Beranda » Tips » Apa Saja Ciri Busi Mati?? Diantaranya Adalah…

Apa Saja Ciri Busi Mati?? Diantaranya Adalah…

Motorisblog.com – Ciri busi mati – Om Bro…!! Meskipun busi dapat tetap bekerja sampai darah penghabisan, namun sejatinya busi juga punya batas usia pemakaian optimal. Artinya… memang, (pada umumnya) busi bisa bertahan hingga lebih dari satu tahun dengan jarak tempuh hingga puluhan kilometer. Bahkan untuk ukuran busi standar pabrikan sekalipun.

Tapi…

…jika dipaksakan seperti itu (sampai mati), akibatnya pembakaran jadi tidak sempurna dan akan meninggalkan kerak berlebih diruang bakar. Karena itulah tiap-tiap pabrikan selalu memberikan anjuran untuk mengganti busi secara berkala. Tujuannya supaya pembakaran selalu baik dan mesin menjadi awet.

Om Bro… Tiap-tiap pabrikan memberikan anjuran (jangka waktu) penggantian yang berbeda-beda.

Contoh…

Dari apa yang Mtb baca dibuku panduan manual Honda dan Yamaha, untuk kelas motor entry level, Honda menganjurkan penggantian busi setiap 8000 km atau 8 bulan (tergantung mana yang lebih dulu dicapai). Sedangkan Yamaha, anjuran penggantian businya adalah setiap 6000 km atau 6 bulan (tergantung mana yang lebih dulu dicapai).

Untuk Mtb sendiri, lantaran Honda Sipanci ep ai tunggangan Mtb sudah rusak speedometer/odometernya (dan ngga dibenerin), Mtb biasa mengganti busi setiap 4 bulan sekali. Asumsinya, pemakaian Mtb sejauh 2000 km/bulan.

Cuma asumsi ngawur lho ya… Jangan ditiru. Lebih baik Om Bro berpatokan pada jarak tempuh (odometer).

So… bagaimana sih ciri busi mati?

Ciri busi mati ya jelas… busi tidak memercikkan bunga api dan mesin tidak dapat dihidupkan. Wkwkwkwk…!!

Tapi bukan begitu maksudnya…

…maksudnya adalah, bagaimana gejala sebelum busi mati?

Yang jelas, mesin brebet… jalannya tersendat (endut-endutan) dan mesin sulit dinyalakan.

Tapi juga bukan berarti kalau mesin brebet pasti masalahnya ada pada busi. Bisa juga masalah yang lain, misalnya loss kompresi akibat silinder (dan piston) sudah aus, atau karburatornya kotor/injektor bermasalah… Saluran bahan bakar tersendat… dan kemungkinan-kemungkinan lain.

Tapinya lagi, berhubung disini bahasannya busi, ya kita bahas busi saja.

Om Bro… selain yang sudah Mtb sebutkan di atas, ciri busi mati (hampir mati) juga dapat dirasakan dari tarikan motor yang menjadi kurang bertenaga. Juga dapat dilihat dari percikan api businya yang berwarna rada merah.

(Busi yang masih bagus, percikan api listriknya berwarna putih agak biru…)

Om Bro…!! Perlu dipahami juga bahwa busi untuk mesin injeksi adalah berbeda dengan busi untuk motor karburator. Pada umumnya, busi untuk mesin injeksi lebih panjang ketimbang busi untuk mesin karbu.

Tapi patokannya bukan cuma panjangnya saja. Ada ukuran tertentu yang berbeda, misalnya saja pada ukuran derajat panasnya (atau apa disebutnya?)

Yang pasti, yang paling benar adalah, lihat buku manual motor Om Bro masing-masing. Gunakan busi yang sesuai dengan anjuran pabrikan.

Kalau sekedar asal hidup sih bisa tuker-tukeran juga antara busi injeksi dengan busi karburator. Namun begitu, akibat yang harus Om Bro tanggung adalah pembakaran yang tidak sempurna. Imbasnya, seperti yang Mtb sebutkan di atas, ruang bakar jadi lebih cepat menimbun kerak.

Bagaimana dengan busi iridium?

Secara teori dasar, busi yang berbahan elektroda iridium memiliki usia pakai yang lebih lama dibanding busi standar.

Beberapa sumber menyebutkan, penggunaan busi iridium sah-sah saja… yang penting asal jangan menggunakan busi jenis balap untuk motor harian.

Kenapa…?

Karena derajat panasnya berbeda.

Busi balap dibuat dengan satuan derajat yang sangat rendah karena digunakan untuk mesin yang sangat panas. Sementara mesin motor harian tidak memerlukan spesifikasi busi seperti itu. Jika dipaksakan, (lagi-lagi) pembakaran justru menjadi tidak sempurna.

Begitu kira-kira penjelasan dengan bahasa yang paling sederhananya…

Kembali ke busi iridium…

Karena daya tahannya yang lebih panjang, maka harga busi iridium pun lebih mahal.

Busi standar hanya seharga Rp15-Rp25 ribuan saja. Sementara busi iridium harga paling murahnya mencapai Rp90 ribuan.

Itu paling murah… entah berapa yang paling mahalnya.

Tapi jelas sebanding dengan usia pakainya…

Usia optimal busi standar haya sejauh 6000-8000 km saja… Selebihnya sudah tidak optimal. Sementara busi iridium usia optimalnya bisa mencapai lebih dari 15.000 km.

Lebih rekomen mana?

Tergantung kebutuhan… kalau hanya untuk motor harian alakadarnya seperti Sipanci punya Mtb sih lebih baik pakai busi standar pabrikan saja. Lebih ekonomis, kinerja cukup mumpuni karena sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh motor.

Busi standar pabrikan (anggap saja) seharga Rp25 ribu untuk 8000 km, artinya, Rp50 ribu untuk 16.000 km. Masih jauh lebih murah dibanding busi iridium yang seharga Rp90 ribu untuk masa aktif sejauh 15.000 km. (Mtb – Ciri busi mati).

Ciri Pembakaran Sempurna Pada Busi, Ada 4 Warna Patokan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *