9 Cara Merawat Motor yang Benar Supaya Motor Awet

Motorisblog.com – Om Bro…!! Banyak orang yang mengabaikan cara merawat motor yang benar, seolah-olah hal itu sulit. Padahal sederhana pisan, Om Bro… bahkan kita bisa lakukan sendiri tanpa harus melibatkan mekanik bengkel. Kecuali jika ada masalah teknis yang kita tidak bisa selesaikan tanpa keahlian mekanis.

Om Bro…!! Setelah sekian puluh-belas tahun menjadi penunggang motor, Mtb menciduk setidaknya ada 9 hal sederhana yang amat penting bagi kelangsungan hidup si motor…

Apa sajakah itu…??

Yuu… atuh kita cekidot aahh…

1. Sesuaikan Langsam Mesinsetting langsam motor matic

Sepertinya sepele yaa…?? Tapi ada efeknya dalam jangka panjang.

Banyak bikers yang menyetel langsam/stasioner/idle mesinnya sangat rendah. Mereka pikir, dengan langsam yang rendah, maka suara mesin akan terdengar halus.

Padahal itu keliru…setting langsam motor matic

Setelan langsam yang terlalu rendah membuat sirkulasi oli jadi tidak maksimal, utamanya pada saat motor sedang di panaskan di pagi hari dan ketika motor berhenti di lampu merah.

Sirkulasi oli mesin yang tidak maksimal akan mengakibatkan gesekan berlebih antar komponen di dalam mesin. Akibatnya dalam jangka panjang dapat menyebabkan seher (piston) cepat aus, loss kompresi dan kinerja klep terganggu.

Pada umumnya, anjuran putaran langsam motor manual adalah 1400 rpm, sedangkan pada motor matic adalah 1500 rpm.

Bagi motor yang ada rpm meternya (tacho meter), pastinya gampang pisan memantau rpm mesin. Tapi untuk motor-motor yang ngga ada rpm meternya…?? Tentu rada sulit.

Untuk memastikannya, cek rpm mesin ke bengkel resmi yang punya alat pengukur (rpm meter). Jika Om Bro malu, sekalian sambil servis rutin saja.

Setelah setting langsam sesuai, rasakan dan rekam putaran mesinnya dalam ingatan Om Bro sebagai patokan untuk penyetelan ulang jika sewaktu-waktu rpmnya berubah. Yaa… tentu hasilnya tidak akan 100% akurat, mengingat patokannya hanya feeling. Tapi ya dari pada tidak ada patokan sama sekali.

2. Ganti Busi Secara Teraturbusi

Kebanyakan orang baru akan mengganti busi setelah busi motornya tewas… Padahal jika kita perhatikan anjurannya, busi semestinya diganti secara teratur.

Kenapa…??

Karena busi yang sudah melampaui usia pakai normal, pengapiannya sudah tidak optimal lagi. Dan jika terus berlarut-larut, maka akibatnya pembakaran jadi tidak sempurna dan menimbulkan banyak endapan kotoran di ruang bakar.

Hasil akhirnya ialah performa motor jadi menurun…

Secara umum untuk motor harian (motor entry-level), Yamaha menganjurkan penggantian busi setiap 6000 km, sementara Honda menganjurkan setiap 8000 km. Mtb sendiri sih rada molor, sukanya tiap 10.000 km.

Sementara untuk motor-motor premium, Mtb tidak begitu paham interval penggantiannya. Om Bro bisa lihat di buku panduan motor Om Bro masing-masing.

3. Ganti Oli Sesuai Interval yang Dianjurkanakibat oli mesin kebanyakan

Sebagai gambaran, di kelas entry-level, Yamaha menjadwalkan penggantian oli mesin setiap 3000 km, sedangkan Honda setiap 4000 km.

Jika motor Om Bro rutin digunakan di kota-kota besar yang banyak kemacetan, ada baiknya interval penggantiannya di percepat. Misalnya untuk Yamaha menjadi 2000-2500 km, sedangkan Honda menjadi 3000 km.

Untuk motor matic, selain oli mesin ada juga oli transmisi (oli gear/oli gardan). Interval penggantuan oli transmisi ialah setiap 2 kali penggantian oli mesin.

Rajin-rajin juga memeriksa ketinggian volume oli mesin pada deepstick untuk mengantisipasi adanya kebocoran. Pastikan volume oli ada di atas batas minimal. Lakukan pemeriksaan setidaknya seminggu sekali.stick tutup oli

Jika ada kebocoran, jangan biarkan volume oli sampai surut. Sebelum sempat melakukan perbaikan, tambahkan oli supaya volumenya tetap berada di atas batas minimal.

Jangan abaikan masalah kebocoran oli. Mtb sudah membuktikannya sendiri, motor yang baru berusia 5 tahun sudah harus ganti piston dan skir klep gegara Mtb sering mengabaikan oli yang surut.

Jangan percaya mitos oli menguap. Mtb sudah buktikan selama setidaknya 10 tahun dengan beberapa motor… Mtb tidak pernah mendapati adanya penguapan oli yang signifikan. So… jika oli mesin motor Om Bro sering menyusut dalam jumlah yang relatif banyak, maka dapat dipastikan telah terjadi kebocoran.

Kebocoran oli bisa terjadi di beberapa lokasi, misalnya dari paking blok mesin, dari lubang pembuangan oli, dari tutup klep… malahan pada motor skutik, Mtb pernah mengalami bocol oli mesin ke samping (ke dalam CVT box) melalui kruk as (atau as apa itu yang keluar ke box CVT?).

Kebocoran lain yang bisa terjadi adalah oli bocor ke ruang bakar sehingga knalpot jadi berasap putih akibat oli ikut terbakar bersama bensin.

So… jika Om Bro mendapati oli mesin menyusut banyak, periksalah dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jangan sekonyong-konyong memvonis penguapan oli.

Jika pun ada penguapan oli, jumlah penyusutannya tidak akan banyak.

4. Gunakan Oli yang Sesuai dengan Jenis Motornyagonta ganti oli motor

Perhatikan bahwa oli mesin motor manual adalah berbeda dengan oli mesin matic. Oli mesin manual mengandung additive anti-slip kopling, sedangkan oli mesin matic tidak. Perbedaan itu terjadi lantaran jenis koplingnya yang berbeda. Motor manual menggunakan kopling basah, sedangkan mesin matic menggunakan tipe kopling kering.

Kopling motor manual menyatu pada mesin dan terendam oli, sedangkan kopling motor matic di posisikan pada ujung belakang CVT box, di dekat as roda.

Perbedaan paling mudah yang bisa kita lihat ialah pada kemasan oli. Oli mesin manual punya label JASO MA/JASO MA2 pada botol kemasannya, sedangkan oli motor matic bersertifikat JASO MB.

Jangan menggunakan oli motor matic untuk motor manual (bebek/sport) karena akan menimbulkan slip kopling. Perangkat kopling jadi cepat aus nantinya. Juga jangan menggunakan oli motor manual untuk motor matic karena akan menimbulkan gesekan berlebih pada komponen dalam mesin sehingga part-part dalam mesin jadi cepat aus.

Putaran mesin (rpm) motor matic cenderung lebih tinggi dibanding motor manual sehingga membutuhkan pelumas yang super licin. Dan kebutuhan itu dipenuhi melalui serifikasi JASO MB, bukan JASO MA.

5. Ganti Oli Pada Saat Mesin Berada Dalam Suhu Normal

Suhu mesin normal menurut buku panduan motor Honda adalah… mesin di hidupkan selama 5 menit, kemudian matikan dan diamkan selama 10 menit.

Tapi Mtb ngga suka ribet… Mtb lebih suka mengganti oli pada saat suhu mesin dingin (misalnya pagi hari).

Ada mitos yang berkembang hingga saat ini yang menyebutkan bahwa mengganti oli sebaiknya pada saat suhu mesin panas. Alasannya supaya semua oli kotor dapat terkuras bersih.

Tapi nyatanya tidak seperti itu. Mtb sudah buktikan… Ketika oli bekas sudah tidak menetes lagi, Mtb miringkan motor ke arah lubang pembuangan oli, dan ternyata masih ada oli bekas yang mengucur keluar. Itu artinya memang susunan konstruksi di dalam mesin menyebabkan oli bekas masih ada yang tersangkut di dalam… meskipun kondisi mesin sedang panas.

Bagaimana jika di tiup menggunakan angin kompresor…??

Konon katanya angin kompresor mengandung uap air yang dapat menimbulkan karat di dalam mesin. Tapi Mtb sendiri sih bukan karena itu… Mtb memang suka mengganti oli sendiri di rumah. So, ngga ada kompresor di rumah. Lagi pula dalam buku panduan, saran dari pabrikan hanyalah dengan menginjak kick starter beberapa kali untuk mengeluarkan sisa oli bekas di dalam mesin.

Sama sekali tidak ada anjuran di tiup menggunakan angin kompressor.

Kemudian, dari beberapa kasus yang pernah Mtb dapati, ternyata mengganti oli mesin saat mesin panas justru rentan membuat ulir (drat) lubang oli menjadi aus. Dan jika sudah seperti itu, maka oli mesin akan merembes bocor melalui lubang tersebut.

Untuk memberbaikinya biayanya lumayan lantaran lubang pembuangan olinya harus di bubut.

6. Jangan Mengencangkan Baut Oli Terlalu Erat

Om Bro…!! Dulu Mtb suka mengencangkan baut pembuangan selaiknya mengencangkan baut-baut yang lain. Cukup erat. Tapi lama-lama Mtb perhatikan, Mtb sering kesulitan ketika hendak membukanya kembali pada jadwal penggantian oli berikutnya.

Lama-kelamaan Mtb simpulkan bahwa suhu mesin yang panas membuat baut tersebut menjadi semakin erat terpasangnya. Akhirnya, kesini-sininya Mtb tidak terlalu erat pada saat memasang baut pembuangan oli. Dan terbukti, meski saat memasangnya tidak terlalu erat, ternyata ketika akan membukanya pun bautnya sudah menjadi cukup erat.

Tapi juga jangan terlalu longgar, dikhawatirkan baut terlepas saat dalam perjalanan dan oli ambrol berceceran di jalanan…

Biasanya Mtb mengencangkan baut pembuangan oli menggunakan kunci pas dengan hanya menariknya pakai dua jari saja.

Hal inilah yang pada akhirnya membuat Mtb malas ganti oli di bengkel. Mtb selalu hanya beli olinya saja dan mengganti oli sendiri dirumah.

Pada beberapa kasus, Mtb pernah mengalami si mekanik bengkel mengencangkan baut pembuangan oli terlalu erat sampai sulit membukanya, sehingga membuat baut cepat aus.

Pada kasus yang pernah di alami oleh teman kerja dan keponakan Mtb, bahkan lubang pembuangan oli sampai retak dan bocor. Mtb duga akibat penggantian oli saat mesin panas dengan pengencangan baut yang terlalu erat.

7. Jangan Cuci Motor Pada Saat Mesin Panas

Seringkali Mtb mendapati orang yang mencuci motor pada saat mesin dalam kondisi panas. Dan ternyata pada beberapa kasus (meski tidak sering terjadi), mesin motor sulit dihidupkan setelah di cuci.

Motor kakak Mtb termasuk salah satu yang seperti itu.

Kemudian Mtb ingat-ingat lagi pada buku panduan motor Astrea Star jaman dahulu kala, disitu ada larangan untuk mencuci motor pada saat mesin panas.

Kenapa…??

Karena komponen di dalam mesin bisa melengkung sehingga hilang presisinya. Tentu jangan membayangkan melenting / melengkung yang ekstim… tapi hanya dengan 0,xx mm saja perubahannya, sudah bisa merusak kepresisian komponen mesin.

Bayangkan bagaimana sih benda yang panas kemudian secara tiba-tiba di siram air?? Bahkan jika pada kaca bisa sampai pecah…

Dan sepertinya, meski itu panduan dari motor jadul, tapi Mtb rasa sih tetap berlaku hingga saat ini. Pasalnya, Mtb memang beberapa kali mendapati kasus seperti itu. Dan itu tadi, meski tidak terjadi pada semua motor, namun bisa saja motor Om Bro menjadi salah satunya.

Lantas bagaimana dengan mencuci motor di tempat pencucian (steam)?

Yaa itulah… makanya sampai sekarang Mtb tidak suka cuci steam. Mtb lebih suka mencuci motor sendiri. Lagi pula, dengan mencuci sendiri, Mtb jadi merasa lebih dekat dengan si motor. Kadang karena mencuci sendiri pun Mtb jadi tahu ketika ada sesuatu yang kurang dari si motor… misalnya ada baut/mur yang hilang… lampu rem mati, lampu sein mati, kanvas rem habis dan lain-lain.

Seringkali kita lalai memperhatikan hal-hal kecil seperti itu hingga kemudian kita dapati saat mencuci motor sendiri.

Bagaimana jika berkendara saat hujan…??

Itu lain cerita… meskipun saat itu mesin sedang panas dan di guyur air sekaligus, tapi kondisi mesin masih hidup sehingga ada keseimbangan suhu panas dari dalam mesin secara konstan. Berbeda dengan ketika mesin baru di matikan kemudian di cuci.

8. Jangan Copot/Lubangi Filter Udara

Kalau urusannya buat balapan sih Mtb no comment yaa… tapi kalau kita bicara perkara motor harian…?? Tentu Mtb jadi berkomentar…

Begini, Om Bro… Sesuai dengan namanya, “filter”, berarti fungsinya pun untuk menyaring udara bersih. Tujuannya supaya udara yang masuk ke ruang bakar hanya udara bersih saja.

Namun kenyataan di lapangan, tidak kurang orang melubangi bahkan mencopot filter udara dengan maksud supaya asupan udara lebih banyak dan tenaga motor lebih bedaass… Tapi apa akibatnya?? Debu dan kotoran ikut masuk ke ruang bakar sehingga dalam jangka panjang menyebabkan endapan kotoran di ruang bakar. Bahkan pada beberapa kasus bisa membuat seher (piston) cepat oblak lantaran gesekan piston dengan dinding silinder yang dibarengi debu.

Iya sih cuma debu-debu kecil… tapi ketika terjadi terus-menerus dalam waktu yang lama ya tentu pada akhirnya mengikis juga.

Dan kasus seperti itu sudah pernah terjadi, setidaknya pada motor milik keponakan Mtb.

Lantas ngapain tenaga bedass juga kalau akhirnya bikin mesin jadi ngga awet…?? Lah iya… kita kan bicara perkara motor harian, jadi dalam hal ini durabilitas motor tentunya menjadi suatu hal yang sangat penting.

9. Gunakan BBM dengan Oktan yang Sesuai Rasio Kompresi Mesinpertamax campur premium untuk motor injeksi

Rasio kompresi motor selalu berbanding lurus dengan kebutuhan oktan bahan bakar. Sebagai gambaran singkatnya begini,

. Premium (RON 88) dan Pertalite (RON 90) untuk mesin dengan rasio kompresi 9,0:1 hingga 10,0:1
. Pertamax (RON 92) untuk rasio kompresi 10,0:1 hingga 11,0:1
. Pertamax Turbo (RON 98) untuk rasio kompresi 11,0:1 atau lebih

Masalahnya, banyak orang yang menganggap bahwa penggunaan Pertamax dan Pertamax Turbo dapat meningkatkan performa mesin dan membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit.

Laahh… itu anggapan berdasarkan apa…?? Berdasarkan feeling…?? Berarti itu hanya sugesti. Kenyataannya ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa anggapan itu keliru, dengan pembuktian melalui test dyno.

Secara singkatnya begini…

…untuk mesin berkompresi tinggi, memang sudah seharusnya menggunakan bahan bakar RON tinggi. Jika mesin kompresi tinggi menggunakan bensin oktan rendah, maka tenaga jadi drop dan mesin jadi ngelitik akibat pembakaran dini. Tapi untuk mesin berkompresi rendah, penggunaan bahan bakar RON tinggi pun tidak efektif. Pembakaran jadi tidak sempurna, dan ujung-ujungnya tenaga pun justru jadi menurun.

Jadi, jika Om Bro merasa bahwa performa motor low compression rate menjadi lebih bedass dengan Pertamax/Pertamax Turbo, maka sebaiknya diperbaiki perasaan itu. Bisa jadi rasa itu hanyalah dorongan sugesti buta semata…

Kemudian jika alasannya karena konsumsi bahan bakarnya jadi lebih irit, pun coba di kaji lagi. Irit = hemat = sedikit uang. Laahh, jika pun (misalnya) memang penggunaan bahan bakarnya menjadi lebih irit secara volume (literan), ya coba saja di konversi dengan harganya.

Apa iya dengan Pertamax Om Bro jadi mengeluarkan uang lebih sedikit dibanding Premium atau Pertalite…??

Satu-satunya yang masih Mtb percaya hingga sekarang ialah bahwa Pertamax lebih bersih dibanding Premium. Bahkan Pertamina mengklaim bahwa Pertamax mengandung formula pengikat air yang dapat melarutkan (jika ada) sedikit air yang ikut tarbawa masuk ke dalam tangki.

Itu pun, Pertamax hanya bersih saja dan tidak membersihkan. Artinya, jika ada ajaran sesat yang mengatakan bahwa menggunakan Pertamax dapat membersihkan endapan kotoran dalam ruang bakar, ya artinya ajaran itu memang sesat.

Dulu, Pertamina mengatakan bahwa Pertamax Plus mengandung additive pembersih mesin. Entah dengan Pertamax Turbo sekarang ini. Tapi yang jelas, Pertamax tidak mengandung additive pembersih mesin. Artinya, Pertamax hanya menjaga kebersihan tapi tidak membersihkan kotoran yang sudah ada sebelumnya.

Apalagi kalau ada orang yang bilang, “pakai pertamax sebulan sekali buat bersihin mesin”… Waahhh,… udah jelas itu mah tahayul. Jangan percaya lah… takut musyrik. Wkwkwkwkwk…!!

Mtb sendiri sudah 4 bulan terakhir ini jadi pengguna setia Pertamax, meskipun motor Mtb cuma Honda Si Panci… tapi ya itu, tujuan Mtb untuk menjaga kebersihan injektor, saluran bahan bakar dan ruang bakar. Nyatanya secara performa, Mtb tidak merasakan perbedaan dengan ketika menggunakan Premium dan Pertamax.

Lantas, bagaimana cara mengetahui rasio kompresi mesin motor…??

Kalau untuk angka tepatnya sih Om Bro harus melihat di buku panduan motor Om Bro masing-masing. Atau bisa juga dengan mencari informasi spesifikasi teknisnya via internet. Tapi ada cara yang paling sederhana, yaitu dengan melihat sistem pendinginan mesin si motor.

Motor yang menggunakan radiator, berarti rasio kompresinya tinggi. Sedangkan yang berpendingin udara berarti rasio kompresinya rendah. Tapi dengan cara yang sederhana ini, Om Bro jadi ngga tahu angka rasio kompresinya secara tepat. (Mtb – Cara Merawat Motor yang Benar).

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: