Forza vs Xmax 2018, Komparasi Tuntas Desain, Ergonomi, Fitur & Akselerasi

Motorisblog.com – Forza vs Xmax 2018. Om Bro…!! Lagi panas-panasnya komparasi dua motor skutik maxi premium dari dua brand bebuyutan. Ini merupakan seri lanjutan dari perang Nmax vs PCX lokal yang juga hangat dikelas mid-premiumnya…

Artikel berikut ini Mtb rangkum dari reviewnya Lek Iwanbanaran dan Mang Kobayogas pada seri visit vactory YSS ke Thailand… Fokus bahasan pada ergonomi, tampilan (desain), fitur windsheild dan akselerasi.

Tapi belum sampai pada bahasan top speed.

Satu hal yang berbeda adalah, bahwa, di Thailand, baik Forza atau pun Xmax dipasarkan dengan kapasitas mesin 300cc. Sementara di Indonesia, kubikasinya lebih kecil, yakni 250cc. Tapi hal itu tidak menjadi perbedaan yang signifikan, mengingat keduanya secara fitur sama persis. Jadi benar-benar hanya berbeda pada kubikasi mesin saja (Indonesia dan Thailand.

Sisi ergonomi dan getaran mesin

Poin pertama… feel Lek Iwb pada vibrasi mesin Forza 300 sangat lembut. Halusss…. Posisi riding sangat terkontrol dan rileks.

Menurut penuturan Mang Kobay, ketinggian jok Forza lebih pendek sehingga, meski motornya besar, namun tidak menyulitkan pengendara, terutama pada saat berhenti.

Kaki tidak terlalu jinjit…

Sementara untuk kenyamanan jok, lagu dari kedua brand ini masih sama, dimana jok Xmax lebih empuk dan lembut dibanding jok Forza. Tapi sebaliknya, suspensi Forza lebih lembut dari suspensi Xmax.

Halusnya mesin Honda Forza makin terasa setelah motor melaju. Saking halusnya, suara mesin sampai tidak terdengar. Getaran pun tidak terasa sehingga lebih dominan suara terpaan angin yang terdengar.

Stang dan kaki nyaris tidak terasa getaran sama sekali…

Maxi look vs kenyamanan

Honda Forza berdesain kompak. Posisi tangan sangat rileks dengan jangkauan tidak stang tidak terlalu panjang.

Bentuk jok juga kompak… tidak terlalu mengangkang. Bahkan hingga jok bagian belakang pun pas… tidak terlalu lebar sehingga nyaman bagi boncenger.

Tapi…

…akibat dari mengejar kenyamanan itu, Forza jadi tidak terkesan seperti skutik maxi.

So… secara tampilan jadi Xmax tampak lebih gambot. Lebih gagah…

Handling dan akselerasi

Desain Forza yang tidak maxi look itu nyatanya menguntungkan dalam hal handling. Pengendalian motor jadi terasa lebih ringan. Pada saat berbelok pun tidak ada reaksi nerveous… tidak ada kesulitan. Tidak membutuhkan extra effort pada saat menikung

Reaksi stang sigap dan presisi…

Karakter mesin Honda Forza tidak meledak di bawah. Respon awal terasa lembut (/lambat) dan mengayun.

Power baru terasa ketika putaran mesin sudah melampaui 3500 rpm.

Desain dan dimensi

Dibagian ini, untuk versi Indonesia, ada yang berbeda dari kebiasaan… yaitu, bahwa, cat dan material plastik Forza lebih baik dibanding Xmax. Padahal biasanya Yamaha yang lebih bagus.

Kenapa bisa begitu?

Iya… bisa… Secara, Xmax diproduksi secara lokal di Indonesia, sementaara Forza, untuk pasar Indonesia, statusnya CBU Thailand.

Memangnya beda, kualitas produksi Indonesia dengan Thailand?

Bukan soal Indonesia dan Thailandnya… tapi soal status ekspor/impor.

Sedikit membandingkan, Mtb pernah bekerja di dua pabrik (bukan pabrik otomotif). Nah… umumnya, kebijakan perusahaan menentukan Quality Control yang lebih tinggi untuk pasar ekspor ketimbang pasar lokal. Artinya… Quality Control Forza dari pabrikan Thailand pun standarnya lebih tinggi untuk produk yang akan dikirim ke Indonesia. Karena jika tidak, Honda Indonesia bisa menolak produk tersebut karena tidak layak untuk status CBU.

Begitu pula dengan Xmax…

…menurut hemat Mtb, produk Xmax yang dari pabrikan Indonesia dikirim ke Eropa pun standar kualitasnya lebih tinggi dibanding yang dijual di pasar lokal. So… clear ya…??

Jadi bukan “mana yang lebih berkualitas”, tapi “kemana produk itu akan dijual”.

Perbandingan desain dan dimensi

Seperti yang sudah Mtb sebutkan di atas, secara desain, Forza vs Xmax 2018 sama sekali berbeda dari angle depan, bagian samping hingga belakang.

Secara tampak depan, Xmax lebih galak dengan dua headlamp terpisah dan berbentuk agak membulat. Sementara Forza terkesan menampilkan sisi mewah dan elegan. Tebeng Forza tampak lebih lebar dengan posisi maksimal windshield lebih tinggi.

Kesan mewah dari Honda Forza didukung pula dengan model spion menempel ditebeng. Ditambah kesan mahal dengan apliksi lampu winker terintegrasi pada spion.

Sementara itu, Xmax tampak biasa saja dengan aplikasi spion secara konvensional.

Bagaimana dengan tampak samping?

forza vs xmax 2018

Untuk tampilan samping, secara kasat mata seimbang. Jadi disini Mtb tidak punya penilaian. Tergantung dari selera Om Bro masing-masing.

Sedangkan jika kita pandang dari belakang, penilaian Mtb jadi berbalik 180 derajat dibanding tampak depan.

forza vs xmax 2018

Disini, aura Forza vs Xmax 2018 sama persis dengan Nmax vs PCX lokal. Yaitu, tampak depan uanggul Honda, sementaraa tampak belakang unggul Yamaha.

Dan itu mutlak…!! Perbedaannya signifikan.

Dari belakang, perbedaan Honda Forza tampak slim. Tampak biasa saja. Sementara Yamaha X-Max, feelnya tough alias kokoh. Buritan lebar dengan kombinasi dua stoplamp LED yang tampak garang. Moge banget deh pokoknya…

Perbandingan fitur windsheild

Ada yang menarik disini, dimana Forza punya fitur electric windsheild. Jadi, windsheild dapat dengan mudah dinaik/turunkan hanya dengan menekan tombol operasional.

Jika kita bicara dengan cara pandang motor standar, fitur pada Honda Forza ini seolah hanya gimmick kurang berguna yang hanya menyebabkan pembengkakan harga. Akan lebih baik kalau pembengkakan harga tersebut dialokasikan untuk meningkatkan power atau hal lain yang lebih terasa bagi rider. Secara, Xmax yang lebih murah juga punya windshield meski manual.

Tapi lain cerita jika kita bicara pakai cara pandang motor mewah.

Singkatnya, motor mewah ya pantas punya fitur mewah…

Apa cuma itu?

Tentu tidak…

Menurut penuturan Mang Kobay, dalam perjalanan dari Bangkok ke Pattaya, terasa sekali manfaat dari electric windshield yang ada pada Forza.

Disaat Om Bro melalui jalanan yang lebar dan lurus, pada kecepatan tingg, Om Bro akan perlu windshild untuk membantu menahan angin dari depan agar tidak terlalu telak menghantam badan. Kemudian, jika Om Bro tiba-tiba ingin pelan-pelan atau tiba-tiba mendapati kemacetan arus, maka Om Bro perlu menurunkan windshield untuk menerima hembusan angin agar tidak terasa terlalu gerah.

Nah… pada saat seperti itu, electric windshield menjadi sangat berguna. Om Bro tinggal menekan tombol perintah, maka windshield akan naik/turun dengan cepat dan mudah.

Bagaimana dengan manual windsheild pada Xmax?

Om Bro tentunya harus menepi dulu, minggir dan berhenti dulu untuk merubah posisi windshield.

Intinya, fitur electric windshield akan sangat terasa manfaatna untuk Om Bro yang sering menempuh perjalanan jarak jauh, sering menempuh perjalanan malam saat pulang kerja, juga untuk Om Bro yang gemar touring.

Kesimpulan…

Intisarinya… jika Om Bro ingin kemewahan fitur, tampilan dan kenyamanan (khususnya dalam hal vibrasi dan suspensi), maka Forza 250/300 adalah pilihan yang tepat. Tapi jika Om Bro ingin tampilan yang garang dan benar-benar moge, maka pantaslah Om Bro meminang Yamaha Xmax 250/300.

Tapi kalau bicara harga… ini selisihnya sangat jauh.

Pihak Honda belum mengumumkan berapa harga resmi untuk Forza 250 di Indonesia, tapi sebagai ancang-ancang, Honda memberikan gambaran Rp70 jutaan. Sementara Yamaha Xmax 250 harganya masih dibawah Rp60 juta, yakni Rp58 jutaan. Jelas jauh… lebih dari Rp10 juta.

So… ini kasusnya (lagi-lagi) jadi seperti Nmax vs PCX dimasa lalu, saat PCX masih CBU dari Vietnam (sebelumnya dari Thailand). Selisih harganya jauuuuhhh…. Nmax versi termurah (saat itu) hanya Rp23 jutaan dan versi paling tinggi hanya Rp30 jutaan, sedangkan PCX CBU saat itu Rp40 jutaan.

Apa perlu menunggu Forza versi lokal?

Tergantung kebutuhan dan tingkat kesabaran. Jika butuh sekarang ya beli saja sekarang. Tinggal pilih, mau Forza atau Xmax? Jangan tunggu Forza lokal karena belum jelas akan dilokalkan.

Jika pun Forza nantinya dilokalkan, butuh proses yang sangat panjang. Entah kapan… Belajar dari riwayat PCX 150 yang butuh waktu hingga 8 tahunan sampai menjadi produk lokal.

PCX pertama kali rilis di Indonesia pada tahun 2009 dengan kapasitas mesin 125cc dengan status CBU Thailand. Beberapa tahun kemudian baru upgrade menjadi 150cc dan basis produksi berpindah ke Vietnam.

Belum cukup sampai disitu… PCX lokal baru bisa direalisasikan pada akhir tahun 2017… pun setelah Nmax membombardir dan menguasai pasar kelas maxi 150cc secara mutlak selama lebih dari 2 tahun.

So… jika berkaca dari perjalanan PCX itu, maka kemungkinan lokalisasi Forza 250 dapat memakan waktu antara 2 – 8 tahun… (Mtb – Forza vs Xmax 2018).

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: