Cara Merawat Motor: 8 Kesalahan yang Sering di Lakukan

Advertisement

Motorisblog.com – Om Bro! Setiap pembelian unit baru pasti selalu mendapatkan sebuah buku panduan manual. Isinya ialah berbagai poin pedoman pemilik tentang pemakaian dan cara merawat motor itu sendiri.

Advertisement

Tapi nyatanya banyak pemilik motor yang mengabaikan, bahkan sama sekali tidak membaca buku tersebut.

Dengan tidak membaca buku panduan manual, praktis menimbulkan banyak kesalahan dalam hal pemakaian dan pemeliharaan motor.

Berikut ini beberapa kesalahan yang sering terjadi bukan hanya oleh pemilik, bahkan kadang oleh mekanik alias montir bengkel.

8 Kesalahan Cara Merawat Motor

1. Setelan stasioner (langsam) terlalu rendah

Perkara setelan langsam memang tampak sepele, tapi hal ini termasuk dalam salah satu poin cara merawat motor yang penting untuk Om Bro pahami.

Ini hal yang sering Mtb dapati pada motor teman atau saudara Mtb. Mereka menyetel langsam gas motor sangat rendah.

Dengan setelan langsam yang rendah, suara mesin memang terdengar halus.

Tapi apa gunanya jika cuma “terdengar halus”?

Artinya itu hanyalah kehalusan palsu. Wkwkwkwk.

Iya Om. Bukan cuma cinta saja yang bisa palsu. Suara mesin motor juga bisa palsu.

Standar Putaran Langsam

Standar putaran mesin pada kondisi langsam (stasioner) adalah 1.400 rpm untuk motor manual dan 1.500-1.700 rpm untuk motor matic.

Akibat Setelan Langsam Terlalu Rendah

Apa akibatnya jika setelan langsam terlalu rendah?

Akibatnya adalah: oli mesin nggak naik. Pelumasan tidak sempurna dan dalam jangka panjang akan mengakibatkan keausan berlebih pada komponen dalam mesin.

Lalu bagaimana cara mengukur setelan langsam mesin motor?

Cara Mengukur Langsam

Bawa motor ke bengkel yang ada fasilitas tachometernya (biasanya bengkel resmi motor masing-masing merk).

Setel putaran langsam dengan fasilitas yang ada pada bengkel resmi tersebut. Selanjutnya rasakan getaran dari perputaran mesin motor Om Bro masing-masing.

Rekam dalam memori Om Bro karena feeling Om Bro inilah yang nantinya akan Om Bro jadikan tolak ukur jika setelan langsam berubah.

Kok gitu?

Iya. Karena kita ngga pake alat ukur setiap hari. Sementara itu tidak mungkin Om Bro bolak-balik setiap hari kebengkel hanya untuk memeriksa putaran langsam.

Kecuali untuk motor yang sudah ada tachometer’nya, Om Bro akan lebih mudah memantau settingan langsam motor Om Bro sendiri.

2. Tidak mengganti busi secara berkala

Urusan busi juga menjadi salah satu poin cara merawat motor yang sering kita anggap sepele.

Pernahkan Om Bro melihat orang yang sedang menangani motor mogok saat dalam perjalanan? Biasanya salah satu komponen yang mereka periksa adalah busi.

Tahukah Om Bro, apa itu busi?

Busi adalah tempat tumbuhnya gigi.

Wkwkwkwkwk. itu ‘gusi’ Om. Bukan busi.

Interval Penggantian Busi

Pada motor tipe bebek dan skutik dari merk Honda, pabrikan menganjurkan penggantian busi setiap 8000 km sekali. Sementara Yamaha menganjurkan penggantian setiap 6000 km. Nah, cara merawat motor yang benar salah satunya ialah dengan mengikuti panduan tersebut.

Jika Om Bro patuh pada anjuran tersebut, maka 99,99% Om Bro tidak akan mengalami yang namanya motor mogok gegara busi mati.

Masalah terbesar saat busi mati adalah: tidak ada pemakaman umum untuk busi.

Wkwkwkwk. Ngelantur melulu.

Ketika busi mati tiba-tiba saat dalam perjalanan, maka otomatis Om Bro harus melepas busi pada saat mesin masih panas.

Dan ini efeknya sangat buruk Om.

Akibat Tidak Mengganti Busi Secara Berkala

Dulu Mtb punya tetangga kost seorang ojeker yang jorok pisan. Ia tidak memahami cara merawat motor yang benar. Ia tidak pernah mengganti busi, bahkan busi yang sudah tewas pun selalu ia akal-akali agar tetap bisa ia pakai lagi.

Aneh Om. Padahal berapa sih harga busi untuk motor bebek entry-level?

Nah. Karena kejorokannya itu, drat lubang busi motornya sampai jadi aus hingga harus mendapat penanganan bengkel bubut untuk membuat ulir drat baru.

Kerusakan tersebut terjadi akibat sering bongkar pasang busi pada saat mesin panas.

Apakah cuma itu akibatnya?

Tidak. Ia juga harus service besar alias turun mesin.

Kenapa bisa sampai separah itu?

Lah iya. Dengan tidak mengganti busi secara teratur, maka pembakaran jadi tidak sempurna. Akibatnya banyak kotoran yang menumpuk dalam ruang bakar.

3. Terlalu sering mengganti oli

Terlalu sering mengganti oli juga menjadi salah satu poin cara merawat motor yang justru salah.

Banyak aliran sesat yang berkembang. Salah satunya adalah paham, “Lebih sering ganti oli lebih baik untuk mesin. Gantilah oli setiap 1500-2000 km”.

Bahkan sekilas Mtb pernah baca ada orang yang menganjurkan penggantian oli mesin setiap 1000 km.

Lah ini dasarnya apa?

Begini Om.

Yamaha menganjurkan penggantian oli setiap 3000 km. Sedangkan honda menganjurkan penggantian oli mesin setiap 4000 km. Ikuti anjuran tersebut untuk cara merawat motor yang baik.

Efek Buruk Terlalu Sering Ganti Oli

Hal yang paling pasti dengan terlalu seringnya ganti oli adalah ‘Pemborosan’.

Untuk apa kita mengeluarkan biaya yang tidak perlu? Lebih baik gunakan uang itu untuk keperluan lain.

Ooh. Saya banyak uang. Keperluan saya yang lain sudah terpenuhi semua.

Kalau begitu ya sedekahkan saja uang itu untuk fakir miskin atau anak yatim. Insya Alloh lebih bermanfaat.

Wkwkwkwk. Kenapa saya malah jadi tausiah?

Tapi kalau kelamaan ngga ganti terus volume oli mesin motornya berkurang atau surut atau menguap? Gimana?

Itu wajar Om. Yang penting asal volume olinya masih berada antara batas atas dan batas bawah pada deepstick (pen tutup oli).

Jika ternyata surutnya banyak hingga tidak tersentuh oleh deepstick, itu artinya ada yang tidak normal pada mesin motor Om Bro. Karena sepengalaman saya saat sehari-hari melintasi jalanan Jakarta dan Tangerang, jarak tempuh 4000 km pun volume oli masih dalam batas toleransi.

Itu jalanan kota besar yang macet loh ya Om. Apalagi sekarang Mtb udah jadi warga Ciamis pinggiran yang ngga ada macet. Jelas volume oli lebih aman.

4. Mengganti oli pada saat mesin panas, mengencangkan baut pembuangan oli terlalu erat dan menyemprot / meniup lubang oli menggunakan angin kompresor

Poin cara merawat motor yang satu ini perlu kita bahas satu-persatu.

Mengganti oli pada saat mesin panas

Ini mitos yang sudah ada sejak era 1990’an pada zaman eksisnya Honda GL, Honda Astrea, Yamaha Force One, Yamaha F1ZR, Suzuki Jet Cooled, Suzuki Tornado dan lain-lain.

Saat itu kebanyakan orang menganggap bahwa waktu penggantian oli yang baik adalah pada saat suhu mesin sedang panas.

Menurut asumsi mereka; pada saat mesin panas maka oli bekas yang keluar dari mesin akan lebih tuntas.

Padahal sebenarnya tidak seperti itu Om.

Dalam buku panduan manual Honda Fit X 2008, Yamaha Vega R 2008 dan Honda Spacy FI 2013, penggantian oli sebaiknya pada suhu normal.

Saya rasa merk dan tipe motor lain juga sama.

Lalu seperti apa suhu operasi normal?

Patokan Suhu Normal Mesin

Suhu normal mesin motor adalah sekira 1-2 jam setelah mesin motor mati.

Terus. apa akibatnya jika mengganti oli pada saat mesin masih panas?

Akibatnya drat lubang pembuangan oli mesin motor Om Bro bisa jadi rusak. Mtb pernah mendapati kasus seperti ini pada Honda Karisma milik seseorang yang tidak Mtb kenal, Yamaha Vega 2006 milik keponakan Mtb dan Yamaha Jupiter Z 2007 milik teman kerja Mtb.

Ketiga motor tersebut mengalami kerusakan pada ulir lubang pembuangan oli akibat kebiasaan mengganti oli saat mesin masih panas.

Pengencangan baut pembuangan oli terlalu erat

Kalau ABG, pegangan tangan dengan erat itu indah. Tapi kalau baut tutup pembuangan oli terlalu erat, akibatnya akan sama dengan poin tadi, yaitu ulir (drat) lubang pembuangan akan menjadi aus bahkan bisa menimbulkan keretakan pada blok mesin.

Jika kita mengacu pada panduan manual motor Honda, pengencangan baut pembuangan oli harus menggunakan kunci yang ada pengukur torque’nya. Tapi Mtb sendiri selama service motor melalui bengkel resmi tidak pernah melihat mekanik bengkelnya menggunakan kunci semacam itu.

Hanya pakai kunci pas biasa.

Lagipula Mtb lebih suka mengganti sendiri oli motor Mtb ketimbang montir bengkel yang menggantinya.

Lalu bagaimana cara pengencangan baut pembuangan oli yang benar?

Cara Mengencangkan Baut Tutup Lubang Oli Mesin

Cara Mtb sih gampang pisan Om.

Pada saat memasang baut penutup lubang pembuangan oli, ketika putaran baut sudah menyentuh rapat, selanjutnya cukup kencangkan dengan menggunakan satu atau dua jari tangan saja.

Hah? Kayak main debus?

Wkwkwkwk. Bukan pakai tangan doang Om. Iya tetap pakai kunci pas.

Maksudnya: tarik atau putar kunci pas hanya menggunakan satu atau dua jari saja. Jangan menggunakan 5 jari apalagi dengan menggenggam dan memutarnya sekuat tenaga.

Apakah nantinya tidak copot itu baut?

Hingga artikel ini Mtb tulis ulang pada tahun 2020, Mtb sudah hampir 12 tahun menggunakan cara itu dan hasilnya baik-baik saja. Mtb sudah menggunakan cara ini pada 4 motor, yaitu Honda Legenda 2 2002, Honda Fit X 2008, Yamaha New Vega R 2008 dan Honda Spacy FI 2013.

Penjelasannya begini.

Pemuaian

Baut penutup lubang pembuangan oli itu akan menjadi erat dengan sendirinya seiring pemuaian dari panas mesin. Jadi baut yang Om Bro pasang dengan hanya menggunakan satu jari, nantinya akan menjadi erat dengan sendirinya. Bahkan Om Bro harus menggunakan 5 jari untuk membukanya nanti.

Bayangkan jika Om Bro memasang baut tersebut dengan sekuat tenaga menggunakan 5 jari, bagaimana Om Bro akan akan membukanya dengan mengunakan 25 jari?Sedangkan total jari tangan dan kaki Om Bro hanya ada 20.

Wkwkwkwk. Gile kan?

Intinya jika Om Bro memasang baut oli terlalu kuat, maka nantinya Om Bro bakal mengalami kesulitan saat hendak membukanya kembali.

Menyemprot atau meniup lubang oli menggunakan angin kompresor

Mtb pernah bertanya pada beberapa orang teman, “Kenapa kalian nggak ganti oli sendiri dirumah?”

Sebagian dari mereka menjawab, “Kalau ganti sendiri, oli bekasnya nggak keluar semua, karena nggak ada tiupan angin kompresor.”

Benarkah dengan tiupan angin kompresor maka oli bekasnya akan tuntas keluar semua?

Ternyata tidak.

Mtb pernah coba. Lubang oli mendapat tiupan angin kompresor hingga tidak ada setetespun oli yang jatuh.

Tapi setelah itu Mtb penasaran. Mtb miringkan si motor Spacy ke sebelah kanan, yaitu ke arah lubang pembuangan oli.

Dan apa yang terjadi?

Ternyata dari lubang itu oli kembali mengucur dengan deras.

Artinya dengan tiupan angin kompresor pun oli bekasnya tidak tuntas keluar semua.

Terus apakah kita harus memiringkan motor supaya oli bekasnya keluar semua?

Tidak juga.

Dalam buku panduan manual Fit X, Vega R dan Spacy, petunjuknya kita hanya harus menopang motor dengan standar utama (standar tengah) saja. Sama sekali tidak ada anjuran untuk meniup dengan angin kompresor, apalagi untuk memiringkan badan motor.

Artinya oli yang harus keluar saat penggantian ya memang hanya sebatas itu. Sebatas yang bisa keluar saat motor berdiri dengan standar utama.

Kapasitas Oli Mesin

Kemudian Mtb lihat buku panduan manual Fit X dan Spacy, kapasitas oli mesin kedua motor tersebut adalah:

  • 700 ml pada penggantian periodik
  • 800 ml setelah pembongkaran mesin

Singkatnya, pada saat penggantian oli secara berkala memang ada sisa oli yang tersangkut dalam bak mesin sebanyak +/- 100 ml.

Terus ngapain kita harus repot-repot mengeluarkan seluruh oli bekas jika memang petunjuknya seperti itu?

Jadi Mtb fikir, daripada Mtb bayar ke bengkel, mendingan Mtb ganti oli sendiri di rumah. Sisa uangnya bisa Mtb pake buat ngopi di warungnya Mang Udin.

Memangnya Mang Udin buka warung?

Engga sih. Ya kita tunggu saja sampai Mang Udin mau buka warung kopi. Wkwkwkwk.

5. Mencuci motor saat mesin panas

Banyak orang yang punya kebiasaan mencuci motor saat pulang kerja sore atau malam hari dengan maksud supaya motor bersih saat masuk garasi atau masuk rumah.

Hal ini juga menjadi salah satu cara merawat motor yang salah.

Lalu apa salahnya mencuci motor pada saat mesin panas?

Begini Om.

Logam yang panas jika tersiram air seketika, maka dapat mengakibatkan perubahan kepresisian komponen dalam mesin.

Akibat yang langsung terasa biasanya mesin akan sulit hidup selepas proses pencucian. Iya meskipun tidak semua motor mengalami masalah seperti itu.

Pembuktian

Percobaan yang bisa Om Bro lakukan adalah dengan cara memanaskan selembar kaca tipis kemudian menyiramnya dengan air. Maka saat itu kacanya akan pecah.

Tapi itu kan kaca?

Betul. Begitupun dengan logam. Hanya saja efeknya tidak akan spontan seperti kaca. Namun jika Om Bro sering melakukannya, lama-kelamaan motor bakal ngadat juga.

Saat Hujan?

Lalu bagaimana jika kita sedang berkendara, kemudian tiba-tiba turun hujan? Bukankah itu sama saja?

Beda dong.

Saat kita berkendara, itu ada panas konstan dari dalam mesin akan terjadi keseimbangan antara panas dari dalam dan dingin dari luar.

Jadi panas dingin ya? Wkwkwkwk.

Sedangkan jika kita mencuci motor, pasti kondisi mesin ada dalam keadaan mati.

6. Melubangi saringan udara

Pernah dengar motor yang suaranya, “Ngoss, ngoss, ngoss.” gitu?

Wkwkwkwk. motor apaan itu?

Ada Om. Mtb sendiri dulu pernah merasa heran oleh suara motor yang seperti itu, terutama pada motor yang sistem pengabutannya masih menggunakan karburator.

Usut punya usut ternyata suara itu muncul akibat mereka melubangi kertas filter udara.

Mereka fikir dengan cara seperti itu maka udara akan mudah masuk ke dalam mesin dan membuat tenaga motor jadi lebih besar.

Sayangnya semua anggapan itu semata-mata hanya atas dasar feeling belaka. Bukan atas dasar hasil riset yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Padahal jika pun benar dengan cara itu power motor jadi meningkat, sebenarnya hal itu punya efek buruk dalam jangka panjang.

Efek Buruk Melubangi Filter Udara

Dengan melubangi filter udara, praktis akan banyak udara kotor (debu dan lain-lain) yang ikut masuk ke dalam karburator dan ruang bakar.

Akibatnya?

Dalam jangka pendek motor jadi susah langsam dan gampang mati saat kita menutup putaran gas.

Dalam jangka panjang debu dan udara kotor yang masuk ke dalam ruang bakar akan mengikis piston dan dinding slinder.

Iya sih hanya debu. Tapi ketika debu itu bergesekan dengan logam dalam kecepatan yang ribuan rpm dan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, maka logamnya bakal aus juga pada akhirnya.

Akibat selanjutnya adalah piston / seher akan lebih cepat aus / koplak. Dan kalau itu sudah terjadi, maka langkah pengobatannya adalah dengan melakukan servis besar.

Iya kalau untuk dunia balapan, motornya pada acak-acakan ya jangan kita tiru. Karena setting motor balap tidak sama dan tidak efisien untuk penggunaan harian.

Mau Menyaingi Para Insinyur?

Memang sekarang ini zaman aneh. Filter udara dan seluruh rangkaian motor itu adalah hasil riset para insinyur. Mereka membuat produk sebaik-baiknya dengan memperhatikan efektifitas dan efisiensinya. Eeh, kita yang cuma tinggal pakai malah sok-sokan merasa lebih tahu dari insinyur dan para ahli yang melakukan riset.

7. Menggunakan BBM RON tinggi pada motor berkompresi rendah

Dari hasil sharing dengan beberapa teman yang sudah bertahun-tahun riding, ternyata banyak dari mereka yang sebenarnya tidak tahu pasti perbedaan antara bahan bakar Premium, Pertamax dan lain-lain. Mereka hanya tahu dasarnya saja bahwa Pertamax lebih bagus dari Premium dan Pertalite.

Wis. Ngono tok alias gitu doang.

Bahkan Mtb pernah konsultasi dengan 2 orang mekanik bengkel (yang ternyata montir ngawur) pun jawaban mereka hanya berupa asumsi / opini / alibi atau apalah istilahnya. Yang pasti dasarnya ngga jelas.

Ada 3 alasan umum orang-orang memakai BBM Pertamax atau yang lebih tinggi, yaitu:

Memakai pertamax agar motor lebih powerfull

Apa salah dan dosanya jika motor berkompresi rendah menggunakan BBM oktan tinggi?

Tidak salah dan tidak dosa. Tergantung niatnya.

Kalau niatnya supaya mesin tetap bersih sih oke. Tapi kalau niatnya supaya tenaga mesin lebih powerfull? Itu yang perlu kita kaji kembali.

Ujung-ujungnya hanya pemborosan saja Om.

Motor dengan kompresi rendah, cukup pakai Pertalite. Karena perbedaan performa’nya tidak akan terasa signifikan meskipun Om Bro menggunakan BBM oktan tinggi.

Jika Om Bro merasa banyak perbedaannya, yakin saja itu hanya sugesti saja semata.

Tipuan perasaan.

Lalu bagaimana cara mengetahui rasio kompresi motor?

Cara Mengetahui Rasio Kompresi Mesin

Cara yang paling tepat adalah dengan membaca buku panduan manual motor Om Bro masing-masing.

Atau pakai cara yang paling sederhana. Lihat apakah motor Om Bro memakai radiator atau tidak?

Jika menggunakan radiator, berarti rasio kompresinya tinggi. Pasti lebih dari 10:1.

Rasio kompresi yang tinggi memang membutuhkan BBM RON tinggi setingkat Pertamax atau Pertamax Turbo.

Jika mesin berkompresi tinggi kita kasih minum Premium, iya jelas tenaganya bakal ngempos.

Rasio Kompresi vs Oktan Bahan Bakar

Rasio kompresi yang tinggi menghasilkan power mesin yang lebih tinggi jika BBM’nya beroktan tinggi.

Tapi motor dengan rasio kompresi tinggi juga menghasilkan suhu mesin yang lebih tinggi. Maka itulah pabrikan membekali si motor dengan radiator supaya sistem pendinginannya bisa optimal.

Begitu sebaliknya. Motor tanpa radiator berarti rasio kompresinya rendah. Pasti kurang dari 10:1. Artinya cukup pakai Pertalite saja, karena percuma saja Om Bro menggunakan BBM RON tinggi pada mesin berkompresi rendah. Powernya tidak akan meningkat.

Lalu bagaimana dengan Premium?

Kalau premium, Mtb lebih pada masalah subsidi.

Mtb bukanlah orang kaya, tapi marilah kita bersikap bijak dengan tidak bergantung pada subsidi.

Selain itu BBM jenis Premium juga secara kualitas paling jeblok. Jadi Mtb tidak tertarik untuk membahasnya.

Lebih lengkapnya soal perbandingan BBM jenis Premium, Pertamax, Pertamax Turbo, Shell, Total dan lain-lain, silahkan Om Bro tanya-tanya ke Mbah Google.

Pakai pertamax sesekali untuk membersihkan saluran BBM dan ruang bakar

Pertamax itu memang bersih, tapi tidak membersihkan. Jadi kalau memang Om Bro sejak awal selalu menggunakan Pertamax, iya kebersihan mesin akan terjaga. Tapi jika keseharian Om Bro menggunakan BBM Premium, ya jangan harap ruang bakar bisa bersih hanya dengan sesekali menggunakan Pertamax. Karena Pertamax tidak mengandung additive pembersih.

Jadi Pertamax itu bersih tapi tidak membersihkan.

Jika Om Bro ingin membersihkan mesin, gunakan AHM Injector Cleaner atau Yamalube Carbon Cleaner atau produk-produk lain yang sejenis. Produk seperti itulah yang fungsinya untuk membersihkan sistem pengabutan, saluran bahan bakar dan ruang bakar dalam mesin. Bukan BBM Petamax.

Pertamax tidak untuk membersihkan mesin.

Memakai pertamax agar lebih irit

Irit persamaan katanya adalah hemat. Maka hubungannya dengan uang.

Kali iini Mtb tidak akan menjelaskan secara panjang lebar. Silahkan saja Om Bro bereksperimen sendiri menggunakan Premium vs Pertalite vs Pertamax vs Pertamax Plus, lalu konversikan hasilnya dengan harga masing-masing BBM tersebut.

  • Premium berapa km perliter, maka jadi berapa rupiah per km
  • Pertalite berapa km perliter, maka jadi berapa rupiah per km
  • Pertamax berapa km perliter, maka jadi berapa rupiah per km

Begitu kalau ngejarnya irit. Jadi bukan cuma irit konsumsi dalam satuan liter saja. Konversi’kan pada harganya sehingga ketahuan yang mana yang sebenarnya paling hemat.

Dan ingat Om. Dalam pengujian itu Om Bro harus obyektif. Jangan terpengaruh oleh sugesti apapun. Karena biasanya kalau pengujian tanpa alat, hasilnya kadang tidak obyektif lantaran subyek penguji tidak netral.

Misalnya dalam pikiran ada sugesti “yang mahal lebih bagus”. Itu saja sudah bisa mempengaruhi obyektifitas hasil akhir pengujian.

8. Menggunakan oli yang tidak sesuai spesifikasi mesin

Sayangnya poin ini tidak hanya menjadi kesalahan pemilik motor, namun kadang menjadi kesalahan mekanik bengkel juga.

Iya tentunya mekanik abal-abal yang melakukan kesalahan seperti ini.

Dulu teman kerja Mtb di Nyompok, Serang Banten ada yang menunggang Mio Sporty. Suatu ketika ia mengganti oli motornya dengan menggunakan Pertamina Enduro SAE 20W-50 API SJ – Jaso MA.

Mtb heran dong. Mtb tanya. “Kenapa Bapak pakai oli itu? Itu kan oli motor manual. Buat kopling basah. Bukan buat kopling kering motor matic.”

Eeh, dia jawab:

“Kata orang bengkelnya sama aja. Jadi saya pilih yang murah”.

Laah. Ya iya sama aja. Sama-sama oli.

Tapi peruntukannya beda.

Untuk motor skutik seharusnya pakai oli yang bersertifikasi jaso MB karena tipenya kopling kering.

Lagi pula Enduro 20W-50 itu sudah beda sertifikasi, olinya juga kental pisan. Ngga cocok pisan untuk motor matic.

Asumsi Montir Abal-abal

Mtb sendiri juga pernah mengalami hal serupa di bengkel tetangga.

Saat itu Mtb hendak beli oli untuk Honda Spacy tercinta nan gendut, menawan dan lemot. Eeh itu yang punya bengkel nawarin Enduro Racing ke Mtb. Katanya pakai oli itu motor larinya jadi enteng.

Lah iya. Enteng. Tapi itu kan oli motor manual. Sedangkan yang Mtb butuhkan oli untuk motor matic.

Eeh, yang punya bengkel bilang lagi, katanya “Sama aja oli apa juga buat motor apa juga”.

Gile. Apanya yang sama?

Penjelasan singkatnya yang logis ini begini.

Kalau memang semua oli sama, terus ngapain itu pabrikan bikin oli beda-beda?

Adanya sertifikasi API, JASO dan SAE itu karena tiap-tiap oli punya spesifikasi yang berbeda dan sebagian untuk motor yang berbeda.

Kesimpulannya sih begini. Memang sih semuanya bebas. Mau pakai oli apa pada motor apapun bebas. Mau sesuai sertifikasi atau tidak pun bebas.

Tapi cara seperti itu tidak sepatutnya menjadi saran dari seorang mekanik bengkel.

Seorang montir sepatutnya mengarahkan pada oli yang sesuai dengan spesifikasi motor secara sertifikasi. Bukan malah menyesatkan masyarakat yang awam.

Kecuali jika si empunya motor yang ingin seperti itu sih ya monggo saja.

Yo wis. itulah 8 poin kesalahan cara merawat motor yang umum terjadi pada kehidupan sehari-hari.

Monggo buat Om Bro sekalian yang punya koreksi atau tambahan, kita diskusi melalui kolom komentar. (Mtb – Kesalahan dalam cara merawat motor).

Advertisement

2 komentar untuk “Cara Merawat Motor: 8 Kesalahan yang Sering di Lakukan”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *