6 Cara Rem Motor yang Benar dan Sesuai Undang-undang

Advertisement

Motorisblog.com – Om Bro! Perkara tata cara rem motor yang benar sudah pernah Mtb tuliskan melalui blog ini, yakni pada artikel pedoman pemilik motor Honda.

Advertisement

Namun Mtb tertarik untuk membahasnya kembali karena ternyata tata cara pengereman kendaraan bermotor (baik mobil atau pun motor) itu ada aturannya dalam Undang-undang.

Yup. Kali ini Mtb hanya akan bahas penerapannya pada motor saja, karena cara mengerem motor jauh lebih kompleks ketimbang rem mobil.

Detailnya begini:

  • Sepeda motor hanya memiliki dua roda sehingga berpotensi terjatuh jika salah dalam teknik pengereman
  • Sepeda motor memiliki dua tuas rem yang terpisah sehingga berpotensi tergelincir jika salah dalam teknik pengereman

Dan perbedaan-perbedaan lainnya.

Kawasaki W175

Undang-undang Tentang Cara Rem Motor yang Benar

Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, pengendara kendaraan bermotor tidak boleh melakukan pengereman secara sembarangan atau secara tiba-tiba (rem mendadak).

Mari kita bahas satu-persatu:

Pada pasal 116 UU LLAJ tertulis bahwa pengemudi harus memperlambat laju kendaraannya ketika menghadapi enam hal, yaitu:

  1. Jika akan melewati kendaraan umum yang sedang menurunkan / menaikkan penumpang
  2. Jika akan melewati kendaraan yang tidak bermotor yang ditarik oleh hewan / hewan yang ditunggangi atau digiring
  3. Kendaraan bermotor harus memperlambat lajunya ketika cuaca hujan dan / atau ada genangan air
  4. Jika pengendara memasuki pusat kegiatan masyarakat yang belum dinyatakan dengan rambu lalu lintas
  5. Jika pengendara mendekati persimpangan / perlintasan kereta api
  6. Pengendara harus memperlambat laju kendaraannya jika melihat / mengetahui ada pejalan kaki yang hendak menyeberang

Kemudian pada pasal 117 UU LLAJ:

  • Pengemudi yang hendak memperlambat kendaraannya, harus mengamati situasi lalu lintas di samping dan di belakang kendaraannya supaya tidak membahayakan pengendara lain

Hal yang kadang bikin kita (biker) serba salah adalah poin paling atas tadi, yang intinya kita harus waspada terhadap angkutan umum yang tengah menaikkan / menurunkan penumpang.

Serba salah karena acap kali si angkutan umum itu sendiri yang melakukan pengereman secara sembarangan / mendadak ketika ia hendak menaikkan / menurunkan penumpang.

Tapi itu hanya sedikit gambaran ya Om. Bukan untuk mendiskriminasi pihak angkutan umum, karena mungkin tidak semua pengemudi angkutan umum berbuat seperti itu.

Dan bukan hanya angkutan umum saja. Pengendara motor pun tak jarang membuat ulah yang macam-macam, misale saja: melintasi trotoar, ugal-ugalan dalam perjalanan dan sebagainya.

Tips Agar Terhindar dari Kesalahan Pengereman

Sebelum kita masuk pada cara rem motor yang benar, ada baiknya kita tahu dulu beberapa tips berikut ini:

Lebih waspada pada saat hujan

Meski teknik pengereman yang benar berlaku pada segala kondisi cuaca, namun kita perlu memberikan perhatian khusus pada saat turun hujan.

Betul Om. Pada kondisi jalanan basah, maka permukaan jalan menjadi licin sehingga memperbesar potensi kecelakaan dalam moment pengereman.

Gunakan profil ban untuk segala kondisi jalan

Bagi seorang pebalap, penggunaan ban sepeda motor tentunya akan sesuai dengan kondisi cuaca pada saat balapan.

Tapi tidak demikian untuk aplikasi pada motor harian.

Penggunaan ban jenis kering akan berakibat licin pada saat kondisi jalan basah. Demikian juga sebaliknya, penggunaan ban basah akan berakibat cengkraman ban tidak maksimal ketika kita gunakan pada kondisi jalan kering.

Secara umum, ban segala cuaca adalah ban yang memiliki profil panjang melingkar pada bagian tengah dan profil pendek-pendek kearah samping.

Jika Om Bro belum faham tentang profil ban seperti tersebut, maka perhatikanlah ban pada motor yang Om Bro beli dalam kondisi baru, yaitu ban bawaan pabrikan. Begitulah profil ban segala cuaca, karena setiap pabrikan selalu memberikan ‘ban harian’ pada produk-produknya, kecuali mungkin pada tipe-tipe tertentu saja.

Mengurangi kecepatan pada kondisi tertentu

Berkendara dengan kecepatan terlalu tinggi juga berpotensi menimbulkan kegagalan pengereman. Maka dari itu kurangilah kecepatan saat Om Bro berkendara pada kondisi:

  • Pada malam hari
  • Saat hujan
  • Melalui jalanan sempit
  • Melalui jalanan rusak

Atau hal-hal lain yang sekiranya berbahaya.

Sesuaikan kecepatan dengan rata-rata kendaraan lain

Cara ini wajib kita lakukan jika kita berkendara melalui jalanan kota atau jalanan yang relatif ramai.

Menyesuaikan kecepatan berkendara dengan kecepatan orang lain dapat membantu efektifitas pengereman.

Penjelasannya begini:

  • Jika Om Bro berkendara jauh lebih cepat dari kecepatan orang lain, sudah jelas resikonya adalah menabrak kendaraan lain
  • Sebaliknya, jika Om Bro berkendara dengan kecepatan yang terlalu rendah, maka Om Bro beresiko tertabrak kendaraan lain dari belakang

Berkendara melalui jalur yang benar

Advertisement

Om Bro pernah mengalami kena salip kendaraan lain dari sebelah kiri? Jika pernah, sebaiknya Om Bro interopeksi diri.

Sekilas cara menyalip dari sebelah kiri adalah hal yang sangat menyebalkan karena memang tidak sesuai dengan aturan perlalu-lintasan Indonesia.

Tapi ada kalanya kondisi tersebut terjadi karena kesalahan Om Bro sendiri. Barangkali karena Om Bro berkendara dengan kecepatan terlalu rendah melalui lajur kanan sehingga kendaraan lain menyalip dari lajur kiri.

Jaga jarak aman

Menjaga jarak aman pun merupakan salah satu cara agar terhindar dari kecelakaan akibat kesalahan pengereman.

Logikanya, jika Om Bro berkendara dengan jarak yang terlalu rapat, maka Om Bro akan melakukan pengereman secara mendadak jika sewaktu-waktu kendaraan depan Om Bro mengurangi kecepatan secara mendadak pula.

Ukuran jarak aman tidaklah baku. Bisa bervariasi sesuai dengan situasi lalu lintas jalan yang sedang Om Bro lalui.

Jika lalu lintas lancar dan kecepatan laju cukup tinggi, maka jarak aman’nya pun lebih jauh.

Cara Rem Motor yang Benar

Meski teknik pengereman pada sepeda motor terkesan sepele, tapi sebenarnya masih banyak yang salah kaprah.

Begini yang seharusnya:

1. Menutup putaran gas

Jangan kira semua orang telah menutup gas dengan benar pada saat mengerem. Masih banyak yang tidak, utamanya cewek ABG, Ibu-ibu dan Bapak-bapak setengah baya.

Betul Om. Mtb rada sering mendapati seorang pengendara motor melakukan pengereman, tapi suara mesin menderu karena putaran gas tangan tidak tertutup.

2. Posisi motor harus tegak

Karena sepeda motor hanya memiliki dua roda, maka posisi kendaraan pada saat pengereman harus pada kondisi tegak.

Jika saat mengerem posisi motor dalam keadaan miring, maka motor berpotensi mengalami ‘ngepot’.

3. Menggunakan rem depan dan belakang secara bersamaan

Asli untuk jalanan kampung dan kota kecil, masih rada banyak orang yang menganggap bahwa rem belakang lebih penting dari rem depan.

Bahkan banyak orang yang hanya menggunakan rem belakang saja tanpa rem depan.

Padahal dengan aplikasi rem belakang tanpa rem depan, motor akan berpotensi mengalami hilang keseimbangan karena roda belakang ngesot.

Om Bro. Pada sepeda motor, fungsi rem depan justru lebih efektif dari rem belakang. Marena itulah dari semua pabrikan motor zaman now, rem depan hampir semuanya sudah cakram, sementara rem belakang masih banyak yang menggunakan tipe teromol.

Tapi meskipun demikian, penggunaan rem depan tanpa rem belakang pun dapat berakibat motor tergelincir atau terpelanting.

Jadi kesimpulannya, cara rem motor yang benar adalah harus menggunakan rem depan dan belakang secara bersamaan.

4. Melakukan pengereman secara perlahan

Jangan rem mendadak.

Hal ini hanya dapat Om Bro lakukan jika Om Bro berada pada jarak aman dengan kendaraan lain.

Jika jarak antar kendaraan terlalu rapat, maka sangat berpotensi terjadi rem mendadak, sementara rem mendadak itu sendiri dapat mengakibatkan kecelakaan yang parah karena tabrak belakang.

5. Memindahkan percepatan pada gigi rendah

Pada motor manual (sport dan cub), cara memindahkan percepatan pada gigi rendah dapat membantu pengereman. Hal itu karena gigi rendah menghasilkan efek engine brake (pengereman mesin) yang lebih kuat ketimbang gigi tinggi.

6. Jangan melakukan pengereman pada saat menikung

Pada saat motor menikung, maka posisi motor akan berada dalam kondisi miring. Maka potensi kecelakaannya seperti yang sudah Mtb jelaskan tadi.

Pengecualian

Meski secara garis besar, aplikasi rem depan dan belakang secara bersamaan adalah cara yang terbaik, tapi ada beberapa pengecualian, misalnya:

  • Pada saat berkendara melalui jalanan yang sangat licin (misalnya karena lumpur), maka aplikasi rem depan sangat tidak baik karena dapat berakibat motor terpeleset / terpelanting
  • Jika Om Bro melintasi jalan menurun dengan kondisi berpasir atau licin, juga sangat tidak baik untuk menggunakan rem depan

Jadi bagaimana solusi pada kondisi seperti itu?

Solusinya, kurangi kecepatan sebelum memasuki medan berbahaya tersebut sehingga rem belakang saja akan mampu menahan laju sepeda motor. (Mtb).

Advertisement

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *