding Gojek dan Grab.

Dengan kebijakan tarif paling murah, otomatis menguntungkan konsumen. Namun sebaliknya justru sangat tidak menguntungkan bagi mitra driver.

Tapi menurut informasi terbaru dari rekan Uber Motor, sekarang tarifnya sudah naik. Om Bro bisa lihat komentar di Play Store pada aplikasi Grab untuk penumpang. Mungkin Uber mulai mendengar suara para mitra driver yang merasa keberatan dengan tarif terlalu murah.

Kestabilan aplikasi

Menurut beberapa sumber yang Mtb dapat, aplikasi Gojek adalah yang terpayah dibanding Grab dan Uber. Sering error dijam sibuk. Namun begitu, informasi tersebut Mtb dapat dari artikel-artikel lama.

Sementara itu melalui updatenya di Play Store, pihak Gojek mengklaim bahwa dia telah melakukan banyak perbaikan. Jadi menurutnya, aplikasi Gojek sekarang sudah lebih stabil.

Poin ini merupakan kelebihan grabbike dibanding gojek. Grab adalah yang paling banyak mendapat pujian perkara kestabilan aplikasi (menurut beberapa sumber). Dia relatif stabil meski di jam sibuk.

Lanjut…!!

Beberapa review menyebutkan bahwa aplikasi Uber selalu stabil. Namun demikian, jumlah pemakai Uber di Indonesia masih sedikit. Entah kalau nanti penggunanya sudah banyak, apakah akan stabil seperti Grab atau kah akan sering error seperti Gojek?

Fitur komunikasi

Awalnya aplikasi Gojek tidak memiliki fitur chat sehingga driver / penumpang harus keluar ekstra pulsa untuk saling berkomunikasi. Namun begitu, pertanggal 13 Desember 2017 lalu, Gojek juga telah berimprovisasi sehingga memiliki fitur chat.

Grab dan Uber telah menyematkan fitur chat sejak awal. Hal ini pula yang menjadi salah satu sebab cepatnya pertumbuhan Grab dalam persaingan melawan Gojek.

Tapi, meski sudah dilengkapi fitur chat, komunikasi chat Grab masih sering pending. Dan jika hal itu tengah terjadi, maka penumpang atau pun driver jadi tetap harus keluar pulsa ekstra juga.

Asuransi

Menurut hasil pencarian Mtb, Gojek tidak memiliki asuransi apa pun. Jadi jelas, segala resiko dijalan menjadi tanggung jawab mutlak mitra driver.

Sementara itu, Grab dan Uber memiliki asuransi kecelakaan untuk proteksi mitra driver.

Kode etik driver (peraturan kemitraan)

Pada dasarnya, ketiganya memiliki kode etik yang hampir sama. Dengan fokus poin pelanggaran terberat adalah adanya order fiktif dan penumpang langganan. Namun pada penerapannya, Uber cenderung lebih longgar dibanding Gojek vs Grab yang seringkali saklek bahkan terkesan curang pada mitra drivernya.

Ironisnya, kecurangan yang dilakukan oleh sistem Gojek dan Grab justru memutar balik kenyataan dengan menuding si mitra driver lah yang berbuat kecurangan. Om Bro boleh cari di Google perkara kecurangan sistem Gojek dan Grab.

Sementara itu, menurut teman yang jadi driver Uber Motor, katanya Uber masih sangat longgar penerapan aturannya.

Insentif

Gojek memberikan insentif pada drivernya dengan sistem poin yang sedemikian rupa. Sementara Grab memberikan syarat yang lebih ringan dalam pencapaian insentif.

Di wilayah Mtb yang masih baru, ketentuan insentif Grab Bike adalah Rp30,000 (dikurangi komisi 20% = Rp24,000) untuk 4-8 pekerjaan selesai. Rp80,000 untuk 9-12 pekerjaan. Rp150,000 untuk 13-15 pekerjaan dan Rp200,000 untuk 16 pekerjaan atau lebih.

Program insentif ini sangat mendukung pendapatan driver grabbike.

Nah, dari cerita diatas, sekilas insentif Grab Bike tampak menggiurkan. Mtb sendiri selama 3 minggu pertama hampir setiap hari meraih insentif Rp24,000 dan pernah 2 kali mencapai insentif Rp64,000. Tapi kemudian, memasuki minggu ke 4, Insentif Mtb 2 kali tidak cair karena pelanggaran yang tidak Mtb lakukan (atau terjadi secara tidak sengaja).

Sementara itu, menurut teman driver Uber Motor, selama 6 bulan dia tidak pernah bermasalah dengan sistem. Padahal hampir tiap hari dia mendapat penumpang yang sama.

Nah, didalam sistem Gojek dan Grab, penumpang yang sama setiap hari akan “dituduh” sebagai penumpang langganan dan dianggap melanggar kode etik. Meskipun hal itu terjadi secara tidak sengaja.

Kecurangan sistem

Seperti yang sudah Mtb paparkan diatas, sistem Gojek dan Grab seringkali dianggap melakukan kecurangan oleh beberapa driver. Sementara sistem Uber relatif lebih fair dibanding kedua armada ijo.

Secara singkat Mtb bisa jabarkan untuk mitra driver Gojek dan Grab…

…sejujur apa pun si driver, namun jika dia gacor dan sering meraih insentif, maka management Gojek dan Grab akan “mengincar” driver tersebut. Bisa Om Bro cari di Google, bagaimana seorang driver Gojek dipermainkan dengan mendapatkan order dari lokasi yang jauh. Akibatnya, performa dia jadi menurun karena dinilai mengecewakan penumpang.

Banyak juga tulisan yang menyebutkan bagaimana mereka di suspend (dibekukan) dengan saldo kredit yang tidak dikembalikan. Bagaimana juga dengan driver Gojek yang hanya dilempar kesana kemari tanpa kepastian saat berusaha naik banding.

Begitu pun dengan Grab yang bahkan pernah mempermainkan drivernya dengan iming-iming bonus hingga Rp11 juta.

Justru dalam hal ini Uber lah yang lebih adem ayem.

Kesimpulan

Dari semua materi yang Mtb kumpulkan, Mtb dapat membuat kesimpulan berikut ini,

– Gojek unggul dalam hal penghasilan mitra diluar insentif. Hal itu didukung oleh banyaknya layanan yang telah tersedia di armada Gojek. Namun untuk pendaftaran, Gojek kalah tangkas dari Grab karena calon mitra harus datang langsung ke kantor cabang terdekat saat verifikasi berkas. Selain itu, driver Gojek juga harus datang langsung ke kantornya untuk mengajukan banding jika akunnya terkena suspend. Sedangkan kedatangan driver yang bersangkutan belum tentu membuahkan hasil yang diharapkan. Yang sudah pasti hanyalah menghabiskan waktu dan bahan bakar saja.

– Grab unggul dalam hal pendaftaran karena dapat dilakukan secara online. Selain itu, sistem insentif Grab juga lebih menggiurkan dibanding Gojek. Namun begitu, potensi suspend akun Grab tampaknya lebih besar dibanding Gojek.

Menurut sumber resminya, Gojek akan men-suspend akun mitra driver setelah 3 kali mendapat surat peringatan. Sementara dari sumber lain, Mtb mendapatkan informasi bahwa Grab akan membekukan akun mitra yang telah 5 kali melanggar kode etik driver.

Sekilas sepertinya aturan Grab lebih longgar, tapi pada kenyataannya, Grab tidak pernah memberitahukan sebelumnya dengan surat peringatan kepada driver. Akibatnya, mitra driver Grab acap kali tidak tahu mengenai pasal apa yang dia langgar.

– Uber, seperti cerita diatas. Dia lebih longgar dalam hal sanksi atas pelanggaran yang dilakukan oleh mitranya. Uber Motor juga hampir tidak memiliki catatan di Google perkara konflik insentif dengan mitra drivernya.

Namun, jangkauan Uber Motor masih sangat terbatas. Seperti Mtb yang tinggal dikota kecil pun mengalami kesulitan dalam hal pendaftaran sebagai mitra Uber Motor. (Mtb)

Related Post

Cara Menjemput Penumpang di Zona Merah, Penting Ba... Motorisblog.com - Cara menjemput penumpang di zona merah. Om Bro / Sista driver ojek online sekalian... Di dunia kita, zona merah bisa menjadi suatu m...
Buka Bersama PGB dan Komunitas Grabbike Priangan T... Motorisblog.com - Buka bersama PGB dan komunitas Grabbike Priangan Timur. Om Bro...!! Empat jempol Mtb kepada rekan-rekan Grab Bike anggota Komunitas ...
Grab Gacor Murni, Tips Gacor di Kota Kecil Tanpa K... Motorisblog.com - Grab gacor murni sebenarnya bukan perkara sulit, tapi memang perlu kesabaran dan ketekunan tingkat tinggi. Apa lagi untuk Om Bro / S...
Tarif Grabbike per Km 2018 (Garut, Tasikmalaya, Ci... Motorisblog.com - Tarif GrabBike per km sekarang semakin semena-mena terhadap driver. Om Bro... Di wilayah Priangan Timur (Garut, Tasikmalaya, Ciamis,...
Gojek, Layanan Ojek Online Berbasis Aplikasi untuk... Motorisweb.com - Ojek Online Berbasis Aplikasi. Jakarta memang kota terbesar di Indonesia. Hanya dalam hitungan bulan saja, selalu ada yang berubah da...
Cara Grab Mendeteksi Driver Curang dari Pola Pemes... Motorisblog.com - Cara Grab mendeteksi driver curang... Om Bro / Sista yang pernah menjajal pekerjaan sebagai driver online tentu tahu sakitnya ditudu...
Selisih Waktu Tempuh Sepeda Motor vs Angkutan Umum Motorisweb.com - Motor vs Angkutan Umum. Belakangan ini, popularitas ojek online semakin naik seiring bertambahnya tingkat kemacetan dikota-kota besar...
Grab Menipu Mitra Selaku Driver? Mari Kita Kupas T... Motorisblog.com - Mtb rasa besar benarnya jika ada yang bilang bahwa Grab menipu mitra drivernya sendiri. Tapi, Om Bro... menurut hemat Mtb, perkara s...
Persaudaraan Grab Banjar Bukan Hanya Komunitas, Ka... Motorisblog.com - Persaudaraan Grab Banjar (PGB). Om Bro...!! Di semua kota di Indonesia yang tersedia layanan transportasi online, hampir bisa di pas...
Insentif GrabBike, Skema Baru Januari 2018 Wilayah... Motorisblog.com - Insentif GrabBike. Om Bro / Sista para Grabbers... Mtb patut bersyukur karena menjadi driver Grab diwilayah Banjar, Jawa Barat. Pasa...

2 Thoughts to “Gojek vs Grab vs Uber, Komparasi Versi Mitra Driver”

  1. Ari subono

    Ulasan yang menarik

    1. Sodik Hanifan

      Makasih, Om Bro udah singgah di blog sederhana ini.

Leave a Reply