16 Tugas dan Tanggung Jawab Waiter… Bukan Hanya “Melayani”

motorisblog.com – Tanggung Jawab Waiter. Bagi Anda yang baru lulus sekolah, mungkin masih asing dengan istilah “waiter / waitress”. Waiter / waitress adalah bahasa Inggris. Hahaha…!! Ya iya lah bahasa Inggris. Tapi bukan itu maksudnya.

Disini saya tidak akan menjelaskan waiters dalam pengertiannya menurut para ahli. Saya hanya akan menjelaskan dengan bahasa saya, dengan dasar pengalaman saya sendiri.

Secara sederhana, waiter adalah pelayan restoran yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan waitress adalah perempuan. Namun demikian, istilah waiter tidak terpaku hanya untuk pelayan restoran saja. Istilah itu di gunakan juga untuk pelayan karaoke, pelayan di kapal pesiar, dan sebagainya.

Apa saja sih tugas (prosedur kerja) seorang waiter / waitress?

Mari kita bahas…

Dan supaya lebih singkat dalam penggunaan istilah, kita samakan waitress dengan kata waiter.

tanggung jawab waiter

1. Prepare sebelum mulai bekerja

Pada umumnya, seorang waiter sudah mulai bekerja (prepare) sebelum restoran buka. Prepare seorang waiter meliputi beberapa hal, di antaranya,

* Menata penampilan yang rapi dan sopan serta sesuai dengan tata tertib restoran

Setiap restoran memiliki tata tertibnya sendiri-sendiri. Namun secara umum memiliki persamaan dalam hal tatanan rambut, pakaian dan penampilan.

Untuk laki-laki, sudah pasti potongan rambut haruslah pendek. Selain itu juga tidak boleh memelihara kumis, cambang dan jenggot.

Dalam hal accesories, seorang waiter hanya diperbolehkan menggunakan arloji. Tidak diperbolehkan untuk mengenakan accesories seperti gelang atau kalung, apa lagi berpenampilan nyeleneh dengan memakai anting-anting.

Elu kira itu restoran sama kayak panggung musik rock? Hahaha…!!

Untuk perempuan, tergantung kebijakan restoran. Jika restoran mengijinkan waitressnya berambut panjang, maka pastikan rambut Anda terikat dengan rapi. Hal itu untuk menghindari rambut terjatuh pada makanan.

Memangnya ada yang begitu, Mas?

Ada. Beberapa kali saya mendapati kasus seperti itu. Dan itu harus benar-benar di jaga agar tidak sampai terjadi. Karena jika sampai Anda mengalami hal itu, bukan saja Anda akan kena teguran, tapi juga akan mencoreng citra restoran di mata customer.

Urusan accesories, waitress hanya diperbolehkan memakai anting-anting kecil. Tidak diperbolehkan memakai anting besar, kalung, gelang, apa lagi gelang kaki.

* Menata meja, memastikan meja bersih dan lengkap

Pastikan tidak ada kotoran / sisa makanan dari customer sebelumnya. Selain itu, periksa juga kelengkapan sendok dan garpu di meja (jika aturannya tersedia sendok dan garpu di meja). Tidak lupa rapikan juga posisi meja dan kursi. Jangan nyengsal nyengsol kayak goyangan penyanyi dangdut. Hahaha…!!

2. Stand by pada posisi yang tepat

Posisi yang tepat adalah berdiri di tempat yang bisa menjangkau seluruh meja secara sudut pandang. Hal itu dimaksudkan supaya Anda dapat segera merespon apabila ada customer yang memanggil.

Sementara Anda berdiri di posisi itu, harus ada juga waiter yang stan by di depan pintu.

3. Memberi salam (greating) pada customer dan membukakan pintu

Pada saat ada customer datang, Anda harus dengan sigap membukakan pintu dan memberi salam. Tanyakan dengan halus, meja mana yang akan dia pilih. Dan setelah dia memilih meja, Anda cek ulang. Pastikan meja yang di tuju dalam keadaan bersih dan lengkap.

4. Merekomendasikan menu favorit kepada customer

Setelah customer memilih meja, segera Anda berikan buku menu. Dan jika customer tersebut adalah customer baru, maka berikanlah rekomendasi menu favorit di restoran tersebut.

Tidak terbatas pada customer baru, Anda juga bisa menawarkan pada customer langganan, terutama jika Anda menu baru di restoran Anda.

5. Siaga jika customer belum siap untuk taking order (memesan)

Jika customer belum siap memesan, Anda tinggalkan dulu meja tersebut, namun tetap harus siaga pada posisi yang mudah terlihat. Hal itu untuk memudahkan customer pada saat memanggil Anda untuk mulai pesanan.

6. Mencatat pesanan dan memastikan (mengulang / repeat) pesanan customer serta menawarkan beverage (minuman)

Saat customer sudah siap memesan, segeralah hampiri. Catat pesanan dengan benar.

Setelah customer selesai memesan, sebutkan kembali menu-menu pesanan tersebut kepada customer. Hal itu untuk memastikan bahwa Anda tidak salah mencatat, dan customer sendiri tidak salah dalam menyebutkan pesanan yang di maksud.

Selain itu, tanyakan juga kepada customer, kapan mau di hidangkan minuman?

Yang saya alami, dulu, beda customer beda pula kemauannya. Ada yang minta minuman duluan, ada yang minta minumannya nanti saja.

7. Menyampaikan pesanan dengan cepat

Setelah selesai taking order, segeralah sampaikan pesanan ke kitchen (dapur) dan/atau pantry atau pada bartender. Selain itu, pastikan pesanan terhidang secara berurutan, mulai dari starter (makanan pembuka), disusul kemudian dengan main course (menu utama), dan terakhir menu penutup (dizerts).

Walaupun seringkali urutan itu sulit di lakukan pada saat ramai pengunjung, tapi setidaknya Anda jaga agar urutannya jangan terlalu kacau. Paling tidak, jangan sampai menu pembuka datang bersamaan dengan menu penutup.

Untuk membiasakan hal itu, mulailah belajar pada jam-jam sepi.

8. Membantu runner untuk mempercepat pelayanan

Ada kalanya sebuah restoran memiliki runner sendiri. Tugas seorang runner adalah mengantarkan pesanan ke meja customer dan menarik peralatan bekas makan dari meja customer. Tapi ada juga (bahkan lebih banyak) restoran yang menerapkan sistem kerja waiter sekaligus runner.

Jika Anda bekerja di restoran yang memiliki runner secara terpisah, pada saat jam sibuk (terutama week end), bantulah tugas runner supaya pelayanan kepada customer menjadi lebih baik.

9. Memperhatikan customer dengan seksama

Setelah selesai menghidangkan pesanan customer, bukan berarti tugas Anda sudah selesai. Anda harus tetap memperhatikan customer dengan seksama.

Sering kali saya temui customer yang membutuhkan bantuan waiter untuk extra spoon / fork (sendok / garpu), extra tissue dan lainnya. Bahkan tidak jarang juga customer yang mau menambah lagi pesanannya.

10. Menangani masalah

Ketika terjadi masalah, misalnya salah taking order, berusahalah untuk menyelesaikan masalah itu sendiri tanpa melibatkan captain, manager atau pun chef.

Contoh yang pernah saya alami,

Customer pada saat itu memesan dizerts (makanan penutup) dalam porsi besar. Tapi pada saat saya hidangkan menu tersebut, dia menolak dengan alasan bahwa dia memesan dalam porsi kecil (mungkin karena sudah kekenyangan oleh makanan yang lain).

Sebagai manusia biasa, saya merasa marah saat itu. Tapi sebagai seorang waiter, saya harus profesional dalam menghadapi customer, bahkan customer yang rewel seperti dia.

Langkah selanjutnya, saya buat pesanan baru dalam porsi kecil, dan saya bayar menu besar tadi dengan uang saya sendiri. Selesai. Tidak ada omelan dari customer atau pun dari atasan.

Tapi Mas Bro jadi rugi dong…?

Betul! Tapi kerugian saya tidak seberapa. Uang tip saya hari itu masih lebih dari nominal yang harus saya bayar.

Kecuali jika kesalahannya terjadi di bagian belakang. Misalnya chef salah membuat menu atau ada benda asing di dalam makanan.

11. Membantu janitor / runner membereskan meja sekaligus menawarkan menu penutup

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, jika Anda lihat customer sudah selesai makan, maka dengan mengatakan “permisi”, ambillah piring dan peralatan bekas makan yang lain. Sedikit membersihkan meja bila perlu.

Kemudian, ada kalanya customer tidak memesan makanan penutup pada saat taking order. Nah, jika Anda mendapati customer seperti itu, tawarkanlah menu penutup selagi Anda membersihkan meja.

12. Memberikan bill / tagihan kepada customer

Sesekali sih akan ada customer yang membayar billnya langsung ke kasir. Tapi tidak jarang juga customer yang memanggil Anda untuk meminta bill.

Berikan bill dengan menyebutkan nominalnya. Jangan memberikan begitu saja.

13. Mengucapkan terima kasih, membukakan pintu dan mempersilahkan customer untuk kembali berkunjung

Setelah customer selesai membayar, sigaplah untuk membukakan pintu keluar, mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan customer untuk berkunjung kembali di lain waktu.

14. Melakukan serah terima tanggung jawab dengan shift berikutnya

Setelah habis jam kerja, pastikan untuk melakukan serah terima dengan baik.

Misalnya…

Beri tahu teman di shift berikutnya jika ada pesanan customer yang belum di antar ke meja. Pastikan semua peralatan kerja ada dalam posisi lengkap, sehingga tidak akan terjadi saling menyalahkan ketika ada kekurangan pada peralatan.

Serta hal-hal lain yang perlu di serah terimakan.

15. Bertanggung jawab pada kelengkapan peralatan restoran dan membantu proses closing

Jika Anda bertugas di shift akhir, pastikan semua peralatan kerja lengkap. Jika ada kekurangan, maka bertanggung jawablah dan konfirmasikan pada shift awal di esok harinya.

Selain itu, bantu juga captain Anda dalam proses clossing. Kalau perlu, bantu chef memastikan bahwa semua kompor telah mati. Intinya, pastikan restoran dalam kondisi aman saat Anda tinggalkan.

16. Menghitung uang tip

Hahaha…!!

Buat nambah-nambah poin. Padahal tidak ada dalam prosedur kerja waiter / waitress.

Dan memang inilah salah satu kelebihan bekerja sebagai waiter. Anda akan mendapatkan uang tip di samping gaji yang Anda terima setiap bulan.

Namun begitu, saya juga beberapa kali mendapati pengakuan teman sesama waiter di restoran lain yang gajinya di bawah UMK setempat. Jadi istilahnya, uang tip inilah tambahan untuk mencapai UMK.

Sekedar tambahan,

Selain poin-poin tersebut di atas, ada kalanya seorang waiter juga harus menyebarkan brosur di depan restoran. Tapi bukan di sebar sembarangan di tanah. Hahaha…!!

Maksudnya, sebarkan brosur pada orang-orang yang melintas di depan Anda. Tapi hal itu hanya di lakukan pada jam-jam sepi saja.

***

Tambahan lagi,

Berdasarkan apa yang saya lihat dan rasakan, waiter ini menjadi salah satu bidang pekerjaan yang kurang di minati. Hal itu dapat Anda lihat dengan banyaknya iklan lowongan waiter di koran-koran pada akhir pekan. Saya juga melihat dan merasakannya pada saat saya ada di profesi itu. Banyak di antara teman-teman saya yang tidak bertahan lama menjalani profesi sebagai waiter.

Dapat dipahami karena seorang waiter justru harus sibuk pada saat week end. Waktu dimana bidang pekerjaan lain justru libur dan santai. Apalagi bagi perantau. Pada hari Lebaran, mereka harus tetap bekerja.

Nggak bisa mudik…!!

Tapi Anda tidak perlu berkecil hati. Ada banyak hal yang menjadi kelebihan seorang waiter. Anda akan mendapatkan lebih banyak ilmu dibanding orang yang kerja kantoran. Saya sendiri menjalani profesi ini selama 3 tahun. Lumayan lama kan?

Oke… Demikianlah dari saya. Semoga bermanfaat. (Mtb)

20 tanggapan untuk “16 Tugas dan Tanggung Jawab Waiter… Bukan Hanya “Melayani”

    • 23 Mei 2018 pada 09:01
      Permalink

      Makasih kembali. Semangat terus ya…

      Balas
  • 3 September 2018 pada 22:52
    Permalink

    Luar Biasa Sangat Membantu sekali

    Balas
    • 3 September 2018 pada 23:59
      Permalink

      Makasih, Om Bro. Semoga bermanfaat.

      Balas
  • 30 Januari 2019 pada 02:52
    Permalink

    berfaedah berbagi pengalaman . salam sejahtera
    #DADAN

    Balas
    • 30 Januari 2019 pada 10:43
      Permalink

      Salam sejahtera Om… Semoga bermanfaat.

      Balas
    • 15 Juni 2019 pada 03:39
      Permalink

      Terimakasih Tipsnya Om . Sangat membantu 😀
      Saya juga bekerja sebagai waiter sudah hampir 3 tahun, tentu banyak pengalaman pahit manisnya. Sebenrnya saya pengen sekali mencoba karir dibidang industri lain, seperti kantoran misalnya hehhehee
      Kira2 bisa gak ya om, kerja di bidang lain yang lebih mumpuni , walau hanya pengalaman sebagi waiters ?
      Mohon sarannya,

      Terimakasih

      Balas
      • 15 Juni 2019 pada 22:20
        Permalink

        Bisa aja Sist… Sy juga dari restoran kemudian pindah kerja jadi staff administrasi. Padahal sebelumnya sy ga ada basic administrasi.

        Modal sy cuma bisa mengoperasikan komputer (ms.office), dan kemauan yang keras.

        Selama 3 th jadi waiter, sy terus kirim lamaran, setidaknya 2 lamaran dlm seminggu. Bisa dibayangkan, berapa lamaran yg sy kirim dalam 3 tahun?? Hingga akhirnya ada salah satu di antara lamaran tsb yang diterima.

        Tapi selama sy blm dpt kerja lain, sy tetap bertahan dan menikmati kerja sy sbg waiter…

        Intinya ya kemauan dan terus berusaha. Jgn putus asa jika hingga ratusan lamaran blm juga ada yg diterima.

        Balas
        • 12 Agustus 2019 pada 07:10
          Permalink

          Wow Sangat bijaksana pemikiran nya dan Cerdik… Good Job brother. Sukses selalu :’)

          Balas
          • 12 Agustus 2019 pada 22:15
            Permalink

            Amiin… Makasih Om…

  • 16 April 2019 pada 12:45
    Permalink

    Mkasih kak infonya, cuman mau tanya kenapa waiter akan mendapatkan lebih banyak ilmu dibanding orang yang kerja kantoran,?

    Balas
    • 16 April 2019 pada 23:39
      Permalink

      Secara sederhananya begini…

      Seorang yang punya basic kerja lapangan, hampir bisa dipastikan dia akan bisa juga kerja kantoran. Bisa menjalankan administrasi perusahaan, bahkan bisa menjadi pimpinan perusahaan.

      Kenapa??

      Karena dia tau betul bagaimana kondisi dilapangan.

      Tapi seorang yang basicnya dari kantoran, belum tentu dia akan faham kondisi di lapangan. Jika pun dia menjadi pimpinan perusahaan, maka kepemimpinannya hanya berdasarkan teori semata.

      Dengan kata lain lagi…

      Seorang pemimpin yang berasal dari bawah, maka ia akan mampu menyelesaikan masalah dari bawah hingga ke atas. Tapi seorang pemimpin yang terlahir sudah di atas, sulit untuk dia memahami dan menyelesaikan masalah yang timbul di bawah.

      Begitu sekilas gambarannya.

      Balas
  • 20 April 2019 pada 09:05
    Permalink

    Mantap mas bro, makasih info’a
    Emang agak berat kaya’a jd waiters tp klo ud terbiasa tanggung jwb bkn lah hal berat dan bisa kepake buat d msa mendatang

    Balas
    • 20 April 2019 pada 22:26
      Permalink

      Sama-sama Om… Makasih udah singgah di blog sederhana ini…

      Balas
  • 20 Mei 2019 pada 20:51
    Permalink

    Saya baru keterima kerja di restoran ,trus saya di tetapkan jadi waiters dan itu saya belum pernah pengalaman kerja sebelum nya . saya orang nya pemalu atau bisa disebut juga suka grogi,cara ngatasinnya gmna y pak

    Balas
    • 20 Mei 2019 pada 22:57
      Permalink

      Aduh… Saya ngga punya tips-nya eung. Saya juga sama, dulu. Pas baru jadi waiter, saya termasuk orang yang lambat dalam menguasai perkerjaan sebagai waiter.

      Ngga pede… Malu mau nemuin customer. Tapi karena biasa, karena tiap hari dikerjakan, lama-lama jadi bisa sendiri. Malahan lama-lama saya sering bantu membimbing waiter baru, meskipun saya ngga punya jabatan apa-apa di restoran itu.

      Intinya sih bangun kepercayaan diri. Seminggu pertama kita pasti belum tau apa-apa. Nanti lama-lama kita tau dengan sendirinya.

      Balas
  • 15 Agustus 2019 pada 00:05
    Permalink

    Sy waiter di gokana ramen dan teppan..

    Sy sangat menyukai pekerjaanku saat ini sebagai waiter dimana dasar pribadi sy sebenarnya pemalh dan pendiam.. Tp pas keterima krj 1 minggu pertama mulai beradaptasi sampe skrng basic pemalu dan pendiam itu berubah menjadi pribadi yg mudah bergaul senang berinteraksi dgn palanggan maupun orang2 duar restoran. .Sy banyak mendapatkan ilmu penting setelah bekrj ditempat itu. Bkn cuma praktek sj yg harus diterapkan tp ada materi juga bisa diamb disana. .

    Balas
    • 15 Agustus 2019 pada 02:38
      Permalink

      Nah, itulah salah satu kelebihan bekerja sebagai waiter… Selain ilmu yang kita dapat,, pergaulan pun jadi lebih luas.

      Balas
  • 15 Agustus 2019 pada 10:43
    Permalink

    Mantab mas bro,,kalau saya baru 3 bln an kerja sbg casual on call alias freelance..tp kendala yg saya dptkan setting banquet setiap hotel slalu ada perbedaan…dan tentu saja kita sering mndapat kendala komentar atau teguran yg intinya terlihat krg pengalaman bidang tsb,menurut pendapat anda apakah saya terus casual on call gini atau cari yg menetap ya mas broo…makasih atas ilmu nya….

    Balas
    • 15 Agustus 2019 pada 22:40
      Permalink

      Sebenarnya freelance lebih enak,, lebih bebas. Tapi memang yang judulnya usaha sendiri, ada kalanya kita blm siap segalanya. Sy juga bertahun-tahun kerja di perusahaan orang,, sampai akhirnya sy menemukan jalan usaha sendiri.

      Nah,, ilmu dari saat kerja itulah yang saya ambil untuk bisa punya usaha sendiri. Meskipun bidangnya lain,, sebagian dari ilmu-ilmu yang sy dapat dari dunia kerja bisa bermanfaat saat sy sudah memulai usaha sendiri.

      Intinya saran sy,, nikmati dulu dunia kerja sampai kita benar-benar mantap untuk jadi freelance. Sebisa mungkin memulai usaha saat kita masih kerja. Jadi ketika misalnya usaha kita belum berhasil,, kita tidak akan panik karena kita masih kerja.

      Nanti setelah usahanya berjalan normal dan berkembang,, barulah resign dari tempat kerja.

      Dan jangan menyerah jika Om Bro gagal dalam usaha. Coba lagi dan lagi sampai berhasil. Sy juga pernah beberapa kali gagal, tapi sy ngga berhenti atau nyerah begitu saja.

      Jika dirasa usaha yang saat ini tengah Om Bro jalani terlalu berat untuk maju,, cari terus peluang usaha yang lain. Coba bidang usaha yang lain. Yang penting satu itu,, jangan berhenti kerja sebelum usaha Om Bro berkembang dengan baik.

      Dengan kata lain,, mulailah dari usaha sampingan yang bisa dijalankan sambil Om Bro bekerja di perusahaan lain.

      Balas

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: